
Sudah satu minggu ini Edric mendiamkan Deandra. Pria itu hanya berbicara seperlunya. Deandra yang ingin mengajak Edric bicara selalu mengurungkan niatnya. Suaminya itu selalu menghindar saat ia mengajak bicara dari hati ke hati.
"Ed, aku hari ini boleh ke mansion Dad Tian?" Ijin Deandra saat sarapan, karena merasa kesepian diabaikan Edric. Ellea masih belum bangun, jadi mereka hanya sarapan berdua.
"Ya, nanti supir yang mengantar kau kesana. Aku tidak bisa mengantar," jawab Edric tanpa menatap ke arah Deandra.
"Boleh menginap?" Tanya Deandra. Edric hanya memberikan jawaban dengan anggukan kepala.
"Biasanya kau melarangku menginap di mansion Dad Tian. Tapi sekarang seperti tidak peduli aku mau kemana saja."
"Aku boleh bicara?" Deandra kembali bertanya, mungkin ini saat yang tepat untuk mereka bicara.
"Selesaikan makanmu, aku akan memberitahu supir untuk bersiap mengantarmu." Ucap Edric lalu meninggalkan meja makan lebih dulu, padahal dia belum selesai sarapan.
Deandra menatap sarapan di piringnya dengan perasaan hampa. Hatinya mencelos, "aku sudah belajar untuk mencintaimu. Tapi kau malah menyerah untuk belajar mencintaiku. Aku tahu melupakan masalalu itu sulit, tapi aku berusaha untuk melepaskannya."
__ADS_1
Usai sarapan Deandra langsung diantar supir ke mansion Adley. Wanita itu membawa hatinya yang terluka, apa ini saatnya dia menyerah. Edric tidak mau diajak bicara, bagaimana masalah ini bisa selesai.
"Honey, tumben sendirian?" Tian menyambut putri dengan merentangkan tangan.
"Edric gak bisa antar hari ini Dad, dia ada kerjaan yang gak bisa ditinggal." Jelas Deandra berbohong, tidak mau orang tuanya tahu kalau hubungan mereka sedang renggang.
Dia akan menyelesaikan masalahnya sendiri. Kecuali kalau nanti sudah mentok tidak punya jalan keluar lagi barulah meminta tolong Dad Tian untuk bicara dengan Edric.
"Lalu kenapa pulang sendiri kalau Edric gak bisa antar?" Tanya Tian menyelidik.
"Ish Daddy gak senang banget aku pulang. Aku kan kangen sama Daddy tahu," Deandra bergelayut dengan manja di pelukan Dad Tian.
"Kenapa masih belum ada cucu Daddy yang kangen, hm." Goda Tian pada putrinya.
"Dea masih suntik KB," bisik Deandra di telinga Dad Tian agar tidak terdengar sang buba yang berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
"Daddy mau punya cucu," pinta Tian.
"Dad," Deandra menggeleng pelan. Bagaimana dia berani memiliki anak kalau Edric saja tidak bisa membuat hatinya yakin untuk memiliki keturunan. Ia takut anaknya nanti kekurangan kasih sayang sang ayah seperti dirinya waktu kecil dulu.
"Edric tidak akan bisa meninggalkanmu kalau kau punya anak." Bisik Tian yang tahu kalau putrinya itu sedang punya masalah dengan Edric. Deandra tidak akan pulang kalau hatinya tidak sedang kalut seperti ini. Tian tahu itu, tanpa harus putrinya bercerita.
Deandra kembali menggelengkan kepala, "aku takut Dad. Walaupun aku punya anak Edric bisa saja meninggalkanku kapanpun yang dia mau," lirihnya sendu.
"Sstt, gak boleh bicara seperti itu." Tian mengusap rambut panjang putrinya dengan sayang. Tidak melanjutkan ucapannya karena sang istri sudah didekat mereka.
"Eeeee sudah punya suami masih saja manja sama Daddy," tegur Ressa.
"Kangen, lama gak dimanja Daddy." Jawab Deandra dengan senyuman sumringah. "Mentang-mentang Dea sudah punya suami masa gak boleh manja-manja lagi sama kalian," sungutnya cemberut.
"Ya iyalah gak boleh. Kan sudah punya suami, jadi minta manja sama suami sendiri. Inikan suami Buba," seru Ressa mencubit pipi putrinya gemas. Mereka sudah jarang bisa bersama seperti ini lagi semenjak Deandra menikah.
__ADS_1
Deandra hanya meleletkan lidah, semakin menguatkan pelukannya pada Dad Tian untuk menggoda ibu sambungnya.
"Aku juga mau selalu mesra seperti kalian sampai menua bersama," gumam Deandra dalam hati. Tapi apakah bisa itu terjadi pada dia dan Edric.