
Semingguan ini Deandra sudah aktif masuk kuliah kembali setelah keluar dari rumah sakit. Dan selama itu juga ia tidak pernah melihat si ulat bulu muncul di hadapannya.
"De, titip salam buat asisten tampan Mr. Arrogant-mu itu."
"Hm," Deandra malas menanggapi ucapan Sari. Tatapannya tidak beralih dari buku yang dibacanya. Sudah cukup Sari membuat dirinya malu di depan Edric dan Ellea.
"De, kau mendengar aku tidak!" Sari menutup buku yang dibaca Deandra.
"Telingaku masih belum perlu dibawa ke dokter THT." Sahut Deandra datar, membuka kembali bukunya dan melanjutkan membaca.
"Kau itu sudah pintar, tidak perlu belajar lagi. Tanpa belajar pun kau bisa lulus cumlaude." Lagi-lagi Sari menutup buku Deandra, karena jengkel ucapannya tidak ditanggapi.
"Kepintaranku memang bukan dari belajar. Tapi otakku harus mendapatkan asupan nutrisi agar berisi. Tidak hanya banyak bicara tapi kosong isinya," sindir Deandra pedas.
Namun sayangnya walau perkataan wanita itu pedas tapi tidak berarti apa-apa bagi Sari. Gadis itu malah semakin terkekeh.
__ADS_1
"Iya-iya yang otaknya berisi, tapi aku tetap titip salam pada asisten suamimu." Ujar Sari tidak menyerah.
Deandra memutar bola mata jengah. "Bilang saja sendiri, atau kau kirim surat. Aku bukan kurir yang bisa menyampaikan pesanmu."
"Ck, kau ini pelit sekali!!" Decak Sari.
Istri Edric itu mendelik, "pelit kau bilang? Keluarkan nasi pecel yang kau makan pagi tadi." Geram Deandra, dasar teman minim akhlak. Teman seperti Sari ini harus dimusnahkan dari muka bumi. Karena kalau tidak, bisa mencemari otak manusia.
"Kau ini sensitif sekali aku cuma bercanda, tidak dapat jatah ya tadi malam." Sari menggerakkan alisnya naik turun menggoda Deandra. Walau tahu temannya itu marah tapi dia tidak berhenti mengusili.
"Bukan jatah itu, tapi jatah di tempat tidur." Bisik Sari diikuti kerlingan jahil.
"Otakmu ini harus dicuci pakai pemutih biar noda dan kotoran yang menempel hilang. Atau sekalian kau ganti otak saja." Deandra yang ingin memukulkan buku ke kepala Sari mengurungkan niatnya.
"Astaga mulutmu itu pedasnya melebihi boncabe level lima puluh." Sari memegangi dadanya dramatis sambil tertawa geli.
__ADS_1
Deandra semakin kesal karena Sari sungguh tidak tahu diri. Wanita itu merapikan bukunya dan beranjak keluar kelas. Dia bisa ikutan gila kalau berteman dengan Sari yang kewarasannya diragukan.
"Hei kau mau kemana? Jangan tinggalkan aku!" Teriak Sari menyusul Deandra keluar kelas.
Istri Edric itu menutup pendengarannya dari teriakan Sari yang melengking. Ia berjalan acuh menuju kantin untuk mendinginkan kepalanya.
Sementara di kantor R-Group Edric membaca berkas-berkas di depannya. R-Group sudah mulai bisa bernapas, kerja kerasnya mencari investor selama satu bulan terakhir ini membuahkan hasil tanpa campur tangan keluarganya maupun keluarga istrinya.
"Bagaimana Ron, kau sudah tahu siapa yang melindungi Alice?" Tanya Edric saat sang asisten masuk ke ruangannya.
Ron mengangguk memberikan map berisi informasi yang didapatkannya.
Setelah kejadian Deandra tersiram kuah bakso Edric mencari mantan kekasihnya itu. Namun tiba-tiba saja wanita itu menghilang sebelum Edric sempat memberikan pelajaran. Ia mencurigai Jovie yang melindungi Alice.
Alice bukanlah perempuan berduit yang memiliki harta melimpah. Wanita itu hanya tinggal di sebuah kos-kosan sempit. Jadi sangat aneh kalau Alice bisa menyembunyikan diri tanpa bisa diketahui keberadaannya.
__ADS_1