
“Elle,” panggil seseorang yang sangat Ellea kenal suaranya. Baik Ellea maupun Ron sama-sama menegang mendengar suara itu.
"Kak Jo kenapa disini?" Tanya Ellea gugup, sangat mustahil mereka kebetulan bertemu di tempat ini. Sementara Ron menatap pria itu tanpa ekspresi setelah membayar tagihan.
"Menjemputmu pulang," Jovie mengulurkan tangan pada Ellea. Ia yakin gadis itu pasti senang mendapat perhatian darinya.
"Maaf Tuan, Nona Ellea pergi bersama saya. Jadi saya yang harus mengantarnya pulang," sela Ron dingin. Ia tidak bisa membiarkan Nona Ellea pergi bersama orang yang sudah mengkhianati tuannya.
"Aku tidak sedang meminta ijin padamu Ron!" Geram Jovie karena asisten Edric itu mencampuri urusannya.
"Aku pulang bersama Ron saja Kak," Ellea tersenyum pada Jovie lalu menggandeng tangan Ron. Bergegas keluar dari toko perhiasan karena tidak mau jadi pusat perhatian.
"Baby, aku yang akan mengantarmu pulang!" Kekeuh Jovie menarik tangan gadis yang sudah mengganggu ketenangannya akhir-akhir ini.
"Tuan lepaskan, Nona Ellea sedang sakit." Ron melepaskan cengkraman tangan Jovie yang menahan pergelangan tangan Ellea dengan kasar.
"Ron, kau berani denganku!" Jovie menatap tajam Ron seolah ingin mengajak perang.
"Saya tidak punya urusan dengan anda Tuan. Tugas saya membawa Nona Ellea pulang," jelas Ron penuh penekanan. Ia bisa dihabisi Tuan Edric kalau membiarkan Nona Ellea pulang bersama pria itu.
Ron membawa Ellea dengan cepat keluar dari pusat perbelanjaan. Sesampainya di mobil gadis itu berkeringat dingin dengan wajah semakin pucat.
"Jangan salahkan saya kalau anda harus menginap di rumah sakit malam ini." Ron berdecak memasangkan sabuk pengaman.
__ADS_1
"Jangan bawa aku ke rumah sakit," mohon Ellea yang membuat Ron tidak tega.
Asisten Edric itu membersihkan keringat yang membasahi kening Ellea dengan tisu. Setelahnya mengambilkan air mineral, "minum dulu."
Ellea tidak membantah lagi. Ia baru merasakan lelah sekarang. Apa ini efek bertemu dengan pria yang sudah membuatnya patah hati.
"Istirahatlah, nanti sampai mansion saya bangunkan." Ujar Ron setelah menerima kembali botol yang isinya hanya berkurang sedikit. Ellea menganggukkan kepala pelan. Ia menutup pintu mobil, namun ditahan Jovie yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
"Baby, are you okay?" Jovie menggeser Ron, ingin memastikan gadisnya itu baik baik saja.
"Aku baik-baik saja Kak," jawab Ellea dengan tersenyum. "Aku pulang dulu," pamitnya.
"Aktifkan ponselmu atau aku akan menerobos mansion Hansel." Ucap Jovie tidak main-main, ia ingin memastikan apa yang terjadi pada hatinya. Setelah kejadian malam itu ia dihantui oleh bayangan Ellea.
Ellea tidak menjawab meminta Ron untuk segera mengantarnya pulang. Ia tidak mengerti dengan tingkah aneh Jovie. Kenapa pria seusia kakaknya itu seolah sangat peduli padanya, padahal sudah menolaknya.
"Nona, kita sudah sampai." Ron membangunkan Ellea yang ia pikir tertidur.
"Hm, Ron kepalaku pusing." Keluh Ellea sambil memijat kepalanya yang terasa sangat berat.
Ron yang sudah berdiri di samping gadis itu bergegas menggendong Ellea ke kamar.
"Anda ini sangat keras kepala," decaknya setelah membaringkan Ellea di tempat tidur. Ia meminta Pak Man untuk menyiapkan makan siang untuk nona-nya.
__ADS_1
"Ron aku ini sedang sakit. Jangan dimarahi," gumam Ellea pelan. Kemana hilangnya energi yang sangat semangat dibawanya shopping tadi. Tubuhnya langsung lemas saat melihat Jovie.
"Saya ini khawatir, bukan marah." Ron menyapu keringat yang kembali mengucur di kening Ellea. Setelahnya ia mengompres kening gadis itu.
"Ambilkan ponselku di tas sana," tunjuk Ellea pada tas yang sudah tiga hari tidak ia sentuh.
"Anda sedang sakit tidak boleh main hp!" Beritahu Ron dengan tegas. Ia tidak suka Nona Ellea terus memikirkan pria brengsek seperti Jovie.
"Ck, kau itu cuma menjagaku sementara Ron. Aku tidak perlu minta ijin pada kau untuk melakukan apapun, karena kau bukan suamiku!!" Ucap Ellea lemah, namun terdengar emosi.
"Justru karena saya sedang menjaga anda jadi melarang main hp Nona. Kalau Tuan Edric tahu anda menghubungi Tuan Jovie pasti akan sangat marah." Jelas Ron, "kalau anda istri saya mana mungkin saya beri kesempatan bertemu dengan pria itu lagi." Lanjutnya dengan posesif.
"Terserah kau saja. Mana kalungku," kesal Ellea. Para pria memang tidak pengertian, apalagi Ron yang kerjaannya hanya mengikuti Edric kemana-mana. Membuang waktunya saja berbicara masalah perasaan dengan pria itu.
Ron tahu nona-nya itu tengah marah padanya. Ia mengambilkan paper bag dan memberikannya.
"Pasangkan untukku!" Titah Ellea setelah membuka kotak beludru.
Dengan senang hati Ron membantu gadis itu bangun dan memasangkan kalungnya.
"Cantik," gumamnya. Walau ada keinginan mengelus lembut pipi mulus adik tuannya itu namun Ron tidak berbuat lancang. Berada sedekat ini membuatnya ingin memeluk Ellea dan memberikan rasa nyaman pada gadis cantik itu.
"Aku memang cantik Ron," sela Ellea dengan percaya diri. "Kau tidak langsung jatuh miskin karena membelikanku kalung inikan?"
__ADS_1
"Kalau saya jatuh miskin masih bisa kasbon pada Tuan Edric," sahut Ron acuh.
"Benar juga," Ellea membaringkan tubuhnya kembali kemudian memejamkan mata. Ia yakin Ron tidak akan berani berbuat macam-macam padanya. Lagian pria itu sudah memiliki wanita di hatinya, jadi tidak akan tergoda padanya.