
"Dimana kau menyembunyikan Elle?" Tuduh Edric pada Jovie. Usai melihat seluruh rekaman cctv di mansionnya ia tidak menemukan Ellea keluar dari mansion. Semua ini pasti sudah direncanakan, tidak mungkin adiknya itu bisa tidak terlihat di kamera pengintai. Pasti ada orang yang berada di belakang Ellea.
"Maksudnya?" Tanya Jovie bingung, Edric datang ke apartemennya hanya untuk menuduhnya menyembunyikan Ellea. "Aku sudah satu minggu ini tidak bertemu Elle," jujurnya yang tentu saja tidak dipercaya Edric begitu saja.
"Kau jangan bermain-main denganku, Jovie!!"
"Kalau kau tidak percaya geledahlah apartemenku. Aku tidak tahu dimana Elle," sahut Jovie serius. Ia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi gadis itu namun tidak tersambung.
"Duduklah dulu, kita cari Elle sama-sama." Jovie menghubungi Fredi untuk mengerahkan orang-orangnya mencari keberadaan Ellea. Ia belum sempat menemui gadis itu karena baru pulang mengunjungi Dad Johan dan Mom Desy.
Melihat Jovie menghubungi Fredi, Edric baru percaya kalau sahabat yang sudah ia anggap musuh itu tidak mengetahui keberadaan adiknya. Tanpa berpamitan pria itu meninggalkan apartemen Jovie.
Jovie menghela napas dengan berat, Edric masih marah padanya. Ia tidak tahu harus meminta maaf dengan cara apa agar Edric mau memaafkannya.
__ADS_1
"Baby, kau ada dimana?" Cemas Jovie. Ia khawatir Alice yang berbuat nekat menyakiti Ellea.
Sementara orang yang dikhawatirkan Edric dan Jovie itu sedang menikmati pesona alam Lembang yang sejuk khas udara pegunungan. Ketinggian tempat yang dikunjunginya membuat kerlap-kerlip lampu kota dan kilauan bintang di langit terlihat dengan jelas saat malam hari.
"Bisakah aku bertemu pangeran impian disini?" Celetuk Ellea, saat ini mereka sedang berada di tempat yang menyerupai kastil Eropa pada abad pertengahan ala Disneyland.
"Bisa saja, kalau kau bisa melupakan Kak Jo-mu itu." Jawab Deandra, adik iparnya ini memaksanya jalan-jalan keluar dari villa. Padahal dia sedang malas jalan-jalan, apalagi udara di tempat ini sangat dingin. Untung pengawal mengingatkan mereka untuk menggunakan pakaian yang tebal.
"Ish kau ini, tidak bisakah untuk tidak mengungkit Kak Jo terus. Bagaimana aku bisa move on kalau selalu diingatkan," sungut Ellea.
"Ya, seperti kau yang bisa move on tapi malah disakiti lagi," skakmat Ellea dengan gelak tawa.
"Sial," umpat Deandra.
__ADS_1
"Sttt, mulutnya tidak boleh mengumpat. Kasihan calon keponakanku," goda Ellea sambil mengusap-usap perut Deandra. Seolah kakak iparnya itu sedang hamil.
"Singkirkan tanganmu Elle, aku tidak sedang hamil keponakanmu!" tepis Deandra tidak suka.
"Sekarang mungkin belum, bagaimana kalau nanti?" Ellea semakin menggoda, memainkan alisnya turun naik.
"Ck, dia ini persis Edric. Bagaimana aku bisa melupakan pria itu kalau setiap melihat wajah adik iparnya ini ia selalu teringat sang suami."
"Itu tidak akan terjadi, karena aku tidak sudi dimadu!!" ketus Deandra.
"Hm, padahal madu itu manis dan banyak khasiatnya. Termasuk bisa memanjakan suami, tapi kenapa kau tidak mau. Kan itu meringankan tugasmu memanjakan suami?" Tanya Ellea dengan wajah bodoh, membuat Deandra menggeram kesal melayangkan dompet di tangannya.
"Eits santai, aku hanya bercanda." Gadis itu menyengir lebar, menahan tangan Deandra agar tidak menyiksa dirinya.
__ADS_1
"Coba lihat ke arah jarum jam pukul tiga." Bisik Ellea saat melihat orang yang dikenalnya. Deandra langsung mengikuti arah padang adik iparnya dan seketika itu juga tubuhnya menegang.