
"Jangan pernah kau muncul dihadapanku lagi dan menemui Elle!!" Ucap Edric dingin setelah menarik Jovie menjauhkan dari Ellea. Ia berusaha menahan diri agar tidak menghajar sahabatnya itu di hadapan sang adik.
Ellea hanya menundukkan kepala dengan hati yang semakin terluka. Gadis itu tidak mengeluarkan sepatah katamu saat mendengar Edric memaki Jovie.
"Ed, aku akan mempertangungjawabkan apa yang aku lakukan. Kita selesaikan ini di luar. Jangan buat Elle semakin terluka," pinta Jovie.
"Bagiku ini sudah selesai. Kau yang membuatnya terluka. Kau yang sudah menghancurkan hatinya. Jadi jangan sok ingin menjadi pahlawan." Tangan Edric gatal ingin menghajar pria di hadapannya ini. Tapi dia tidak ingin Ellea bertambah sedih.
"Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan meminta Dad Johan untuk meminang Elle," ucap Jovie serius.
Ellea yang mendengar perkataan Jovie seperti itu merasa semakin terombang-ambing. Sebenarnya dia ini dianggap pria itu apa.
"Apa yang ingin kau perbaiki? Aku tidak akan sudi membiarkan adikku bersama seorang penghianat sepertimu. Setelah menikahinya apa yang ingin kau lakukan? Bermain belakang dengan perempuan lain! Kau belum puas menyakitinya, hah!" Sarkas Edric bertambah murka.
__ADS_1
Kalimat yang Edric ucapkan itu sangat menohok bagi Ellea. Mungkin bagi Jovie berciuman hal yang biasa. Dan apa yang terjadi tadi tidaklah berarti apa-apa bagi pria seusia kakaknya itu.
"Aku tidak pernah berniat menyakiti Elle, Edric!" Sanggah Jovie, tidak terima dengan tuduhan sahabatnya itu. Ia bahkan tidak tahu kalau selama ini Ellea mencintainya.
"Dan untuk wanitamu yang aku rebut, aku minta maaf." Ucap Jovie dengan tulus.
"Niat atau tidak niat kenyataannya kau sudah menyakiti Elle. Satu hal yang harus kau catat, aku tidak butuh permohonan maaf darimu! Jadi sebaiknya kau jangan pernah menampakkan diri di hadapanku lagi."
"Ed sudah, ini rumah sakit." Deandra mengusap lengan Edric yang tengah dilanda emosi agar lebih tenang.
"I'm sorry Baby," Jovie memeluk Ellea. Tidak peduli kalau Edric akan semakin murka padanya. Ia hanya ingin bertanggung jawab atas luka hati yang gadis itu rasakan.
"Ed," Deandra menggelengkan kepala ketika Edric ingin menarik Jovie. Tidak akan ada selesainya kalau tidak ada yang mau mengakhiri pertengkaran ini.
__ADS_1
"Kak pergilah aku butuh waktu sendiri," ucap Ellea pelan. Ia lebih memilih mengubur perasaannya daripada membawa dirinya kembali masuk dalam kubangan luka yang sangat menyakitkan.
Jovie mengangguk, tidak ingin membuat Ellea semakin tertekan dengan kehadirannya. "Kalau itu yang kau mau maka aku akan pergi dari sini. Cepat sembuh Baby," pria itu mengusap puncak kepala Ellea kemudian meninggalkan ruang rawat tanpa berpamitan pada Edric.
...🌹🌹🌹 ...
"Fredi cari keberadaan Alice," suruh Jovie pada asistennya sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuk ke meja.
Ia khawatir wanita itu akan berbuat nekat menyakiti Ellea kalau dibiarkan tetap berkeliaran.
"Nona Alice terakhir terlihat kemarin siang Tuan, dan setelahnya tidak ada yang tahu keberadannya. Di kost-kost'annya juga tidak ada." Fredi meneruskan informasi yang didapatkan oleh orang suruhannya.
"Kemarin siang?" Alis Jovie saling bertaut. Berarti setelah kejadian Deandra tersiram kuah bakso, pikirnya. Apa Edric yang mengasingkan wanita itu? Jovie bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1