Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 112


__ADS_3

Ron segera berpamitan dari ruang tengah untuk mengejar Ellea. Ia tidak bisa membiarkan gadis yang dicintainya kesusahan.


"Nona," panggil Ron.


"Untuk apa kau mengikutiku Ron, kau ingin menertawakanku. Sekarang tertawalah sepuasmu!!" Ellea menghapus air matanya yang lancang keluar dengan kasar.


"Ambillah ini," Ron memberikan kartu miliknya tidak peduli dia akan dipecat oleh Tuan Edric karena membantu adik tuannya.


"Aku tidak butuh uangmu Ron, jangan sok baik padaku!!" Sarkas Ellea pedas.


"Anda akan butuh ini, aku tidak tahu apa-apa dengan rencana mereka Nona." Jujur Ron, walau hatinya merasa terluka oleh penolakan Nona Ellea. Tapi tidak ingin mengambil hati. Baginya setiap manusia memiliki kebaikan tersendiri, termasuk nonanya yang angkuh ini.


"Sudah kubilang aku tidak butuh uangmu Ron," tolak Ellea sekali lagi. Tidak menghiraukan pria yang masih mengikutinya.


Edric menggeram tertahan melihat apa yang dilakukan Ron. Sebenarnya ia juga tidak tega, tapi ingin membuat adiknya itu jera dengan hukuman yang diberikan.


"Ron, siapa yang menyuruhmu membantu Elle!!" Teriak Edric saat sang asisten ingin mengejar Ellea.

__ADS_1


"Tidak ada larangan untuk saya membantu Nona Elle," sahut Ron dengan tegas.


"Kau membantah atasanmu?" Edric tersenyum sinis, bukan tidak mengerti arti perkataan Ron.


"Ya," jawab pria itu tidak kalah sinis. "Aku berada disisimu untuk siapa kalau bukan Elle!!" Ungkap Ron pada teman yang saat ini masih menjadi atasannya.


"Mulai detik ini aku berhenti menjadi asisten kau, kalau kau menghalangiku membantu Elle!"


Edric berdecak karena baru tahu kalau Ron sangat mencintai Ellea. Ia jadi semakin yakin kalau pria itu bisa menjaga sang adik dengan baik. "Pengecut, kenapa kau tidak bilang dari dulu kalau suka pada adikku?"


Disaat dua pria itu masih berdebat. Ellea sudah berjalan semakin jauh meninggalkan mansion, tidak tahu harus kemana. Tanpa ponsel dia tidak bisa menghubungi teman-temannya. Mendatangi Deandra ke kampus untuk minta tolong pada kakak iparnya sangatlah jauh. Mau naik taksi, tidak punya uang selembarpun.


Gadis itu berjalan ditengah mentari pagi dengan keringat yang bercucuran. Hidupnya tidak pernah semenyedihkan ini. Tapi Ellea tidak boleh lemah. Ia akan mencari pekerjaan untuk bertahan hidup.


...🐥🐥🐥 ...


"Apa?" Deandra menganga setelah mendengar Edric bercerita. Sekarang mereka sedang makan siang di restoran. Sang suami menjemputnya ke kampus hanya untuk mengajak makan siang.

__ADS_1


"Kau keterlaluan Edric, membiarkan Elle pergi dari rumah tanpa membawa apapun. Kau tidak berpikir dia makan apa dan tidur dimana?" Walaupun jarang akur dengan adik iparnya. Tapi Deandra tidak setega itu membiarkan Ellea yang manja sama sepertinya dirinya jadi gelandangan.


"Biarkan saja. Biar dia tahu rasanya hidup susah," jawab Edric santai.


"Ck, kau saja dulu tidak mau saat dijodohkan denganku. Tapi sekarang malah memaksa Elle menikah!" Sindir Deandra yang tidak sepemikiran dengan Edric. Tidak perlu sekejam itu kalau ingin memberikan hukuman.


"Tapi kita bisa menjalaninya kan?" Bela sang pria dengan bangga.


"Sombong! Kita ini baru baikan satu hari Edric, dan kau bilang kita bisa menjalaninya." Deandra tersenyum sinis ingin sekali menyiram suami arrogant-nya ini dengan jus.


"Sweetheart, kau tidak ingin hidup denganku selamanya?" Tanya Edric memelas.


"Aku berpikir ulang untuk hidup denganmu selamanya. Pada adikmu saja kau sesuka hati, apalagi kalau memiliki anak nanti. Bisa-bisa kau nikahkan saat umur tujuh tahun," decak Deandra kesal.


"Sayang, kau tega mau meninggalkanku." Ujar Edric nelangsa, baru saja mereka berbaikan sekarang sudah bertengkar lagi.


"Kau pikir saja sendiri!" Sahut Deandra malas, sekarang sudah siang dan dia tidak tahu harus mencari Ellea kemana. Bagaimana kalau Om Azmi menyandera adik iparnya itu nanti.

__ADS_1


__ADS_2