
"Hentikan!!" Ellea menarik kemeja pria yang menindih Deandra dengan brutal. Entah memiliki kekuatan dari mana gadis itu bisa membuat Azmi terjengkang.
"Kau berani masuk ke apartemenku!!" Murka Azmi menatap Ellea yang sudah mengganggu kesenangannya dengan garang.
Deandra langsung melompat dari tempat tidur dan merapikan pakaiannya saat pria itu lengah.
Bibir Ellea tersenyum meremehkan, "memangnya apa yang aku takutkan dari pria tua bangka sepertimu!!" Ucapnya seraya menarik Deandra keluar kamar.
"Cih, kau terlalu berani padaku!" Azmi berdecih, dengan sigap menahan Ellea yang ingin membawa kabur Deandra meninggalkan kamar.
"Sudah kubilang, aku tidak takut pada kau!!" Ellea menggigit lengan Azmi sampai cengkramannya terlepas.
"Kau sangat berani padaku gadis kecil!" Azmi menggeram marah saat tangannya meninggalkan bekas gigi-gigi Ellea. Pria itu menarik Ellea sampai menubruk dada bidangnya dan mengunci gerakan sang gadis.
"Karena kau sudah mengganggu kesenanganku maka kau yang akan menggantikannya." Bisik Azmi dengan seringaian tipis, netranya melirik Deandra yang terdiam.
"Dan kau Baby," Azmi menarik Deandra mendekat padanya. "Kau juga akan melayaniku karena sudah mengkhianati janjimu," ucapnya seraya mengelus pipi gadis kesayangannya.
Deandra tidak tahu harus melakukan tindakan apa. Karena takut Om Azmi menyakiti Ellea.
Sementara Ellea tersenyum tipis mengangkat lututnya lalu menendang senjata pusaka Azmi. Walau jantungnya berdetak kencang dan tubuhnya terasa lemas berada dalam pelukan tubuh kekar yang sangat mempesona itu tapi dia tidak boleh lemah.
__ADS_1
"Sebelum aku melayanimu maka akan ku patah dulu pentol korek mu ini!!" Sarkas Ellea mendorong tubuh Azmi yang sedang mengerang kesakitan.
"Amankan buaya bajingan ini Pak!!" Teriak Ellea pada petugas keamanan yang ia bawa.
Dua orang petugas keamanan yang tadinya menunggu di luar kamar langsung mendekat. Memborgol Azmi sampai si empunya tidak dapat berkutik.
"Brengsek!!" Umpat Azmi karena kalah melawan gadis bau kencur sampai diamankan petugas apartemen. "Kau akan tahu seperti apa rasanya pentol korek ini nanti," bisiknya di telinga Ellea sebelum dibawa petugas keamanan.
Tubuh Ellea semakin lemas mendengar suara sensual yang menyapa gendang telinganya. Gadis itu duduk disisi tempat tidur.
"Kenapa kau tidak berteriak minta tolong dari tadi!" Decak Deandra karena ternyata ada orang lain yang dibawa Ellea. Dia sampai lemas memikirkan cara keluar dari apartemen ini. Entah akan jadi apa kalau adik iparnya itu terlambat datang.
"Biar surprise," jawab Ellea asal.
"Ck kau ini, masih saja memikirkan buaya satu itu. Dia sekarang masih enak-enakan tidur," desah Ellea kesal. Bagaimana tidak kesal, kakaknya itu dibangunkan seperti kerbau. Untung dia tidak terlambat datang menyelamatkan Deandra.
"Awas kau Edric!!" Geram Deandra mengepalkan kedua tangannya. Ia ingin meninju perut Edric sampai puas.
"Kita langsung pulang," ucap Ron yang tiba-tiba muncul. Pria itu memang tidak diperbolehkan Ellea masuk. Gadis itu sampai mengancamnya agar tidak memaksa ikut masuk.
Ya, Ellea meminta bantuan Ron saat Edric tidak bisa dibangunkan. Tadi selesai sarapan dan ingin meletakkan piring kotor ke pantry ia mendengar ponsel Edric yang terus berdering di kamar. Awalnya ingin usil mengerjai pasangan suami istri itu agar bertengkarnya semakin seru. Karena sebelum masuk ke kamar Ellea mendengar pasangan itu sempat berdebat karenanya. Tapi dia malah mendapati pesan Deandra yang minta jemput di apartemen Azmi. Ellea sangat tahu betapa agresifnya om-om itu pada kakak iparnya. Jadi dia tidak ingin mengambil resiko dengan menunggu Edric bangun.
__ADS_1
"Kau disini Ron?" Deandra menyelidik ke arah Ellea.
"Aku minta tolong Ron, memang siapa lagi yang bisa membuat aku keluar dari apartemen kalau bukan mantan asistennya ini. Kalian mengurungku seperti di penjara saja." Ellea membalas tatapan Deandra dengan tatapan tajam.
"Bukan aku yang melakukannya, tanya saja kakakmu tersayang itu!" Deandra berdecak karena dituduh mengurung Ellea.
"Ayo pulang. Aku malas berurusan dengan Edric," ajak Ron pada dua wanita yang sepertinya tidak akan berhenti berdebat.
"Ron lututku lemas," keluh Ellea yang masih duduk disisi tempat tidur.
"Kau kenapa, si brengsek itu menyakitimu. Sudah ku bilang aku ikut kau malah ngeyel." Cemas Ron berjongkok di hadapan Ellea dan memijat lutut yang ditunjuk sang gadis.
"Burungnya tidak patahkan karena aku tendang?" Tanya Ellea pelan, takut kena karma.
"Tidak akan, kau ini kelelahan. Habis dari mana saja?" Ron langsung menggendong tubuh Ellea, tidak peduli gadis itu akan marah padanya.
"Kau cerewet Ron," Ellea melingkarkan tangannya di leher Ron agar tidak terjatuh. Ia baru ingat kalau kakinya sakit karena terlalu lama duduk di kereta api. Semalaman dia habiskan dalam perjalanan saja karena Edric yang menjemputnya paksa.
Deandra sampai terbengong-bengong melihat Ron yang sangat perhatian pada Ellea. Pantas saja Edric memilih pria itu untuk menjaga adiknya.
Sementara Edric yang mendapati pesan Deandra saat bangun tidur langsung panik. Tapi kenapa pesan itu sudah terbaca, siapa pelakunya.
__ADS_1
"Elle!!" Teriak Edric marah karena tidak membangunkannya. Siapa lagi penghuni apartemen ini selain Ellea.