
"Kau berani denganku!!" Alice balas mendorong Deandra lebih kasar.
Karena malas mendorong balik, Deandra menendang perut Alice dengan lututnya.
Buukk
"Aaaaaww, sialan kau!!" Alice meringis menahan perutnya yang sakit.
Bibir Deandra tersenyum puas melihat Alice meringis kesakitan. Bukan Deandra namanya kalau hanya menjambak rambut sang lawan.
"Deandra Hansel!! Aku tidak suka kau main kekerasan!!"
Deandra tercengang mendengar ada suara Edric di kelasnya. Saat dia menoleh sang suami memang benar ada disini.
Edric yang tadi sudah masuk ke mobil kembali menyusul Deandra. Karena khawatir dengan istrinya itu, saat pengawal yang menjaga sang istri mengabari Alice ingin menemui Deandra. Tapi bukan Deandra yang kesakitan malah mantan kekasihnya.
"Babe sakit!!" Ringis Alice dengan mata berkaca-kaca.
Edric membantu Alice yang kesakitan lalu membawanya ke ruang kesehatan. Deandra masih bisa melihat Alice tersenyum penuh kemenangan padanya.
"Dasar bodoh!! Sudah tahu ulat bulu masih di dekati!!" Deandra membanting kursi yang ada di dekatnya lalu mengambil tas kemudian keluar kelas.
"Kau mau kemana?" Teriak Sari.
__ADS_1
"Pulang, tidak masuk kuliah selama satu bulan pun tidak membuatku bodoh!!" Ucap Deandra angkuh.
Sari menggelengkan kepala, "kalian memang jodoh. Mr dan Mrs Arrogant," gumamnya pelan tidak ingin menyusul Deandra. Karena tahu temannya itu butuh waktu sendiri.
"Dasar biawak brengsek!!" Umpat Deandra saat Edric lebih memilih membantu Alice daripada menenangkannya.
Edric yang tahu semua ini hanya akal-akalan Alice meminta orang lewat untuk mengantarkannya ke ruang kesehatan. Dia tidak bisa mengambil resiko Deandra mengamuk lagi dan benar-benar pulang ke mansion seperti keinginannya pagi tadi.
"Babe, aku mau aku yang mengantarku," rengek Alice dengan suara manja.
"Aku tidak punya waktu untukmu!!" Edric melepaskan tangan Alice lalu kembali ke kelas mencari istrinya.
"Dea kemana?" Tanya Edric pada teman Deandra yang dia tidak tahu namanya.
"Pergi!" Jawab Sari ketus, dia saja kesal pada pria itu apalagi Deandra.
Deandra yang malas pulang ke apartemen atau ke mansion lebih memilih pergi ke kantor Dad Tian.
"Honey, ada apa kesini. Kenapa tidak memberi tahu Daddy." Tian mendekati putrinya yang sedari tadi merengut masam.
"Lagi kesal sama biawak!!" Jawab Deandra judes, tidak peduli yang sedang bertanya itu Dan Tian.
"Biawak?" Tian mengernyitkan alis tidak mengerti.
__ADS_1
"Menantu Dad itu. Sudah tahu ulat bulu masih saja didekati. Untung aku sudah menendang perut ulat bulu itu biar tidak bisa menggeliat kecentilan lagi!!" Seru Deandra menggebu-gebu menahan amarahnya.
"Edric?" Tian memastikan arah pembicaraan sang putri.
"Memangnya Daddy punya berapa menantu?" Sahut Deandra ngegas.
Tian yang mengerti putrinya sedang cemburu tersenyum tipis kemudian memeluknya. "Jadi gak kuliah hari ini?"
"Tidak masuk kuliah selama satu bulan pun itu tidak membuat Dea jadi bodoh!!" Sahut Deandra sama seperti menjawab pertanyaan Sari. Tian mengulum senyum mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Dea memang tidak akan bodoh, tapi kampus punya peraturan Sayang."
"Nanti aku buat kampus sendiri!!" Jawab Deandra sembarang.
"Dan itu mengharuskan Dea lulus kuliah dulu," ucap Tian lembut. Deandra terdiam karena apa yang diucapkan Dad Tian benar.
"Awas saja kau ulat bulu, akan ku bakar hidup-hidup bulu-bulu hidungmu itu!!" Seru Deandra mengepalkan tangannya kembali saat mengingat Edric lebih memilih si ulat bulu.
"Garangnya putri Daddy ini," Tian merapikan rambut Deandra yang berantakan.
Netranya menemukan tanda percintaan yang masih baru di belakang leher Deandra. Pantas saja anak gadisnya ini sampai mengamuk saat Edric didekati perempuan lain.
"Dea istirahat di kamar ya, Dad mau meeting dulu."
__ADS_1
"Yes Dad," Deandra mengangguk langsung masuk ke dalam ruang istirahat Dad Tian.
Tian tertawa geli setelah putrinya tidak terlihat lagi. Ia tidak ingin ikut campur, Deandra pasti bisa mengatasi masalahnya sendiri. Tian sangat yakin putrinya itu habis menghajar mantan kekasih Edric.