
"Aarrgghh!!" Edric mengumpati kebodohannya sendiri. Ia sampai tidak bisa tidur semalaman memikirkan Deandra. Istrinya itu tidak ada di mansion.
Edric juga sudah mengunjungi kediaman Dad Tian dan Dad Denis. Tapi Deandra tidak ada disana. Yang ada dia membuat para mertuanya itu khawatir.
"Tuan, saya sudah menemukan keberadaan Nona Alice." Lapor Ron pada Tuan Edric yang pagi ini terlihat sangat kacau.
"Sekarang aku tidak butuh informasi dimana Alice. Kau cari keberadaan istriku!!" Perintah Edric.
"Selalu saja menyusahkan aku!" Umpat Ron dalam hati, sudah punya istri cantik masih saja mengurusi ulat bulu liar itu.
"Kau meledekku Ron? Mau ku tendang sekarang juga ke sungai Nil!"
"Ti-dak Tuan, mana berani saya meledek anda." Ucap Ron gagap, bosnya ini pintar membaca pikiran orang tapi bodoh membaca perasaannya sendiri. Dimana ada orang yang tidak cinta tapi kalang kabut ketika ditinggalkan.
"Bagus, sekarang lakukan tugasmu. Temukan Dea secepat yang kau bisa! Jangan pernah kembali kalau tidak membawa informasi keberadaan Dea."
Ron mengangguk, menelan salivanya susah payah. Kalau tidak ketemu bagaimana? Tanyanya pada diri sendiri. Setelah keluar dari ruangan atasannya pria itu menghela napas dengan kasar.
__ADS_1
Sementara di kantor Tian, Denis memberikan ponselnya sambil geleng-geleng kepala. Tadi pagi menantunya kalang kabut mencari Deandra yang pergi dari mansion. Sampai membuat Aruna kepikiran, tapi ternyata setelah ia melacak keberadaan putrinya itu masih di mansion Hansel.
Tian menanggapi dengan tawa kecil, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. "Tunggu saja apa yang ingin kedua gadis itu lakukan."
Putrinya itu tidak bodoh, pasti tahu kalau ingin pergi ke ujung dunia sekalipun mereka akan dapat menemukannya. Tidak lama setelah berucap seperti itu Tian mendapatkan panggilan dari putri bungsu Harry.
"Lihatlah apa yang aku bilang," pria berkepala empat itu menjawab telepon dengan kekehan.
"Dimana kau menyembunyikan kakak iparmu?" Tanya Tian to the point sebelum Ellea mengucapkan kata-kata.
"Rupanya Uncle sudah tahu," Ellea tertawa gelak. "Aku mau Uncle menyiapkan tempat untukku dan Dea yang tidak diketahui Edric keberadaannya. Kami ingin kabur dari mansion ini." Seru gadis itu dengan semangat menggebu-gebu.
"Apa kau tidak tahu siapa yang ingin kau bawa kabur?" Sambung Tian dengan nada sombong.
"Tanpa aku jelaskan pun Uncle pasti tahu jawabannya kenapa." Ellea berdecak, kalau bukan orang tua sudah ia balas dengan teriakan.
"Apa yang kau inginkan, dan apa untungnya untuk putriku jika ikut denganmu. Aku bahkan bisa melindungi putriku sendiri."
__ADS_1
"Uncle, aku tidak sedang minta diwawancara sekarang. Waktu kami hanya sedikit, Uncle akan tahu sendiri jawabannya nanti. Atau Uncle sebenarnya memang sudah tahu jawabannya."
"Kau ini sama persis dengan kakakmu!" Decak Tian karena Ellea dengan lancar menjawab perkataannya.
"Dan aku juga baru tahu ternyata Uncle sama persis seperti putrinya. Like father like daughter."
"Yeach, aku pikir kau juga begitu, tidak ada bedanya dengan Dad-mu. Aku kirim alamat yang akan kalian datangi." Ujar Tian lalu memutus panggilan telepon sebelum dia dibuat emosi oleh gadis seusia putrinya.
Denis tertawa geli setelah Tian mengakhiri panggilan teleponnya. Dia mendengar semua percakapan itu karena di loudspeaker.
"Like father like daughter." Denis mengulang perkataan Ellea untuk mengejek Tian.
"Jangan lupa dia juga putrimu!" Decak Tian.
"Tentu saja dia putriku," Denis menjawab dengan yakin. Dia memberikan kasih sayang yang penuh untuk putri sambungnya itu tanpa membedakan perlakuan dengan putri kandungnya.
"Ada masalah apa sampai dua anak itu ingin pergi dari Edric?" Tanyanya penasaran.
__ADS_1
Tian mengedikkan bahu, putrinya itu tidak mau berterus terang. Tadi malam saja kalau tidak dipaksa pulang, tidak mau pulang ke mansion Hansel. Dia bisa tahu kalau kejadian yang terjadi di luar mansion. Tapi tidak bisa mengawasi kalau yang terjadi internal di dalam sana. Walau bisa saja kalau ia ingin melakukannya. Namun Tian menghargai privasi orang lain. Seperti privasinya yang juga tidak ingin diganggu.