
"Masih pusing Sayang?" Edric dengan telaten merawat istrinya sampai melupakan sang adik yang belum juga ditemukan Ron.
Pria itu menyuapi sang istri sambil mengelus-elus rambut panjangnya. Dokter menyarankan agar Deandra banyak istirahat dan bisa mengelola stres dengan baik.
Deandra menganggukkan kepala sambil bersandar dengan manja di bahu Edric. Inginnya selalu dekat-dekat dengan prianya ini.
"Selesai sarapan aku pijitin," ujar Edric seraya mengecup samping kepala Deandra. Ia akan memperlakukan istrinya ini penuh cinta setiap saat agar janin dalam kandungan Deandra dapat merasakan kalau Daddy-nya sangat mencintai sang mommy.
"Elle dimana?" Tanya Deandra baru ingat adik iparnya itu sejak kemarin siang tidak terlihat bersama mereka.
"Ada di apartemen," bohong Edric. Gara-gara sang istri ia jadi teringat kalau Ron belum memberikan kabar hasil pencarian Ellea. Pria itu bergegas mengambil ponsel menghubungi Ron. Jangan sampai Jovie yang lebih dulu menemukan adiknya itu.
"Jangan bohong, kau pasti tidak tahu dimana Elle sekarang!" Tukas Deandra saat melihat gelagat Edric yang berubah cemas saat dia menanyakan keberadaan adik iparnya.
"Sayang, Elle tidak tahu ada dimana sekarang. Tadi malam dia kabur saat Ron dan Jovie berebut memaksanya ikut." Jelas Edric, terpaksa berkata jujur pada wanitanya ini daripada kembali mengamuk.
"Dan sampai sekarang tidak ada yang tahu dimana Elle?"
Edric menjawab pertanyaan sang istri dengan anggukan kepala sembari menghubungi Ron.
"Mustahil Elle gak ketemu kalau Ron dan Jovie sudah mencarinya Edric!" Satu nama berputar-putar di kepala Deandra. Ia khawatir Om Azmi yang membawa Ellea.
"Ron sudah mencari Ellea di tempat tinggal Om tersayang kau itu tapi tidak ada," sebut Edric setelah berbicara singkat dengan Ron di telepon. Tahu siapa yang dicurigai istrinya itu.
__ADS_1
"Edric!!" Deandra tidak terima Edric selalu mengungkit-ungkit masa lalunya. Dia memang pernah sangat mencintai Om Azmi, tapi sekarang semuanya sudah berubah. Apalagi dia sudah mengandung benih Edric.
"Bercanda Sweetheart," ucap Edric cepat sebelum bumilnya kembali merajuk.
"Aku marah lagi nih!" Ancam Deandra.
"Jangan Sayang, kau semakin cantik kalau marah. Aku takut jadi semakin tergila-gila padamu," gombal Edric memeluk wanitanya dengan mesra.
"Biar kau betah melihat wajahku yang cantik ini, aku akan marah setiap hari padamu." Cetus Deandra menggigit gemas hidung Edric yang tidak berhenti menciumi pipinya.
"Ekhm!"
Pasangan suami istri itu sontak menoleh ke arah pintu kemudian saling pandang. Setelah beberapa detik Deandra membenamkan wajahnya ke bahu Edric karena malu dilihat oleh kedua mertuanya. Tidak hanya mertuanya, Dad Denis dan Mom Aru juga datang.
"No peluk-peluk istriku Dad," dengan posesif Edric memeluk Deandra. Tidak rela berbagi pelukan dengan Dad Denis.
"Lihat putra kau ini sangat keterlaluan Harry!" Denis menggeram karena tidak diijinkan memeluk putri yang sangat dirindukannya.
Harry dan Linn terkekeh geli, tidak tahu kalau setiap Denis dan Edric bertemu pasti akan rebutan Deandra.
Aruna ikut terkekeh kecil melihat kekesalan sang suami. Perempuan itu mendekati putrinya yang langsung melepaskan pelukan Edric beralih memeluk dirinya.
"Dea sehat Sayang?" Aruna menciumi pipi sang putri untuk melepaskan rindu.
__ADS_1
"Dea sehat Mom," istri Edric itu tersenyum manis merentangkan tangan pada Dad Denis setelah puas memeluk sang mommy. Tidak peduli pada wajah masam sang suami.
"Masih ingat sama Daddy Sayang," Denis mengecup puncak kepala Deandra dengan mesra. Bibirnya tersenyum miring pada sang menantu yang tidak dapat berkutik lagi.
"Daddy ih ngeselin," putri Tian itu memeluk manja ayah sambungnya.
"Cucu Daddy harus ganteng kayak Daddy nanti ya Honey," goda Denis sambil melirik Edric yang menatap tajam dirinya.
"Dad, aku ini Daddy-nya." Sela Edric tidak terima kalau nanti buah hatinya harus mirip orang lain.
"Kalian gak bisa ketemu deh, pasti berantem. Daddy juga suka banget mengusili Edric." Decak Deandra pada Dad Denis yang menyengir lebar menampilkan deretan gigi putihnya tanpa merasa bersalah.
"Gak salahkan kalau cucu itu mirip kakeknya Sayang," pria itu mengunyel-unyel pipi Deandra sangat gemas.
"Mas," tegur Aruna pada suaminya yang masih saja mengusili Edric. Wanita itu melepaskan putrinya dari pelukan sang suami.
"Masih kangen Sayang, jangan dipisahin." Rengek Denis dengan sengaja ingin memanas-manasi Edric, memeluk putrinya kembali malah sangat erat.
"Dad, kalian sudah janji tidak mengusili Edric lagi kalau dibuatkan cucu." Ujar Deandra yang ingin tertawa melihat wajah kecut suami tersayangnya.
"Cucunya belum lahir Sayang, jadi Dad masih menganggap kau ini putri kecil Daddy." Denis tersenyum lebar pada putrinya.
"Cukup Dad," Edric melerai paksa pelukan Dad Denis pada Deandra. Memeluk istrinya sangat erat. Aksi posesif Edric itu mengundang tawa.
__ADS_1