Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 80


__ADS_3

"Ed aku haus," gumam Ellea saat membuka mata. Tadi malam dia tidur sangat nyenyak karena bermimpi Kak Jo menemaninya sepanjang malam.


Sampai aroma parfum pria itu seakan menempel di hidungnya. Padahal dia hanya bermimpi, mana bisa mencium aroma parfum yang seperti nyata.


Deandra turun dari brankar mengambilkan air putih untuk Ellea. Suaminya sedang mandi, dan Jovie ke kantin membeli sarapan.


Ya, pria itu menginap di rumah sakit menemani Ellea. Walau sempat terjadi keributan sebelum Edric memberikan Jovie ijin menginap. Mereka hampir adu jotos kalau saja Dad Denis tidak menengahi dua pria itu dengan kepala dingin.


"Aku tidak mau air dari tanganmu!" Tolak Ellea dengan ketus.


"Sumber air ini dari pegunungan, tanganku mana bisa memproduksi air. Minum dulu nanti kau mati kehausan," sahut Deandra jengkel karena niat baiknya ditolak Ellea mentah-mentah.


"Aku gak mau!" Ellea mendorong gelas yang disodorkan Deandra dengan kasar. Sampai airnya tumpah mengenai baju wanita itu.


"Kau masih marah padaku gara-gara ponselmu yang jatuh. Aku kan sudah minta maaf padamu," Deandra menahan diri agar tidak meladeni emosi Ellea. Ia tidak mengerti, hanya karena masalah ponsel adik iparnya itu jadi memusuhinya sampai menginginkan dia dan Edric bercerai.


"Aku benci padamu bukan hanya karena ponsel. Kau itu sudah menghasut Edric, kau mengambil Edric dariku! Aku benci kau masuk dikeluargaku!!" Teriak Ellea, meluapkan emosinya pada Deandra. Rasa marah yang sebenarnya tertuju untuk Jovie tapi dia tidak bisa meluapkannya pada pria itu.


Deandra yang diteriaki hanya terdiam, karena tidak merasa melakukan semua yang dituduhkan Ellea. Bahkan mereka pindah ke mansion pun karena peduli pada gadis itu.


"Elle, tidak boleh berkata kasar seperti itu pada kakak iparmu!" Tegur Edric yang muncul dari balik bathroom.

__ADS_1


"Tidak ada yang mengambil aku darimu." Pria itu mengambil gelas di tangan Deandra lalu mengisyaratkan wanitanya untuk kembali ke tempat tidur.


"Dia bukan kakak iparku!" Seru Ellea.


"Siapa yang mengajarimu berkata kasar seperti ini," Edric memberikan gelas yang dipegangnya pada Ellea. Adiknya itu masih lemas tapi suaranya tetap saja melengking.


"Kenapa meluapkan amarahmu pada Dea karena tidak bisa meraih cintamu itu. Dea tidak melakukan apapun. Apa dia pernah melarangku untuk memperhatikanmu?" Tanya Edric yang mendapatkan gelengan dari Ellea.


"Apa kau pernah mendengar Dea mengatakan kalau aku harus menjauhimu?" Tanya Edric lagi.


Ellea menggeleng pelan dengan mata yang sudah berembun.


"Jadi semua yang kau tuduhkan itu tidak benar. Kau marah padanya hanya karena kau sedang emosi pada orang lain." Tutur Edric dengan lembut yang membuat air mata Ellea akhirnya berjatuhan.


"Baby," Jovie yang melihat Ellea menangis berjalan cepat mendekati gadis itu.


Air mata Ellea yang tadinya berjatuhan terhenti begitu saja. Gadis itu mematung di tempat melihat Jovie ada di dekatnya.


Apa tadi malam pria itu yang menemaninya. Aroma parfum yang menyapa hidungnya ini aroma parfum yang sama dengan yang ada dalam mimpinya tadi malam.


"Jangan pingsan lagi," pria itu meletakkan belanjaannya ke atas nakas.

__ADS_1


Edric menarik napas dengan kasar mendengar Jovie selalu memanggil Ellea dengan sebutan Baby. Selain mengingatkannya pada pria brengsek yang memanggil Deandra seperti itu dia juga tidak suka karena panggilan itu terdengar sangat mesra. Walau Edric tahu dari dulu memang Jovie selalu memanggil Ellea begitu. Mungkin karena itu juga Ellea merasa nyaman setiap berada didekat Jovie dan jatuh cinta pada sahabatnya.


"Jangan dekat-dekat!" Peringat Edric menatap Jovie dengan tajam.


"Ed, aku pinjam Elle sebentar saja." Ucap Jovie dengan memohon, dia tidak ingin ada keributan lagi seperti tadi malam.


"Kalau kau masih ingin disini jaga sikapmu. Atau kau kuusir dari sini!!"


Jovie menghela napas panjang, memilih mengalah daripada meladeni Edric yang sudah terbakar emosi. Ia mengambilkan sarapan untuk Ellea.


"Jangan di peluk terus, Ellea butuh sarapan dan bernapas." Ujar Jovie memberikan sarapan untuk Edric dan Deandra, "kalian juga sarapan."


"Kau pasti hanya ingin mencari kesempatan saja!!"


"Mencari kesempatan bagaimana, aku bisa melakukan apa kalau kau masih bisa mengawasiku disini!" Jovie berdecak kesal, sekali salah tetap saja dia akan terlihat selalu salah di mata sahabatnya itu.


Ellea menatap kedua pria itu tanpa kata, ada bagian dadanya yang berdenyut nyeri. Kenapa Kak Jo bersikap sangat perhatian padanya, tidak tahukah pria itu kalau semua perlakuannya hanya membuat Ellea berharap dan terjatuh kembali karena tidak bisa memiliki.


"Edric aku mau jalan-jalan," ujar Deandra. Karena ingin memberikan privasi untuk Jovie dan Ellea. Dia merasa dua orang itu perlu berbicara dari hati ke hati.


"Paha mumi-mu itu memangnya mau dibawa kemana?" Sentak Edric pada Deandra karena terbawa emosi.

__ADS_1


"Tuhkan aku terkena imbasnya juga!" Gerutu Deandra, "kau itu marah padanya kenapa harus melampiaskannya padaku!" Wanita itu turun dari brankar berjalan keluar kamar tanpa mempedulikan Edric yang memanggilnya lagi karena kesal.


__ADS_2