Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 50


__ADS_3

“Edric!! Apa yang kau lakukan pada Kak Jo?” Teriak Ellea melengking menahan amarahnya mendatangi kamar sang kakak. Hampir saja ia menangis saat menerima kabar kalau Jovie masuk ruang ICU karena dihajar Edric.


“Hentikan suara berisikmu itu ELLEA HANSEL!!” Edric meletakkan piring di tangannya ke atas nakas sebelum dia banting. 


Deandra yang masih mengunyah tidak mengerti dengan apa yang kakak adik itu permasalahkan. Ia bisa mengamati perubahan wajah Edric yang menegang.


"Kau jahat Edric! Kau jahat menyakiti Kak Jo!!" Teriak Ellea mengamuk di depan Edric dengan air mata yang sudah merembes. Tangannya memukul-mukul dada bidang pria itu dengan lemas. Tidak peduli kalau Edric akan semakin marah padanya.


"Itu pantas dia dapatkan karena berani mempermainkanmu!!" Edric menangkap tangan Ellea dan memeluknya. "Don't cry," ucapnya seraya menghapus air mata yang terus merembes di pipi Ellea.


"Kau bisa membunuhnya Edric, kau melakukan ini karena aku atau karena Alice!!" Ellea menantang kilat marah di mata Edric saat ia menyebutkan nama Alice.

__ADS_1


Edric menggenggam tangan kuat sampai buku-buku jarinya memucat. Ia tidak suka nama itu menyapa indera pendengarannya.


Deandra ikut menahan napas mendengar penuturan Ellea. Edric hampir membunuh sahabatnya sendiri karena wanita itu. Baru saja ia ingin memulai memperbaiki hubungan diantara mereka. Namun kenyataan tidaklah berubah, Edric sangat mencintai Alice. Dan rasa cinta itu tidak bisa digantikan olehnya.


"Apa ada alasan lain kalau bukan karenamu? Jika hanya karena si ulat bulu, sudah lama aku menghabisi Kak Jo mu tersayang itu." Edric menekan emosinya meyakinkan Ellea kalau semua yang ia lakukan untuk gadis itu.


Mata elangnya melirik sekilas pada Deandra yang berubah ekspresi. Perempuan memang sangat suka menyimpulkan sendiri apa yang telinganya dengar. Pasti istrinya itu punya pikiran sama seperti yang ada dalam otak Ellea.


Edric menarik napas dengan kasar menarik Ellea untuk duduk di sisi tempat tidur. Ditangkupnya pipi yang masih basah dengan air mata itu.


"Dengar!! Aku memang mencintai Alice tapi rasa cintaku ini tidak menjadikanku bodoh dengan mempertahankan wanita yang jelas berkhianat di belakangku. Gunakan otakmu untuk berpikir jangan mengikuti perasaan. Kak Jo yang sangat kau cintai itu sudah mengkhianati kakakmu ini. Apa rasa cintamu pada Kak Jo-mu itu lebih besar daripada cintamu padaku, hingga kau terus membelanya?"

__ADS_1


Ellea terdiam mendengar ucapan panjang Edric. Kakaknya itu tahu kalau dia mencintai Jovie, apa perasaannya begitu mudah ditebak. Jika ditanya besar cintanya, tentu saja dua pria itu memiliki tempat masing-masing yang tidak bisa ia bandingkan.


Sama halnya seperti Ellea, Deandra juga ikut membeku. Hatinya semakin kecil saat mendengar pengakuan Edric. Secercah harapan dari panggilan sayang yang Edric ucapkan saat di mobil tadi kini meredup. Ia tetaplah bukan siapa-siapa bagi Edric. Padahal Deandra sudah memilih pria yang menjadi suaminya saat ini dibanding orang yang dicintainya.


"Kenapa kau diam, apa benar kau hanya menyayangi Kak Jo-mu itu?" Sindir Edric dengan perasaan ngilu di hati. Bayangan Jovie bercinta dengan Alice membuatnya muak.


Ellea menggeleng pelan menghambur ke pelukan Edric. "Aku mencintaimu sebagai kakakku. Tapi aku juga mencintai Kak Jo sebagai seorang pria," akunya dengan pelan. Ini kali pertama Ellea mengakui perasaannya pada orang lain.


Edric mengusap rambut panjang Ellea dan mengecup puncak kepalanya dengan lembut.


Deandra meneguk saliva melihat Edric yang begitu perhatian pada Ellea. Apa Edric juga begitu saat bersama Alice, sangat berbeda ketika bersamanya. Pria itu selalu marah-marah, tadi saja ia harus memohon-mohon dulu agar Edric mau menyuapinya.

__ADS_1


__ADS_2