
"De, Elle mana?" Edric menyusul Deandra yang sudah lebih dulu ke ruang makan. Mereka sampai bangun kesiangan karena pergelutan panas tadi malam. Kalau tidak memikirkan Deandra kuliah hari ini Edric masih ingin menahan istrinya itu di tempat tidur.
Deandra menggelengkan kepala, "aku tidak melihatnya lagi setelah bertengkar hari itu," jawabnya jujur.
"Kau tidak minta maaf padanya lebih dulu." Ujar Edric yang sangat tahu sikap keras kepala Ellea.
Deandra dibuat tercengang, karena Edric seolah menyalahkannya. "Kenapa harus aku yang minta maaf. Aku tidak melakukan salah apapun."
"Dea, Elle itu adik iparmu. Bisakah kau mengalah padanya dan minta maaf lebih dulu," Edric tidak sadar berucap dengan tegas dan itu semakin menyinggung perasaan Deandra.
"Jadi kau menyalahkan aku?" Deandra tidak menyangka Edric malah menyalahkannya. Padahal Ellea-lah yang mencari masalah, dia tidak melakukan apapun di rumah ini yang mengganggu ketenangan adik iparnya itu.
"Kau itu lebih tua, Elle terbiasa dimanjakan jadi ku harap kau bisa mengerti." Pria itu menurunkan nada suaranya menjadi lebih lembut. Deandra dan Ellea itu sebelas dua belas, sama-sama keras kepala.
Deandra menarik napasnya dengan berat, tidak jadi menyantap sarapan. "Aku ini hanya lebih tua beberapa bulan darinya. Dan kalau kau tidak lupa, aku ini juga terbiasa dimanjakan." Wanita itu beranjak dari meja makan, ia sudah tidak berminat untuk sarapan.
"Deandra duduk!!" Panggil Edric dengan tegas diikuti helaan napas lelah. Dia tidak bisa bersikap lembut setiap saat karena pembawaannya memang tegas seperti ini.
__ADS_1
Lagi-lagi Deandra mengalah, baru tadi malam dia merasa dicintai oleh Edric dan sekarang seperti dihempaskan kembali.
"Makan!" Titah Edric.
Walau tahu Deandra sedang kesal padanya, tapi Edric tidak ingin wanitanya itu jatuh sakit. Karena tadi malam ia sudah menguras tenaga Deandra.
Deandra menurut karena malas melanjutkan pertengkaran. Ia menyuap nasi dengan malas, sepanjang sarapan hanya diam. Ruang makan mendadak hening, hanya terdengar denting sendok dan garpu yang bersahutan.
Usai sarapan wanita itu meninggalkan meja makan lebih dulu, kembali ke kamar. Edric membiarkannya saja, tidak ingin membuat suasana jadi semakin panas. Ia memilih mendinginkan kepala lebih dulu dan mencari Ellea ke kamarnya.
"Elle, are you okay?" Edric mendekati sang adik, menempelkan punggung tangannya di kening Ellea. "Panas," gumamnya khawatir menepuk pipi Ellea yang masih tidur.
"Ed, kau sudah pulang?" Ellea mengerjapkan mata saat ada yang menyentuh pipinya.
"Sudah berapa hari kau sakit?" Edric tidak menjawab pertanyaan Ellea. Lebih mengkhawatirkan keadaan sang adik.
"Lupa," jawab Ellea asal. Padahal dia sudah tiga hari tidak keluar kamar, sejak pulang dari rumah sakit.
__ADS_1
"Kau ini baru ditinggal satu minggu sudah sakit." Edric berdecak menghubungi Pak Man untuk memanggil dokter dan menyiapkan sarapan Ellea.
"Memangnya aku bisa request sakit saat kau ada disini," jawab Ellea sambil terbatuk-batuk.
"Aku tidak suka kau sampai sakit karena menangisi bajingan itu. Yang ku tahu Elle-ku ini sangatlah kuat dan kokoh." Edric membantu Ellea bangun dan mengambilkan air putih.
"Aku sakit bukan karena menangisi Kak Jo, Edric." Protes Ellea setelah selesai minum dan mengembalikan gelas pada Edric.
"Jangan kau pikir aku tidak tahu kalau kau berhari-hari menunggui Jovie di rumah sakit. Sampai jadi sakit seperti ini, sekarang mana Kak Jo-mu itu. Apa dia peduli saat kau sakit?" Tanya Edric telak yang membuat Ellea terdiam dan menundukkan kepala. Sampai kapanpun Jovie tidak akan peduli padanya. Jelas ia telah kalah dari perempuan yang dicintai pria itu.
"Kenapa kau tidak bisa merasakan kalau aku marah pada Jovie itu karena dia mempermainkanmu, bukan karena Alice." Edric mengangkat dagu Ellea, menatap lembut netra sendu sang adik.
"Karena kau sangat mencintai Alice dan aku juga ingin merasakan dicintai," jawab Ellea pelan.
"Cinta bukan alasan untuk kita bertindak bodoh. Kau itu cantik, jangan mengharapkan Jovie yang jelas-jelas brengsek. Pasti ada pria yang bisa mencintaimu dengan tulus," Edric menepuk pelan pipi Ellea.
"Tapi cintaku hanya untuk Kak Jo," jawab Ellea yang sukses membuat Edric menghela napas dengan kasar. Membuang-buang waktunya saja menasehati orang yang sedang patah hati. Ia perlu kuliah belajar sabar berapa sks agar bisa tetap waras menghadapi dua wanita di rumah ini.
__ADS_1