
"Kenapa Kak Jo sangat jahat padaku, dia bilang tidak bisa membalas cintaku. Tapi kenapa masih mencariku," racau Ellea dengan mata terpejam.
Ron memanggil dokter kembali karena panas Ellea yang semakin tinggi. Dia sudah menghubungi Tuan Edric namun tidak mendapatkan jawaban.
"Nona makan dulu," Ron berusaha membuat Ellea untuk tetap sadar. Namun gadis itu terus meracau menyebutkan nama Jovie.
...🐾🐾🐾 ...
"Elle," Edric menepuk-nepuk pipi sang adik yang tidak berhenti meracau memanggil nama Jovie. Tadi siang dokter sudah menyuntikkan penurun panas ke tubuh Ellea namun sampai sekarang belum ada perubahan.
Meskipun marah pada Ellea yang terus memanggil nama si brengsek itu namun Edric tidak bisa meluapkannya.
"Tuan, sebaiknya kita bawa Nona ke rumah sakit." Saran Ron karena sudah beberapa jam obat belum juga bereaksi pada Ellea.
"Panggil Jovie kemari, kalau Elle masih belum sadar baru kita bawa ke rumah sakit." Edric menurunkan egonya. Ia tidak bisa mengatasi alam bawah sadar Ellea. Kalau dia ke rumah sakit siapa yang menemani Dea di rumah.
Ron yang diperintahkan tuannya langsung tidak berani membantah. Walau ia tidak setuju dengan keputusan Tuan Edric.
Tidak sampai lima belas menit pria yang ditunggu datang. Edric tidak bersuara apapun saat bertemu sahabatnya itu. Sahabat yang sudah mengkhianatinya. Ia hanya memberikan tatapan dingin.
__ADS_1
Apa yang Ellea lihat dari Jovie sampai cinta mati pada pria itu. Dan apa yang Alice lihat sampai mengkhianatinya dengan pria yang menjadi sahabatnya. Mengingat itu amarah Edric kembali mencuat. Namun ia berupaya untuk mengendalikan diri agar tidak emosi. Apalagi saat melihat Jovie memeluk adiknya tersayang.
"Baby," Jovie memeluk gadis yang wajahnya pucat pasi. Panas tubuh Ellea sangatlah tinggi, "Edric cepat bawa ke rumah sakit, kau ingin Elle mati dibiarkan seperti ini!" Sentaknya pada Edric. Tidak peduli kalau pria itu masih marah padanya.
"Kau baru peduli padanya sekarang!! Kemana saja kau setelah memperlakukannya seperti perempuan murahan dan membuatnya menangis!" Murka Edric.
Jovie menggeleng, tuduhan Edric tidaklah benar. Dia sudah berusaha menemui dan menghubungi Ellea.
"Baby bangun, Kak Jo-mu ada disini." Bisik Jovie diliputi rasa bersalah melihat keadaan Ellea seperti sekarang. Dia menyayangi Ellea namun hanya sebatas sebagai seorang adik.
"Euugh!" Gadis itu melenguh.
"Bangun kalau kau tidak mau ke rumah sakit," ucap Jovie lagi sambil mengelus pipi Ellea.
"Kak Jo," gumam Ellea mengerjap mata perlahan.
"Iya aku disini," Jovie tersenyum karena Ellea mau membuka matanya. Namun setelah beberapa detik gadis itu tidak sadarkan diri kembali.
"Ron kita ke rumah sakit, siapkan untuk dua pasien dalam satu kamar." Putus Edric karena tidak ingin meninggalkan Deandra sendirian.
__ADS_1
"Siap Tuan," Ron menurut saja meskipun bingung siapa yang jadi pasien selain Nona Ellea.
"Dea juga sakit?" Tanya Jovie pada Ron ketika Edric meninggalkan mereka sebelum ia sempat bertanya.
Ron yang tengah menyiapkan keperluan Ellea menjawab dengan gelengan kepala. Hatinya seperti terbakar melihat Jovie memeluk gadis itu. Namun tidak bisa melakukan apa-apa.
...🌹🌹🌹 ...
"Kau kenapa tiduran di sofa. Tadi aku bilang jangan banyak bergerak. Dan ini apa?" Edric menghembuskan napas dengan kasar melihat istrinya berbaring di sofa dengan kaki dinaikkan ke atas. Satu lagi, wanita itu menggunakan celana pendek miliknya.
"Pahamu ini rasanya pengen aku goreng saja!!" Decak Edric memindahkan Deandra ke tempat tidur.
"Kau lama, aku bosan tahu! Sekali pulang malah marah-marah," rengut Deandra.
"Kita ke rumah sakit," ucap Edric mengambil handuk lalu masuk ke bathroom.
"Edric!!" Teriak Deandra, "dasar manusia tembok tidak berperasaan!!" Umpatnya kesal, bukannya meminta maaf malah ingin membawanya ke rumah sakit.
"Kalau bukan karena ulat bulu aku tidak akan seperti ini!" Deandra masih saja menggerutu meskipun Edric tidak mendengarnya.
__ADS_1