
"Darimana?" Tanya Edric yang terbangun dan mendapati tidak ada Deandra di sampingnya.
"Dari ruangan Dad Tian," jawab Dea.
Edric menepuk bantal di sampingnya mengisyaratkan gadis itu untuk berbaring. Setelah Deandra berbaring Edric memeluknya erat. Dia merasa tenang berada dalam pelukan Deandra.
Di tengah kebingungannya dengan perlakuan Edric, Deandra hanya diam. Tidak lama setelahnya pria itu kembali tertidur.
"Kau kenapa?" Gumam Dea menyisir rambut hitam legam Edric dengan jemarinya.
Netranya masih enggan terpejam. "Bagaimana keadaan Om?" Tanyanya dalam hati. Kenapa Om selalu bersikap kejam pada orang lain. Sedang dengannya penuh dengan kelembutan.
Lama Dea termenung memikirkan Om Azmi sambil menyelami wajah tampan suaminya yang tertidur dengan dengkuran kecil. Tangannya dengan usil menusuk-nusuk pipi Edric.
"Alice jangan nakal Sayang," Edric menangkap tangan Dea dan menahannya di pipi.
Deg!!
Dea terdiam, ada rasa nyeri yang menusuk ulu hatinya. Ternyata Edric bersikap manis padanya karena berpikir dia adalah Alice. Dengan perlahan Dea menyingkirkan tangan Edric dan bangun dari sisinya.
Ia mengambil bantal dan selimut kemudian berbaring di sofa. Matanya masih enggan terpejam walau tubuhnya sangat lelah. Tadinya Dea merasa bersalah karena sudah membuat perusahaan Edric bangkrut. Tapi sekarang, entahlah.
Keesokan paginya
"De, kenapa tidur di sofa?" Edric beranjak dari tempat tidur mendekati Deandra.
__ADS_1
"Kau tidur tidak bisa diam, menendang-nendangku." Bohong Deandra sambil menggeliat, sekarang dia harus bersikap biasa saja. Jangan sampai termakan sikap manis Edric. Itu akan membahayakan kesehatan hati dan jantungnya.
"Aku gak mau ya dibunuh Dadmu hidup-hidup kalau tahu putri kesayangannya tidur di sofa," decak Edric.
"Dad tidak akan tahu kalau kau tidak bercerita." Deandra tersenyum, "gimana sudah lebih baik perasaannya pagi ini." Katanya menepuk pipi Edric yang mendekati wajahnya.
Edric mengangguk ingin mengecup kening Deandra namun gadis itu menghindar.
"Bersikaplah seperti biasa Edric, jangan buat aku klepek-klepek karena sikap manismu ini." Canda Dea, padahal hatinya mengatakan serius. Takut tepesona oleh perlakuan Edric.
"Bagus kalau kau jatuh cinta padaku," Edric tersenyum mengecup pipi Deandra namun lagi-lagi gadis itu menghindar.
"Kau kenapa? Tidak mau ku manjakan, hm?" Tanya Edric, "katanya suka diperlakukan lembut dan disayang seperti yang dilakukan om-mu tersayang itu."
"Tidak perlu, aku bau jigong belum mandi." Deandra bangun dari tidurannya sambil menguap agar Edric ilfeel.
"Biarlah, bau jigongmu itu cuma aku yang bisa menciumnya." Edric duduk di samping Deandra dan langsung memeluknya.
"Kenapa jadi suka peluk-peluk sih!!" Risih Dea melepaskan rengkuhan Edric.
"Aku sudah kecanduan pelukanmu, ternyata nyaman. Kalau tahu gini dari dulu aku minta di peluk," Edric malah semakin menguatkan pelukannya.
Ia ingin tahu apa alasan Deandra menolak perlakuan manis yang sudah susah payah dia lakukan agar gadis ini terpesona padanya dan melupakan om-om itu.
Deandra menarik napas pelan, "kau nyaman denganku atau hanya menjadikanku pelampiasan dengan menganggapku sebagai Alice." Kalimat itu hanya bisa diungkapkannya dalam hati.
__ADS_1
"Kau tidak suka aku peluk?" Edric melepaskan pelukannya karena Dea terus bergerak tidak mau diam. Itu menyulitkan adik kecilnya yang sudah terbangun.
"Aku bukan Alice Edric, sadarlah." Ucap Dea pelan dengan tatapan kecewa.
"Aku tahu kau itu Deandra Hansel, bukan si penghianat itu. Aku tidak suka mendengar namanya," tegas Edric.
Deandra mencibir, "kau itu tidak suka mendengar namanya. Tapi menyebutnya dalam tidur!!" Sindirnya.
"Apa? Aku menyebut namanya?" Tanya Edric tidak percaya. Saking merindukan Alice dia sampai menyebutkan namanya dalam tidur.
"Iya, untuk apa aku berbohong. Tidak ada untungnya!!" Ketus Deandra.
"Oh, jadi kau berpindah tidur ke sofa karena cemburu aku menyebut nama." Ucap Edric dengan kepercayaan diri selangit. Dia merasa senang mengetahui Dea punya rasa cemburu.
"Mana ada aku cemburu. Aku berpindah tidur itu karena suaramu mengganggu kupingku!!" Deandra berdecak kesal, bisa-bisanya Edric menganggapnya cemburu.
"Ah masa," Edric mencubit gemas pipi Deandra. "Ngaku deh kalau cemburu," katanya semakim menggoda.
"Edric berhenti, aku mau siap-siap kuliah!!" Deandra mengempas tangan Edric dengan kesal lalu beranjak ke bathroom.
"Aku ikut mandi!" Seru Edric semakin usil, kalau seperti ini tidak terlihat lagi si Mr. Arrogant.
"Jangan macam-macam Edric!" Deandra semakin dibuat kesal.
"Cuma satu macam!! Mau ikut mandi," Ujar Edric dengan cengiran lebar masuk ke bathroom lebih dulu.
__ADS_1
Deandra mengalah, menghela napas dengan berat. Membiarkan saja Edric mandi duluan.