
Perlahan Deandra melepaskan tangan Edric yang merengkuh pinggangnya dengan erat. Malam ini Mr. Arrogant-nya terlihat sangat manis.
Setelah mengungkapkan isi hatinya Edric tertidur. Deandra mengusap pipi Edric, akhirnya ia bisa melihat wajah tampan sang suami tidur di sampingnya.
Gadis itu bangun untuk membersihkan diri, setelahnya Deandra menemui Dad Tian di ruang kerja. Dad Denis dan Om Jeri sudah pulang. Hanya Buba Ressa yang tahu kalau dia dibawa Om Azmi tadi siang. Semua informasi ditutup rapat dari Mom Aru, karena tidak ingin membuat mommy-nya itu khawatir.
“Honey,” Tian bangkit dari duduknya melihat sang putri berdiri di depan pintu. Putrinya itu masih berjalan dengan pincang, "coba sini Daddy lihat kakinya."
“Cuma terkilir sedikit Dad,” ujar Deandra mendekati Dad Tian yang sudah duduk di sofa.
Tian mengangkat kaki Deandra ke pangkuan. memijatnya dengan lembut, “Edric mana?”
“Sudah tidur,” Deandra menatap dalam netra Dad Tian, dia ragu untuk bercerita.
“Ceritalah sama Daddy, ada apa?” Tian bisa merasakan kerisauan putrinya.
“Om Azmi membuat perusahaan Edric bangkrut Dad,” beritahu Deandra dengan perasaan bersalah. Karena dia Edric jadi kena imbasnya.
Tian hanya menghela napas panjang, sudah ia duga Azmi akan melakukan itu. “Sekarang Dea mengerti kenapa Daddy melarang kamu berhubungan dengannya.” Ucapnya dengan lembut seraya mengelus rambut Deandra.
Deandra mengangguk pelan, “maafin Dea Daddy.”
__ADS_1
“Dea gak salah Sayang,” Tian memeluk putrinya erat. “Daddy tahu kalian tidak saling mencintai, tapi Daddy yakin Dea bisa menaklukkan Edric.”
“Susah Daddy, Edric sangat mencintai Alice.” Jawab Deandra sendu.
“Itu dulu Sayang, Edric tidak akan mencarimu dan menghajar Azmi kalau dia tidak mencintaimu.”
Tian sangat tahu kebiasaan lelaki kalau mencintai para wanitanya. Tidak akan membiarkan miliknya disentuh orang lain. Dan itulah yang ia lihat dari Edric. Hanya saja menantunya itu belum menyadari.
“Edric mempertahankan Dea hanya untuk menyakiti Dea, Daddy.” Itulah yang ia tahu, Edric tidak pernah menginginkannya sebagai wanita.
“Percaya sama Daddy, Edric hanya belum menyadari perasaannya.” Tian meyakinkan putrinya, walaupun begitu ia tetap tidak membenarkan kelakuan Edric yang mempermainkan putri tersayangnya.
“Kamu pasti tahu caranya membuat Edric jatuh cinta,” Tian tersenyum menggoda.
Deandra mendengus, “Dad Harry mau punya cucu.” Ungkapnya dengan wajah masam. Dia sama sekali tidak kepikiran ingin punya anak di usia sembilan belas tahun.
“Tapi kamu sudah suntik KB, jadi bingung mau cari alasan apa.” Tian mencubit hidung putrinya gemas. Dia dan Harry sudah tahu kalau Deandra melakukan suntik KB. Harry sengaja meminta seperti itu agar hubungan Deandra dan Edric membaik.
“Kok Daddy tahu? Ih gak asik, Daddy selalu mengawasi Dea. Jangan bilang Dea ke kamar mandi juga diikuti.” Kesal Deandra, hidupnya benar-benar tidak bisa bebas. Ternyata Dad Tian selalu mengawasinya dari jauh.
“Apa yang gak Daddy tahu, Sayang? Semua yang kalian lakukan di kamar tadi Daddy juga tahu.” Goda Tian yang membuat putrinya membelalakkan mata.
__ADS_1
"Dad please deh, lepas itu semua kamera yang mengawasi Dea." Cemas Deandra, takut perbuatan tidak senonoh mereka ketahuan nanti. Duh, apa yang sedang otaknya pikirkan.
"Hayoo, lagi mikir apa?" Tian menoel-noel pipi Deandra yang bersemu merah. Gadis berusia sembilan belas tahun itu menggeleng malu.
"Dad, berhenti menggoda Dea." Rengeknya malu dengan pikiran kotor yang ada di otaknya.
"Buktikan sama Daddy kalau Dea bisa membuat Edric jatuh cinta," tantang Tian.
"Dad," Deandra menggeleng. Dia takut nanti jadi berharap dan malah terluka saat cintanya tidak terbalas. Yang ia bisa lakukan sekarang mengubur rasa cintanya pada Om Azmi.
“Kenapa tadi Daddy meminta Edric menceraikan Dea. Dan sekarang Daddy malah meminta Dea untuk membuat Edric jatuh cinta?” tanya Deandra bingung.
“Daddy hanya ingin melihat kesungguhan Edric mempertahan kamu, Sayang.” Jelas Tian, "apapun alasan Edric mempertahan Dea, Daddy yakin ada cinta disana."
Deandra hanya diam, dia tidak sepemikiran dengan Dad Tian.
"Sana kembali ke kamar, nanti ada yang kehilangan istri." Lagi-lagi Tian menggoda putrinya.
"Daddy," rajuk Deandra. "Tapi Daddy harus bantu perusahaan Edric."
"Apapun untuk putri kesayangan Daddy," jawab Tian lalu mengantarkan putrinya ke kamar.
__ADS_1