
Di sebuah hotel berbintang yang sedang mengadakan acara ulang tahun salah satu perusahaan properti ternama Tanah Air Edric datang bersama asistennya. Di tempat itu sudah terkumpul para pengusaha muda.
“Maaf terlambat,” ucapnya basa-basi dengan senyuman kaku.
Kalau tidak ingin menyelidiki siapa yang memegang kendali atas perusahaan Wijaya Group yang berusaha menjatuhkan perusahaannya, Edric tidak akan datang ke tempat ini. Lebih baik ia menemani istrinya yang sedang manja-manjanya itu di rumah.
Sejak menolak bekerjasama dengan Wijaya Group, banyak para pesaing yang gencar ingin menjatuhkan perusahaannya. Namun sayang, Edric sudah waspada sebelum hal itu terjadi. Tidak semudah itu meluluh lantahkan perusahaannya untuk yang kedua kali.
“It’s okay, no problem ayo minum-minum dulu bro.” Ujar tuan rumah memberikan segelas vodka pada Edric.
"Tidak untuk sekarang," tolak suami Deandra itu dengan halus. Ia tidak akan menyentuh minuman beralkohol.
“Jov sahabat lo ini cemen sekarang. Sejak married jadi jarang ngumpul dan keluar rumah,” goda salah satu teman dekat Edric.
Jovie hanya menanggapi dengan senyuman. Mendekati pria yang dulu sangat dekat dengannya. Ia tahu Edric masih marah dan menganggapnya musuh sampai sekarang. “Ambilkan air mineral,” pintanya pada pelayan.
"Minumlah, kau pasti tidak mau mabuk malam ini." Jovie memberikan air mineral yang baru didapatnya dari pelayan.
__ADS_1
Karena tidak enak dilihat oleh banyak orang Edric terpaksa mengambilnya. Setelah memastikan air itu masih tersegel ia baru meminum, dengan mata yang meneliti ke seluruh ruangan.
Edric sudah memerintahkan Zain untuk berkeliling, mengawasi keadaan sekitar dan mengamati Alice bertemu dengan siapa saja. Ya targetnya kali ini adalah Alice. Wanita itu pasti hadir disini. Dan ia harus membuat list siapa saja yang memungkinkan berdiri di belakang wanita itu. Apakah ini murni olah Wijaya Group atau ada orang lain dibalik semuanya yang sedang mengadu domba mereka.
Saat Edric sibuk membaur di tengah pesta menyapa rekan-rekan bisnisnya. Sementara di mansion Hansel Deandra seperti tidak ada puasnya memakan ice cream.
"Sayang, Dea sudah terlalu banyak makan ice cream." Tegur Dad Harry lembut, tidak menyangka menantunya sampai menghabiskan dua cup besar ice cream dengan merk ternama.
Wanita hamil itu menggelengkan kepala ingin mengambil cup yang ketiga. Namun lebih dulu disembunyikan Mom Limm. Ia membawakan tiga cup ice cream agar menantunya itu bisa memilih mau rasa yang mana, bukan untuk dihabiskan semua.
“Daddy lagi,” rengek Deandra.
"Aku nunggu Edric dulu baru tidur," tolak Deandra masih dengan wajah yang masam.
“Sebentar lagi Edricnya pulang. Dea tidur duluan ya Sayang,” bujuk Dad Harry.
Lagi-lagi Deandra menggelengkan kepala, “mau dipeluk.” Ucapnya yang tidak segan-segan bersikap manja pada sang mertua.
__ADS_1
“Tidur sini,” pria paruh baya itu menepuk pangkuannya dengan sabar menghadapi sang menantu. Deandra menurut membaringkan kepalanya di pangkuan Dad Harry.
Perlahan wanita yang tengah hamil tua itu akhirnya terlelap. Beruntungnya dia memiliki mertua yang sangat menyayanginya. Sementara sang suami yang berada di keriuhan sebuah pesta masih berbaur dengan rekan-rekannya.
"Minum bro, non alkohol." Tawar seorang pria yang Edric tidak terlalu akrab, memberikan segelas sirup yang langsung disambut Edric.
Semakin malam pesta itu semakin ramai, Edric masih belum mendapatkan informasi apapun dari Zain. Dan sepanjang pesta ia tidak melihat batang hidung Alice. Tanpa sadar dialah yang sedang diawasi dan masuk dalam perangkap.
“Edric!!” Teriak Deandra yang baru terlelap. Wanita hamil itu terbangun dengan napas tersenggal-senggal. Ia seperti baru saja menangkap Edric yang hampir jatuh ke jurang. Entah itu mimpi atau bukan, karena belum sampai sepuluh menit matanya terpejam.
“Sayang kenapa?” Mom Linn yang masih berada di samping Deandra membantunya bangun.
“Daddy cepat suruh Edric pulang!!” Pinta Deandra dengan perasaan tidak karuan. Dapat merasakan kalau suaminya sedang dalam bahaya.
“Ada apa Sayang?” tanya Mom Linn ulang menghapus keringat yang membasahi kening menantunya.
“Edric,” Deandra membawa tangan Mom Linn ke dadanya yang berdebar-debar. Ia tidak berani melanjutkan ucapannya karena takut kejadian.
__ADS_1
Mom linn memeluk Deandra untuk meredakan kecemasannya. Sedang Dad Harry langsung menghubungi Edric, namun tidak ada jawaban begitu juga dengan Zain. Membuat Deandra semakin cemas dan minta diantar menyusul Edric.