Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 117


__ADS_3

"Tuhkan dia merajuk," Deandra melepaskan pelukannya dari Edric. Segera mengambilkan sarapan untuk Ellea. Khawatir adik iparnya itu mati kelaparan karena tadi mengeluh lapar. Ia tidak mau diganggu hantu Ellea beneran.


"Kau yang duluan mengerjainya Sweetheart," Edric membela diri.


"Aku hanya mengerjainya, tapi kau yang berkata kasar padanya." Wanita itu memberikan sarapan yang baru disiapkannya pada sang suami. "Bujuk dia, kasih makan dan kembalikan ponselnya." Dikte Deandra.


"Kau ini sok peduli, nanti juga bertengkar lagi." Edric mencubit gemas pipi wanitanya sebelum menyambut nampan yang berisi sarapan lengkap dengan susu dan air putih. 


"Aku ini bukan sok peduli tapi benar-benar peduli." Sungut Deandra mendorong paksa nampan pada sang suami.


"Setelah aku mengantar ini temani tidur," pinta Edric dengan mengedipkan sebelah mata manja.


"Aku mau kuliah Edric," Deandra cepat menggelengkan kepala. Tubuhnya sudah lelah dimangsa Edric. Kalau dia berduaan di kamar sudah dipastikan prianya itu bukan tidur tapi memangsanya kembali.


"Aku tidak mau membujuk Elle kalau kau tidak mau menemaniku tidur." Rajuk Edric meletakkan nampan yang sudah berada di tangannya ke atas meja kembali.

__ADS_1


"I'dont care, yang mati kelaparan juga bukan adikku!" Acuh Deandra meninggalkan sang suami ke kamar.


"Sayang, kau itu tidak ada manis-manisnya!!" Teriak Edric kesal.


"Aku ini bukan madu Edric, tentu saja tidak manis!" Balas Deandra dengan berteriak.


"Oh Tuhan, rasanya aku ingin tukar tambah istri saja." Edric mendesah frustasi.


"Aku masih mendengar ucapan kau Edric. Kalau kau ingin mencari istri baru carilah sana dan jangan pernah mencariku lagi!" Geram Deandra membanting pintu kamar dengan kasar.


Gadis yang dicarinya sedang duduk termenung di balkon. Meskipun masih ada rasa kesal pada Ellea tapi Edric tetap sangat menyayangi adiknya itu.


"Elle sarapan dulu, tadi laparkan." Edric meletakkan nampan di depan Ellea. Pria itu menurunkan egonya mengusap sayang puncak kepala sang adik.


"Aku sudah tidak lapar," jawab Ellea malas.

__ADS_1


Edric mengambil tangan Ellea lalu menggenggamnya, "aku berharap kau mengerti kalau semua yang aku lakukan ini untuk kebaikanmu. Seperti yang Dad Harry lakukan padaku."


"Baik versimu seperti apa Edric?" Tanya Ellea dengan tatapan nanar. "Kita itu berbeda, bagaimana kalau aku tidak bisa mencintainya atau sebaliknya dia yang tidak mencintaiku."


"Bagaimana kalau Ron mencintaimu?" Pancing Edric.


"Lalu bagaimana dengan perasaanku?" Ellea tersenyum kecut, walau Ron mencintainya tapi itu tidak akan merubah apapun.


"Open your heart, Jovie tidak pantas untukmu Sayang."


"Aku juga ingin bahagia Edric. Aku ingin menikah dengan pria yang aku pilih walau itu bukan Kak Jo. Berhenti memaksaku menikah dengan Ron," ucap Ellea dengan tatapan memohon.


Edric terdiam, dilema antara menuruti perkataan sang adik atau tetap melanjutkan perjodohan yang ia buat sepihak.


"Jangan samakan takdir hidupku dengan kau yang menikah karena dijodohkan Dad Harry," lanjut Ellea penuh penghayatan. Rencananya ini tidak boleh gagal. Karena hanya ini cara yang ia punya untuk mensejahterakan hidupnya.

__ADS_1


"Oke, aku tidak akan menjodohkanmu dengan Ron lagi asal kau bisa membuktikan kalau kau tidak terpedaya oleh Jovie lagi dalam waktu tiga bulan. Kau tidak boleh bertemu apalagi berbicara padanya. Kalau kau tidak bisa menghindar dan masih berhubungan dengan manusia brengsek itu. Aku akan langsung meminta Daddy menikahkanmu dengan Ron detik itu juga kalau kau berani melanggar kesepakatan ini." Tutur Edric yang langsung diangguki Ellea dengan yakin.


__ADS_2