
Setelah keluar dari kamar Ellea Edric langsung pulang ke apartemen malam itu juga. Untuk apa dia menginap di mansion, yang ada bisa tersulut emosi kembali saat melihat Mom Linn.
Pria itu tidur di kamar bekas Deandra, baru beberapa menit bisa memeluk istrinya sekarang sudah terpisah lagi. Rindunya belumlah terbayar dan sekarang harus bersabar agar bisa bersama dengan wanita yang sudah memberikan warna baru dihidupnya.
Kenapa ia sangat bodoh sampai melakukan kesalahan besar hanya karena merasa bersalah pada Alice. Dan kini harus menanggung akibatnya. Bagaimanapun caranya ia akan mengambil kembali istrinya itu. Edric merasa hampa tanpa Deandra.
...🌹🌹🌹 ...
Sudah satu bulan ini Edric hanya bisa mengawasi Deandra dari kejauhan. Kemanapun istrinya itu pergi selalu diikuti dua orang pengawal. Datang ke mansion Adley pun ia selalu diusir Dad Tian.
Hari ini Edric sudah tidak bisa menahan perasaan rindunya lagi. Ia sudah mengatur siasat sedemikian rupa untuk menculik sang istri. Hanya dengan cara seperti ini Edric bisa melepaskan rindu.
"Sweetheart," Edric mencegat Deandra yang ingin masuk ke supermarket. Ia langsung menggendong sang istri ke mobil saat orang suruhannya berhasil mengelabui pengawal Deandra.
"Edric, kau mau membawaku kemana?" Jerit Deandra karena terkejut tiba-tiba tubuhnya melayang diudara.
"Sttt, jangan banyak bergerak Sayang kau bisa jatuh." Edric membuka pintu mobil dengan satu tangan lalu memasukkan Deandra dan memasangkan sabuk pengaman.
__ADS_1
Deandra yang dipanggil Edric dengan manis hanya bisa menahan seyuman. Ia juga merindukan prianya ini.
"I miss you," ucap Edric lalu mengecup singkat Deandra di bibir.
"Kau ingin menculikku kemana Edric?" Tanya Deandra ulang.
"Kita pulang ke apartemen," jawab Edric dengan santai kemudian menjalankan mobilnya.
"Kau tidak takut pada Dad Tian?" Pancing Deandra.
"Jelas Dad-ku manusia Edric," Deandra mencubit pipi Edric gemas.
"Jangan dicubit tapi dicium Sweetheart, kangen." Rengek Edric manja, sungguh pemandangan yang sangat langka Deandra temukan. Suaminya itu bertingkah manja di depannya.
"Aku akan menciummu kalau kau berani membawaku pulang ke mansion Dad Tian."
"Biar aku yang menciummu, kau cukup diam dan menikmatinya." Edric mempercepat laju kendaraannya. Sudah tidak sabar ingin mencumbu kekasihnya itu. Kalau perlu sekali semai langsung jadi anak biar Dad Tian dan Dad Harry tidak memisahkan mereka lagi.
__ADS_1
"Ah kau pengecut," goda Deandra sengaja memancing emosi Edric.
"Biar saja aku pengecut," Edric mencuri satu kecupan di pipi sang istri. Ia tidak ingin susah-susah meladeni Deandra. Yang dia inginkan sekarang, menghempaskan wanitanya itu ke tempat tidur dan mencumbunya selama tiga hari tiga malam tanpa stop.
"Ish, aku tidak mau bibir bekasan orang lain," Deandra pura-pura merajuk menghapus bekas ciuman Edric dengan tisu.
"Hei, bibir ini bekas kau. Siapa lagi yang aku cium kalau bukan kau." Gemas, Edric menarik Deandra dan mengapitnya di ketiak.
"Kau bekas ulat bulu aku tidak mau dekat-dekat nanti gatalan!"
"Tidak ada ulat bulu Sweetheart," Edric berucap serius mengecup puncak kepala Deandra.
"Aku tidak percaya!!" Deandra melepaskan diri dari Edric.
"Sweetheart aku serius, hanya kau yang ada disini." Edric membawa tangan Deandra ke dadanya. "Aku hanya milikmu, percayalah."
"Aku tidak bisa percaya padamu Edric!!" Meskipun hatinya ingin percaya tapi logika Deandra mengatakan tidak. Tidak ingin memperdalam luka di hatinya lagi.
__ADS_1