
"Hentikan Alice!!" Jovie menarik wanita yang sedang duduk di pangkuan Edric.
Wanita itu sudah menguasai ketidaksadaran pria yang dalam pengaruh obat. Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan Alice.
Tadi ia membuntuti Alice yang mencurigakan. Ternyata wanita itu sengaja menjebak Edric. Jovie langsung menghubungi petugas hotel untuk menyergap kamar yang sudah disiapkan Alice.
"Jovie!!" Pekik Alice menatap nyalang pada pria yang pernah menjadi partner ranjangnya.
"Aku sudah peringatkan kau untuk tidak berbuat diluar batas!!" Jovie balas menatap Alice dengan tajam.
"Kau tidak perlu campur dengan urusanku!!" Sentak Alice menghempaskan tangan Jovie yang mencengkramnya.
"Cukup Alice, hentikan obsesi murahanmu ini!" Teriak Jovie lantang.
Edric masih bisa mendengar suara-suara berisik itu. Namun tubuhnya sudah seperti cacing kepanasan. Ia menarik paksa kemejanya sampai kancing-kancingnya terlepas dan berhamburan.
"Sudah ku bilang jangan mencampuri urusanku Jovie, pergi!!" Usir Alice mendekati Edric kembali, tidak peduli ada Jovie disana.
Namun Jovie tidak membiarkan saja Alice mendekati Edric lagi. Ia menyeret perempuan itu keluar kamar dan memberikannya pada petugas hotel.
"Tolong amankan perempuan stres ini," pintanya pada petugas hotel.
"Jovie, lepas!!" Pekik Alice meronta-ronta tidak terima dibilang stres.
__ADS_1
Jovie tidak mempedulikan Alice menutup pintu kamar. Ia mendekati Edric yang seperti cacing terpanggang. Membawanya ke bathroom lalu mengguyur suami Deandra itu sampai menggigil.
"Dingiiiin, brengsek kau!!" Umpat Edric saat menyadari Jovie yang menyiramnya. Pria itu mengerang memegangi kepalanya yang masih pusing.
"Mana Dea, kau apakan istriku Jovie!!" Tuduh Edric murka.
"Tidak ada Dea disini, yang bersama kau tadi bukan Dea tapi Alice!!" Jawab Jovie masih mengguyur sahabatnya itu agar kewarasannya cepat kembali.
Edric terdiam, mencoba mengembalikan ingatannya. Tadi dia meninggalkan Deandra sampai menangis karena ingin ikut. Dan saat ingin pulang ia bertemu dengan Alice.
"Damn!" Umpat Edric saat kewarasannya mulai terkumpul.
"Kau bisa mandi sendirikan?" Jovie melemparkan shower yang dengan cepat disambut Edric, setelahnya menunggu di sofa.
"Apa yang sudah aku lakukan padanya?" Tanya Edric saat keluar dari bathroom, suami Deandra itu berdiri di depan pintu sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Seingat kau?" Jovie bertanya balik.
"Aku," Edric terdiam. Seingatnya ia hanya mengusap-usap perut Alice, tidak melakukan apa-apa.
"Tidak ada, kau tidak menyentuhnya." Ujar Jovie, membuat Edric menghela napas lega. Pria itu memberikan pakaian ganti dan segelas susu hangat pada Edric. "Minumlah dulu dan ganti pakaian, aku antar pulang."
Edric ragu untuk meminum susu yang diberikan Jovie padanya.
__ADS_1
"Ini tidak ada racunnya," Jovie berdecak melihat Edric yang mencurigainya. Meminum susu itu hingga seperempat gelas.
"Kau!" Edric merebut gelas yang seharusnya jadi miliknya lalu meneguk hingga habis.
Jovie mengedikkan bahu acuh sambil mengulum senyum. "Kau mau aku antar pulang atau menunggu Zain menjemput?"
"Kau antarlah, berani kau meninggalku disini." Edric bergegas berganti pakaian, Deandra pasti sudah menunggunya pulang.
"Eits tidak ada yang gratis," Jovie sudah berani menggoda sahabatnya.
"Kau masih hidup saja harusnya bersyukur, karena aku tidak membunuh kau!!" Decak Edric meninju bahu Jovie.
Drt... drt...
Jovie yang ingin membalas tinjuan Edric tidak jadi karena ponselnya berdering.
"Aunty Linn," sebutnya dengan kening berkerut menatap layar ponsel yang langsung direbut Edric.
"Mom," panggil Edric. Sangat aneh kenapa Mom Linn tidak menghubunginya, malah menghubungi Jovie.
"Kau kemana saja cepat pulang!! Omel Mom Linn, belum selesai bicara telepon itu sudah dimatikan Edric dan dilemparnya pada Jovie. Pria itu merebut kunci mobil yang ada di tangan Jovie lalu berlari meninggalkan kamar hotel, tahu Deandra pasti tengah gusar menunggunya pulang.
Jovie berdecak, terpaksa menyusul Edric yang meninggalkannya lebih dulu. Ujung-ujungnya dia yang kena omelan Aunty Linn.
__ADS_1