
"Masih capek?" Jovie membawa kaki Ellea ke atas pangkuan lalu memijatnya.
Bukannya menjawab, Ellea malah memindahkan kakinya. Tidak ingin hatinya semakin tertaut pada Jovie. Sudah cukup rasa sakit dari cintanya ini. Walau pria itu berubah semakin perhatian padanya tetap saja, ia takut terperangkap semakin dalam.
"Tolong antar aku ke kamar," pinta Ellea.
"Kau tidak mau hadiahnya?" Lelaki itu menarik kaki Ellea kembali, mengeluarkan gelang kaki dari sakunya lalu memasangkan di pergelangan kaki sang gadis.
"Terima kasih sudah berusaha keras untuk pulih," ucap Jovie dengan tersenyum manis. Menepuk-nepuk kaki Ellea kemudian menurunkan dari pangkuannya. Tahu Ellea masih menghindar darinya. Tapi ia tidak akan menyerah untuk membuat gadis itu kembali membuka hati untuknya.
Wanita mana yang tidak akan meleleh kalau diperlakukan seperti itu. Apalagi oleh pria yang ada di hatinya. Selalu saja Jovie menyusahkannya, menyusahkan hatinya untuk bersembunyi.
"Lea ayo masuk?" Ajak pria yang sedari tadi mengamati interaksi Ellea dan Jovie.
Tubuhnya jadi gerah melihat sang gadis bersama pria lain. Ingin marah tapi tidak bisa, ia sudah berjanji untuk tidak menghalangi apapun yang membuat Ellea bahagia. Meskipun gadis itu lebih memilih cintanya. Edric yang memanggilnya datang ke mansion pagi ini, padahal ia berniat menemani Ellea nanti malam.
Suara Ron membuat Ellea menoleh dan tersenyum mengulurkan tangan minta dibantu masuk ke mansion. Untung lelaki itu datang di waktu yang tepat, sebelum hatinya semakin tidak karuan berada di samping Jovie.
__ADS_1
"Istirahatlah, aku pulang dulu." Jovie mengusap lembut belakang kepala Ellea. Ingin rasanya saat itu juga ia menghajar Ron yang mengganggu waktunya bersama sang gadis.
Ellea menganggukkan kepala, dituntun Ron masuk ke mansion.
Jovie hanya bisa menghela napas dengan kasar melihat kepergian Ellea. Setelahnya ia kembali ke apartemen dengan emosi yang meletup-letup.
Sesampainya di apartemen Jovie melihat Alice sedang berdiri di depan pintu menunggunya. Membuat emosinya semakin meledak. Untuk apa wanita itu datang kembali.
"Hei kenapa kau ada di apartemenku!" Bentak Jovie pada wanita yang sedang tidak ia inginkan kehadirannya.
"Tidak, aku tidak ada meminta kau kemari!" Jovie membuka pintu apartemen, meninggalkan Alice malas meladeninya.
"Ya sudah aku pulang," sahut Alice sebelum Jovie menutup pintu. Sadar kehadirannya tidak diinginkan. Semua sudah berubah, Jovie tidak lagi memandangnya penuh cinta seperti dulu.
Jovie lagi-lagi menghela napas dengan kasar menoleh pada Alice. Dia tidak ada mengirim pesan pada Alice, lalu siapa yang melakukannya.
"Punya uang?" Tanyanya, meskipun tidak menginginkan Alice lagi. Tapi tetap saja wanita itu pernah bertahta di hatinya dan ia sangat paham dengan kondisi keuangannya saat ini.
__ADS_1
"Ya," Alice mengangguk meninggalkan apartemen Jovie. Ia datang bukan untuk minta dikasihani, tangan dan kakinya masih mampu untuk mencari uang sendiri.
"Pinjam ponselmu," tahan Jovie. Merasa harus mencari tahu siapa yang berbuat iseng. Atau sengaja ingin menjebaknya.
Alice memberikan saja ponselnya, tidak ingin ambil pusing Jovie mau melakukan.
Jovie berdecak setelah memeriksa ponsel Alice, "kau masih tinggal di apartemen orang itu?" Tanyanya menyelidik.
Wanita itu mengangguk saja, dimana lagi dia bisa tinggal gratis. Lagian ia tidak bisa terlepas dari orang itu begitu saja.
"Mau sampai kapan kau dimanfaatkannya?" Jovie menarik Alice masuk, tidak enak kalau ada yang melihat mereka berbicara di depan pintu.
"Aku tidak bisa pergi dari sana sebelum membuat istri Edric kembali padanya," lirih Alice.
"Lalu saat itu terjadi kau ingin mengambil Edric kembali!" Jovie tersenyum sinis.
"Dia tidak akan melepaskanku kalau tidak melakukannya," ungkap Alice. Membuat Jovie menghela napas panjang, mengerti akan ke khawatiran perempuan di depannya ini.
__ADS_1