
“Elle,” Edric membawa sang adik dalam pelukan. “Kenapa Sayang?”
Ellea menggelengkan kepala, memeluk Edric semakin erat. Kadang ia pesimis bisa berjalan normal kembali. Merasa lelah dengan terapi dan pengobatan yang dilakukan, namun tidak ada perubahan.
"Semua perlu proses Sayang, tidak ada yang instan. Elle-ku ini kuat," sebut Edric sembari mengelus-elus rambut Ellea. Mengerti dengan kerisauan adik kecilnya.
Deandra yang sekarang mudah tersentuh ikut menangis memeluk Ellea. Ia lebih suka melihat adik iparnya ini kesal dan marah-marah daripada menangis. Kalau Ellea menangis, hatinya jadi tersentil karena merasa bersalah.
"Nahkan ikut nangis juga, Baby jadi sedih kalau kalian menangis." Pria itu memeluk keduanya dengan sayang. Sudah tidak heran melihat Deandra dan Ellea menangis bersamaan apa lagi bertengkar.
"Sebentar lagi. Ingusnya belum keluar," sebut Ellea. Mendongakkan wajahnya sambil menyengir dengan pipi yang masih basah. Membuat Edric tersenyum, membersihkan air mata di pipi sang adik.
"Elle kau jorok sekali!" Deandra memukul pelan bahu Ellea.
"Kau mau?" Gadis itu mengambil tisu menyapukan ke hidungnya lalu diberikan pada Deandra.
"Elle!" Pekik Deandra jijik.
Edric yang berada di tengah-tengah keduanya mengerutkan kening, belum lima menit mereka menangis bersamaan sekarang sudah bertengkar lagi.
__ADS_1
"Nih masih banyak," ujar Ellea kembali menyapu hidungnya dan memberikan tisu bekas pada Deandra.
"Edric, Elle Jorok!" Wanita hamil itu berlindung di belakang punggung sang suami. Merasa jijik pada tisu-tisu yang Ellea lempar padanya.
"Elle, jangan nakal!" Tegur Edric mengambil tisu-tisu itu dan melemparnya ke tempat sampah.
Gadis yang ditegur menyengir lebar, sudah benar-benar berhenti menangis. Dan membuat kakak iparnya ikutan berhenti menangis.
Edric sudah terbiasa dengan tingkah istri dan adiknya ini. Semenjak Ellea keluar dari rumah sakit ia berusaha untuk selalu menemani sang adik kalau Dad Harry dan Mom Linn tengah sibuk.
"Elle, ayo jalan-jalan."
Suara Jovie membuat Ellea menoleh. Ia sampai bosan mengusir pria itu, gara-gara Dad Harry mengijinkannya masuk ke mansion jadilah pria itu selalu datang mencarinya.
"Sana kau jalan-jalan, hari ini baby mau dimanja-manja Dadnya." Suruh Deandra, jika Edric hanya memihak pada Ron. Maka ia membuka jalan pada Jovie untuk bersama Ellea. Karena tahu adik iparnya itu masih mencintai Jovie.
Deandra percaya seorang pria bisa berubah saat bersama wanita yang tepat, walau tidak berlaku untuk semua para pria. Tapi ia belajar dari Dad Tian yang sanggup meninggalkan dunia kelamnya saat bersama Buba Ressa.
"Aku tidak mau, kau saja sana kalau mau jalan-jalan!" Ketus Ellea pada kakak iparnya.
__ADS_1
"Kita berjemur di taman," bujuk Jovie mengulurkan tangan ingin menggendong gadis yang masih menempel pada Edric. Walau tidak melarangnya bertemu Ellea tapi sahabatnya itu masih bersikap dingin padanya.
Ellea mendongak pada Edric, berharap kakaknya itu mengusir Jovie. Tapi malah tidak berkomentar dan melakukan apa-apa.
"Ayo, aku ada hadiah buat kau." Tanpa persetujuan Jovie mengambil Ellea dari Edric. Suami Deandra itu pun tidak melarang karena ada sang istri di sampingnya.
"Apa?" Ellea sadar hatinya yang rapuh ini tidak akan kuat kalau Jovie terus memperlakukannya dengan penuh kelembutan seperti akhir-akhir ini.
"Latihan jalan dulu baru aku kasih hadiahnya." Pria itu menurunkan sang gadis dari gendongan, mendudukkannya di kursi taman.
"Ish aku sudah latihan jalan tadi," tolak Ellea.
"Kali ini jalannya gak pake alat bantu, ayo." Jovie tersenyum menapakkan kaki Ellea ke tanah dan melepaskan alas kakinya.
"Kak Jo, kakiku kotor." Pekik Ellea, merasa geli karena tidak pernah berjalan tanpa menggunakan alas kaki.
"Tidak apa, nanti kakinya bisa dicuci. Tanpa alas kaki seluruh otot kaki dan sekitarnya bekerja sehingga dapat lebih kuat menopang tubuh." Jovie menuntun Ellea dengan pelan berjalan-jalan memutari taman.
"Kak Jo aku capek," keluh Ellea setelah cukup lama dipaksa Jovie latihan berjalan. Keringatnya sampai bertetesan.
__ADS_1
"Kita istirahat," Jovie membawa Ellea kembali duduk di kursi taman dan meminta pelayan membawakan air minum. Pria itu dengan perhatian melap keringat Ellea dengan sapu tangan.
Ellea hanya bisa menghela napas panjang, tidak tahukah pria di sampingnya ini kalau sejak tadi jantungnya dibuat berlarian.