
"Pintarnya cucu Nenek," puji Ressa sambil mengelus-elus perut buncit Deandra saat wanita hamil itu tidak memuntahkan makanan yang masuk ke perutnya. Walau bukan darah dagingnya, ia sangat menyayangi Deandra.
“Mommy aku mau makan, suapin!” Seru Rain tiba-tiba datang mengganggu Deandra yang tengah asik makan.
Edric dan Tian yang sedari tadi mengamati dua perempuan itu dari jauh reflek menepuk jidat bersamaan.
“Duduk sini Sayang,” panggil Ressa lalu mengambilkan makanan untuk putranya. Walau tahu itu hanya akal-akalan Rain untuk membuat sang kakak kesal, tapi ia tetap bersikap santai.
“Suapin!” Bocah laki-laki itu melipat tangan di depan dada memasang wajah angkuh dengan sorot mata mengejek pada Deandra.
“Iya, gantian sama kakak ya anak Mommy Sayang.” Ibu satu anak itu mengusap-usap kepala sang putra.
“Ck, sudah besar masih disuapin,” Raindra berdecak.
“Mommy kan nyuapin dedek bayi, dedeknya masih belum bisa makan sendiri.” Jawab Ressa cepat sambil menunjuk perut Deandra, sebelum calon ibu muda itu yang menyahut dengan kepala bertanduk.
“Kan ada Mommy-nya, ngapain Mommy yang nyuapin. Sama-sama punya tangankan?” Jawab bocah itu ketus.
__ADS_1
“Sama kayak Rain, dedek juga pengen disuapin sama Mommy.” Jawab Ressa sambil mengulum senyum, terus menyuapi Deandra agar tidak ikut menyahut. Kalau putrinya ikut menyahut, bisa dipastikan akan terjadi perang susulan kembali.
Bocah berusia tujuh tahun itu terdiam tidak melakukan protes lagi. Meneliti perut Deandra lalu menempelkan tangannya disana. Deandra sudah mengangkat tangan ingin menepis tangan sang adik, namun ditahan Ressa.
“Mommy hidup, kakinya gerak-gerak!!” Pekik Raindra saat merasakan tendangan dari perut sang kakak.
“Dedeknya memang hidup Sayang, makanya perlu makan. Coba Adek yang suapin dedeknya,” saran Ressa yang disambut antusias oleh bocah kecil itu. Namun ditolak Deandra dengan cepat.
"Aku gak mau!"
Dua orang pria yang masih menikmati drama di ruang makan itu sampai menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Siapa yang akan lebih dulu menangis dan berteriak.
"Tuhkan rasanya sama," Ressa berujar seraya membersihkan bekas nasi di sudut bibir sang putri. Mudah saja baginya menjinakkan anak-anak yang persis copyan bapaknya ini.
"Sekarang peluk sayang adeknya," beritahu calon nenek itu dengan lembut yang segera dituruti Deandra. Begitu juga dengan Raindra yang menempelkan telinganya di perut sang kakak.
Tentu saja pemandangan itu membuat Tian dan Edric menghela napas lega. Mereka keluar dari persembunyian, mendekat ke meja makan.
__ADS_1
"Anak Daddy pintar," ujar Tian ikut memeluk putra-putrinya yang masih berpelukan. Pria itu tersenyum bangga pada sang istri yang selalu bisa mengatasi mereka yang keras kepala. Ya mereka, karena mereka bertiga memang keras kepala.
"Daddy bau!" Protes Deandra mendorong tubuh sang ayah sambil memencet hidungnya agar tidak muntah-muntah.
"Daddy sudah mandi Sayang, ini kan parfum yang sama dengan yang Daddy pakai pagi tadi." Tian mengangkat tangan mencium aroma yang keluar dari keteknya, hanya wangi parfum yang menyapa hidungnya. Tidak ada bau aneh, dia juga tidak ada makan jengkol.
"Jangan dekat-dekat Daddy bau," usir Deandra dengan suara sengau karena hidungnya masih dipencet.
"Tapi Daddy gak bau Honey, coba Mommy cium bau gak?" Ujar Tian mendekati istrinya karena tidak terima dibilang bau.
"Mungkin Dea gak suka wangi sabun yang Daddy gunakan," Ressa menyuruh sang suami menjauh daripada Deandra yang penciumannya sangat sensitif itu muntah-muntah.
"Bukan, Daddy bau busuk!" Seru Deandra bangkit dari kursi mendekati Edric.
"Daddy gak ada kentut Sayang," protes Tian masih tidak terima setelah mengerti bau yang putrinya itu maksud.
"Adek yang kentut," aku Raindra dengan wajah tanpa dosa diikuti cengiran lebar setelah membuat sang daddy tertuduh.
__ADS_1
Pengakuan Raindra sontak membuat tawa Edric pecah. Begitu juga dengan sang mommy, Ressa tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa melihat wajah kesal sang suami.
"Hujan!!" Geram Tian dengan mata melotot hampir menyembul keluar.