Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 60


__ADS_3

"Jovie, kenapa kau tidak bilang sedang sakit!" Seru Alice memecah kebimbangan di hati Jovie dan Ellea.


"Kau juga ada disini?" Wanita itu menatap tidak suka pada Ellea yang sedang membereskan perlengkapan Jovie.


Walau sudah Jovie larang tapi Ellea tetap melakukannya. Kapan lagi ia bisa melayani Jovie, mungkin ini terakhir kali bisa berdekatan dan bersikap manja pada pria seusia kakaknya itu.


Ellea tidak akan memperjuangkan cintanya, karena itu akan menyakiti Jovie. Ia tidak ingin membuat Jovie susah karena dirinya.


"Kalau kau masih punya mata, tidak perlu bertanya lagi!" Sahut Ellea dingin. Ia tidak perlu bersikap ramah pada wanita ular itu. Ellea bisa melihat tatapan Jovie yang memancarkan cinta pada Alice. Itu membuat jantungnya terasa sakit.


"Elle," tegur Jovie menggeleng pelan. Tidak suka melihat gadis itu bersikap kasar pada wanita yang dicintainya.


"Aku pulang," pamit Ellea hanya pada Jovie. Tidak ingin membuat suasana hatinya bertambah buruk, karena Jovie lebih membela Alice di depannya.


"Hati-hati," Jovie menepuk punggung tangan Ellea. Tatapan kesedihan dari mata gadis cantik itu mengusik relung hatinya.

__ADS_1


Ellea mengangguk kaku meninggalkan ruang rawat VIP dengan perasaan terluka.


"Cukup Ellea Hansel, kau tidak boleh menangisi pria yang tidak mencintaimu." Teriak Ellea dalam mobil, meluapkan segala rasa sakit yang menghunus jantungnya. Membayangkan Jovie bermesraan dengan Alice membuat dadanya semakin terasa nyeri.


*


"Apa yang sudah kalian lakukan?" Tanya Alice pada Jovie setelah Ellea pergi meninggalkan mereka. Ada perasaan bangga karena Jovie membelanya.


"Apa yang aku lakukan?" Jovie tersenyum sinis menatap Alice tajam. Dia belum memberikan pelajaran pada wanita ini setelah membuat Ellea seperti cacing kepanasan malam itu. "Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa yang kau inginkan sampai memasukkan obat perangsang dalam minuman Elle!"


Perkataan Alice melukai harga diri Jovie. Selama ini ia memperlakukan wanita itu dengan penuh cinta dan menuruti semua keinginannya. Tapi apa yang ia dapatkan, bukan balasan dari rasa cintanya. Tapi obsesi Alice pada Edric semakin menggila.


"Dan jika itu terjadi aku tidak akan membiarkan Elle sampai memohon padamu. Aku sendiri yang akan dengan senang hati menyerahkan diri padanya. Karena apa yang ada pada tubuhnya lebih indah dari milikmu!" Ucap Jovie dingin.


"Jadi sebaiknya kau tidak perlu menemuiku lagi. Karena aku sudah punya gadis yang lebih hot di tempat tidur." Lanjut Jovie karena marah pada Alice, tapi dia tidak membalas dengan umpatan kasar. Cukup membuat wanita itu kepanasan dan harga dirinya terluka karena dibandingkan.

__ADS_1


Ia masih mencintai Alice, mana mungkin sanggup menyakiti wanitanya ini dengan perkataan kasar dan menyakiti fisiknya.


"Jovie!! Jadi kau sudah tidur dengan gadis itu?" Tanya Alice dengan nada kesal. Padahal dia sendiri yang menjebak pria itu, tapi saat Jovie mengakuinya sendiri Alice merasa tidak rela.


Jovie mengangguk pasti, dia memang tidur satu apartemen dengan Ellea tapi tidak satu tempat tidur. "Itu yang kau mau kan. Lalu apalagi? Semua keinginanmu itu sudah terpenuhi, jadi pergilah sekarang."


"What? Kau mengusirku?" Pekik Alice semakin tidak terima.


"Aku sudah berbicara lembut padamu Alice, jadi pergilah sekarang sebelum aku menyuruh Fredi menyeretmu keluar dari sini." Jovie berucap serius, bodohnya dia berharap Alice mau melihat dirinya setelah Edric menikah. Tapi Alice tetaplah Alice, wanita yang penuh dengan obsesi.


"Kau jahat Jovie!!" Rengek Alice.


"Kau lah yang jahat, tidak sadarkah? Kau sudah menyeret gadis yang tidak bersalah demi obsesimu itu." Tekan Jovie, memanggil Fredi untuk membawa Alice keluar. Ia tidak ingin menyakiti Alice karena tidak bisa menahan emosi di depan perempuan itu.


Meskipun Alice memberontak tidak mau pergi dari ruangannya. Jovie tetap memerintahkan Fredi untuk menjauhkan wanita itu darinya.

__ADS_1


__ADS_2