Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 182


__ADS_3

"Elle," Edric mendekati sang adik yang sedang berbaring di ruang tengah sambil menonton televisi.


Tadi pagi ia tidak sempat berbicara dengan adiknya ini karena harus mengurus Alice terlebih dahulu. Ia sudah membuat wanita itu merasakan akibat dari perbuatannya dan tidak bisa berkeliaran bebas lagi.


Elle menjawab tanpa suara dengan satu alis terangkat saat Edric membawa kakinya ke pangkuan.


"Bangun dulu, aku ingin bicara serius Sayang." Ucap Edric lemah lembut agar adiknya menurut, seraya mengulurkan tangan membantu Ellea bangun.


"Ada apa, tumben kau bersikap manis padaku." Selidik Ellea, semakin mengernyitkan keningnya mencium bau-bau mencurigakan.


"Negatif thinking kan, kan." Pria itu menyentil pelan kening sang adik.


"Ish, kau suka sekali menyiksaku. Sayang denganku tidak. Aku ini adikmu bukan?" Judes Ellea menggosok-gosok keningnya pura-pura kesakitan.


"Sayang dong sayang. Ini aku peluk berarti sayang," Edric tersenyum menatap intens netra sang adik. Adik kecilnya yang dulu sangat manja ini sekarang sudah semakin besar dan tetap saja manja.


Ellea mengamati wajah sang kakak yang benar-benar aneh.


"Kau tahu aku tidak suka melihat kau terlalu dekat dengan Jovie. Aku tidak ingin adikku tersayang ini menangis karena pria tidak tahu diri itu. Tapi aku tidak bisa memaksa kau untuk mengikuti keinginanku." Tutur Edric panjang lebar sambil menangkup kedua pipi Ellea.


Putri bungsu Hansel itu menghela napas berat. "jadi bersikap manis padaku hanya untuk membahas ini lagi," gumam Ellea dalam hati.


"Elle sudah dewasa Sayang, pilihlah salah satu dari mereka dan jangan buat mereka berharap karena kau menikmati perhatian mereka."


Bukan tanpa alasan Edric mengatakan seperti itu. Adiknya ini juga manja pada Ron, awalnya ia pikir Ellea sudah membuka hati untuk pria itu. Tapi ternyata adiknya ini juga bermanja-manja dengan Jovie.

__ADS_1


"Aku harus apa?" Tanya Ellea pelan. Andai orang tahu isi hatinya saat ini. Orang yang ia cintai memberikan perhatian padanya tentu saja itu membuat hatinya berbunga-bunga. Tapi Ellea tahu, keluarganya sudah kecewa pada Jovie begitu juga dirinya.


"Takdir bisa mengubah yang tidak cinta menjadi saling mencintai. Tapi cinta tidak bisa mengubah takdir Sayang," Edric membawa sang adik dalam pelukan.


Andai dia yang berada di posisi Ellea mungkin juga akan memberontak seperti yang Deandra bilang. Mereka terlalu memaksa Ellea mengikuti kemauan keluarga sampai mengabaikan perasaannya dan pura-pura bersikap biasa saja.


"Siapa yang ada disini?" Tunjuk Edric di dada sang adik. Tanpa bertanya pun ia sudah tahu jawabannya siapa.


Ellea tidak menjawab, Jovie yang selalu ada di hatinya. Tapi Ron yang selalu ada disisinya. Menemaninya saat ia sendirian dan kesepian. Pria yang dengan sabar menghadapi kemanjaannya.


"Tanya hatimu kau ingin hidup bersama orang yang kau cintai atau orang yang mencintaimu. Kalau kau hidup bersama orang yang mencintaimu, kau akan diratukan. Tapi jika kau menikah dengan orang yang kau cintai, kau harus siap jika dikecewakan."


Ellea masih tidak bersuara, sebelum Edric bertanya seperti ini pun ia sudah memikirkannya. Sampai ia memutuskan bersikap biasa saja pada keduanya dan tidak ingin memilih siapapun.


"Aku tidak ingin siapapun diantara mereka," jawab Ellea dengan suara berat.


"Kau berhak bahagia Sayang. Mom dan Dad akan menyetujui pilihanmu. Kalau kau menolak Ron, keluarga Jovie akan segera melamarmu." Beritahu Edric, ia juga sudah bicara pada mantan sahabatnya itu. Kalau Jovie akan menerima apapun keputusan Ellea. Tidak akan memaksa wanita itu menjadi miliknya.


"Edric," protes Ellea. Sebegitu jahatnya dia membatalkan pernikahan dengan Ron lalu menerima Jovie.


"Jangan pikirkan orang lain, tapi pikirkan hatimu Sayang. Aku sudah bicara pada Ron dan Jovie mereka akan menerima apapun yang kau pilih. Tapi jika kau tidak memilih keduanya maka mereka akan tetap mengejarmu seperti ini. Merepotkan bukan?" Tanya Edric dengan setengah bercanda.


"Merepotkan sekali, aku ini sudah seperti perempuan murahan saja." Rengut Ellea, membenamkan diri dalam pelukan Edric. "Cukup ada kalian disini aku sudah bahagia, aku tidak ingin menikah muda. Aku mau melanjutkan kuliah di Inggris ikut Mom and Dad."


"Sstt, jangan berkata seperti itu. Kau bukan perempuan murahan. Kau berharga dan istimewa." Edric melabuhkan kecupan di puncak kepala sang adik.

__ADS_1


"Aku tidak ingin menikah sekarang. Tolong bujuk Daddy," pinta Ellea.


"Kalau itu yang kau mau aku akan bilang sama Daddy," Edric menuruti keinginan sang adik. Karena sudah berjanji tidak akan memaksakan keinginannya.


"Gitu dong, kan aku jadi makin sayang." Goda Ellea genit, mendongakkan wajahnya sambil mengedipkan mata.


"Tapi ada syaratnya," Edric memainkan alis balas menggoda. Sedang Ellea sudah merengut sebelum Edric mengajukan persyaratannya yang pasti aneh-aneh. "Kau wajib memanggilku kakak."


"Ish susah sekali," keluh Ellea dengan wajah lemas.


"Setuju atau tidak, kalau tidak setuju aku akan bilang pada Daddy kau ingin menikah minggu depan."


"Edric!!"


"Panggil yang benar!" Titah Edric tidak mau dibantah.


"Kak Edric!" Ucap Ellea dengan bibir memble.


"Kurang, sayangnya mana?"


"Ish kebanyakan maunya!" Kesal Ellea mendorong bahu Edric, ingin kabur dari sang kakak.


"Eits, bilang dulu kalau kau mau aku bujuk Dad Harry." Ujar Edric sengaja mengusili sang adik.


"Iya Kak Edric. Kakakku tersayang, kakakku tercinta!" Seru Ellea mencebikkan bibir kesal, tapi kembali melabuhkan diri dalam pelukan Edric.

__ADS_1


__ADS_2