
Satu bulan kemudian.
“Mr. Arrogant,” panggil Deandra. Mencari-cari Edric di kamar, sampai ke ruang kerjanya.
“Hm,” jawab Edric tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran teman bertengkar sekaligus pelayannya di apartemen ini.
“Ed, aku boleh pulang. Kangen Dad Tian, Buba Ressa, Mom Aru, Dad Denis.” Sebut Deandra satu persatu sambil mengetuk-ngetukkan jemari di meja Edric, menunggu jawaban.
“No!” Jawab Edric, sengaja ingin membuat Deandra kesal. Tidak ada hiburan kalau gadis itu tidak marah-marah.
Deandra memanyunkan bibir, duduk di meja Edric sambil memainkan keyboard milik suaminya itu.
“De, tangannya. Aku masih banyak kerjaan.” Edric menggenggam tangan Dea agar tidak usil. Tapi gadis itu menggeleng, memainkan tangan yang satunya.
“Boleh please. Sudah satu bulan gak ketemu Daddy," mohon Deandra.
“Sekali tidak tetap tidak Deandra Hansel! Siapa yang akan melayaniku kalau kau tidak ada.” Tegas Edric, dia akan kesepian kalau ditinggal Dea pulang. Membuat Deandra marah dan memarahinya sudah jadi hiburan untuknya.
“Aku Deandra Adley, bukan Deandra Hansel! Dan aku bukan pelayanmu!!” Ralat Deandra dengan ketus.
__ADS_1
"Kau pelayanku!!" Edric tersenyum meremehkan.
"Aku akan tetap pulang!!" Kekeuh Deandra menutup paksa laptop Edric.
“Oke, nanti aku antar.” Pasrah Edric, pekerjaannya akan terganggu kalau Deandra masih ada di dekatnya.
“Aku mau menginap,” ucap Deandra mengayun-ngayunkan tangannya yang masih dalam genggaman Edric.
“Ini ya dikasih hati minta jantung!” Edric mencubit pipi Deandra sampai memerah.
“Sakit,” rengek Deandra.
Dengan wajah cemberut Deandra turun dari meja, dari pada fisiknya disakiti Edric. Sudah satu bulan ini Edric mengawasinya dengan ketat agar dia tidak bertemu dengan Om Azmi lagi.
Ia tidak boleh kemana-mana, karena apartemen inipun di jaga pengawal. Usai kuliah Deandra harus sudah berada di apartemen, begitulah setiap hari kegiatannya. Sangat membosankan, seperti hidup dalam penjara.
“Hahh!!” Edric membuang napas dengan kasar. Semakin hari Deandra semakin berani dengannya. Malahan tidak segan-segan bersikap manja.
Malas memikirkan Deandra, Edric menghubungi kekasihnya. Tapi tidak ada jawaban, dia berencana menikahi Alice secepatnya setelah rencananya berhasil. Kekasihnya itu juga sudah berjanji tidak mengusik Deandra lagi kalau mereka menikah. Ia tinggal memikirkan cara menghadapi Dad Harry dan mertuanya.
__ADS_1
Karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Alice, akhirnya Edric memutuskan untuk datang langsung ke apartemen kekasihnya.
Sesampainya di apartemen Edric langsung masuk. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar saat mendengar suara khas orang yang sedang bercinta yang saling bersahutan. Tidak mungkin Alice bercinta dengan pria lain. Pasti kekasihnya itu sedang menonton film panas, pikirnya dalam hati.
“Sayang,” Edric memanggil kekasihnya untuk memberikan kejutan. Namun dialah yang mendapatkan kejutan saat pintu kamar terbuka.
Netra Edric menatap nanar pemandangan yang ada di depan matanya. Pria dan wanita yang sedang melakukan kegiatan panas itu tersentak kaget langsung menghentikan aktivitas mereka.
“Jovie apa yang kau lakukan!!” Teriak Edric murka. Menarik pria yang tubuhnya dipenuhi tanda percintaan itu untuk berdiri. Lalu memberikan bogem mentah berkali-kali, sampai sahabatnya itu tersungkur di lantai sebelum melakukan perlawanan.
Sedang Alice mencengkram selimut dengan kuat karena ketakutan melihat kemarahan Edric.
“Ternyata ini yang kalian lakukan di belakangku!!” Murka Edric.
“Babe, aku bisa jelaskan!!” Lirih Alice berharap Edric mau memaafkannya. Dia tidak ingin kehilangan Edric, karena sebentar lagi mereka akan menikah.
“Aku tidak butuh penjelasan dari mulutmu itu, silahkan kemasi barang-barangmu dan keluar dari apartemen ini. Tiga puluh menit dari sekarang!!” Setelah mengucapkannya Edric membanting pintu kamar dengan kasar. Memerintahkan Ron untuk mengurus Alice agar jadi gelandangan.
“Aaaarrrghhh, damn!! Mereka berkhianat di belakangku.” Teriak Edric sangat marah sambil memukul setir mobil. Kenapa selama ini ia menutup mata dengan kedekatan Jovie dan kekasihnya. Ia pikir Jovie benar-benar menjaga Alice karena merupakan sahabatnya sejak kecil.
__ADS_1