
"Ron kau ajak Elle kemana?"
Pertanyaan Edric dari seberang telepon membuat Ron yang sedang memeriksa berkas menghentikan aktivitasnya. Melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangan. Sekarang sudah pukul empat sore, itu artinya Ellea tidak pulang ke rumah.
"Apa dia ikut Jovie?" Tanyanya pada diri sendiri.
"Aku sedang di kantor, mungkin dia bersama Jovie." Jawab Ron dengan perasaan murka, tapi tidak bisa meluapkannya. Siapa dia dihati Ellea sehingga bisa mengungkapkan kecemburuannya ini.
"Tidak ada. Mom Linn sudah menanyakannya pada Jovie," ujar Edric. "Kau lanjutkan saja pekerjaanmu, aku yang mencari Elle sendiri." Putusnya ketika mendengar Ron menghela napas berat. Mengerti kalau pria itu sedang kecewa pada sang adik.
"Ya," jawab Ron singkat mematikan sambungan telepon terlebih dahulu. Pria itu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Bisa tidak kau tidak membuat orang khawatir Lea, kalau istriku sudah kukurung kau di kamar!!" Decak Ron beranjak dari kursi. Mana bisa dia tinggal diam. Kalau gadis itu kenapa-kenapa dia bisa mati dihantui perasaan bersalah.
Di seberang sana Edric yang mendapati teleponnya dimatikan Ron secara sepihak berdecak kasar. "Berani sekali dia memutus panggilanku duluan!!"
"Ayang, cuma telepon yang dimatiin duluan marah-marah." Tegur Deandra cekikikan.
"Tidak sopan Sayang, aku ini calon kakak iparnya. Berani sekali dia seperti itu padaku!!" Tukas Edric yang masih kesal.
Deandra berdecak, "masih saja Arrogant tidak hilang-hilang, sudah punya anak juga."
"Bukan arrogant Sayang, cuma kesal. Aku tidak suka ada orang yang menentangku. Kau pengecualian sekarang," Edric mengecup singkat bibir sang istri. Tentu saja pengecualian, karena rasa cintanya. Walau keinginan Deandra selalu bertentangan dengannya.
"Itu namanya arrogant Ayang," kekeuh Deandra mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
"Bukan Sayang," bantah Edric yang akhirnya membuat mereka berdua tertawa saat sadar sedang membahas hal yang tidak penting.
__ADS_1
"Katanya mau mencari Elle, pergi sana. Kalau Elle kabur lagi gimana?" Meskipun sering bertengkar dengan adik iparnya itu. Tetap saja Deandra khawatir kalau Ellea kenapa-kenapa.
"Biar Zain yang mencarinya," suami Deandra itu mengirimkan pesan pada asistennya untuk mencari keberadaan Ellea.
"Kau tidak takut Zain jatuh cinta pada Elle, hm. Adikmu itu cantik dan sangat menarik bagi laki-laki, apalagi Zain masih muda." Deandra berujar yang membuat Edric menghentikan jarinya mengirim pesan pada sang asisten. Pria itu langsung menghubungi Jovie untuk mencari Ellea.
"Kenapa Jovie?" Tanya Deandra dengan kening berkerut setelah sang suami selesai berbicara dengan Jovie.
"Daripada memperumit hidup Elle kalau ada yang jatuh cinta padanya lagi. Jadi lebih baik aku menyuruh Kak Jo tersayang Elle itu. Karena aku sudah melihat cinta di hatinya untuk Elle," urai Edric.
"Tapi bukankah kau tidak setuju dan membencinya?" Tanya Deandra semakin penasaran.
"Bagaimana kalau kebencianku ini membuat Elle semakin terluka Sayang. Kau tahu, selain Mom Linn dan kau. Elle adalah salah satu perempuan yang sangat aku sayangi dan ingin ku bahagiakan. Kita tidak bisa memaksa takdirkan, dan aku ingin Elle memilih takdirnya sendiri."
"Sayang suamiku," ucap Deandra bangga. Ia bukan memihak Jovie, hanya saja tidak ingin Ellea tersiksa karena hidupnya terlalu diatur. Terutama masalah percintaan, biar adik iparnya itu memilih jalannya sendiri.
"Kalau sayang, kapan boleh pulang. Bosen disini," cemberut Deandra.
"Besok kita pulang sayang."
"Aku boleh lanjut kuliah lagi?" Tanya Deandra yang langsung diangguki Edric.
"Tentu saja, kau bisa mengejar impianmu kembali. Kita jaga Baby Calla sama-sama, Sayang."
"Tapi aku tidak mau baby di jaga orang lain tanpa pengawasan, sedang Mom Linn dan Dad Harry sebentar lagi mereka kembali ke Inggris sama Elle. Lalu siapa yang jaga baby kalau aku kuliah dan Daddy kerja."
"Dea maunya gimana Sayang?" Edric tahu saat Deandra berbicara seperti itu pasti sudah memikirkan perancangan di kepalanya.
__ADS_1
"Boleh kita tinggal sama Dad Tian sampai aku selesai kuliah. Atau sampai Mom Linn kembali ke Indo baru kita pindah lagi, biar ada yang mengawasi Baby Calla." Ujar Deandra hati-hati, karena Edric pasti tidak bisa akur sama Dad Tian.
"Boleh Sayang, sementara sebelum Dea masuk kuliah kita tinggal di mansion Dad Harry dulu ya." Walau berat hati menyetujuinya, tapi apa yang Deandra bilang benar. Mereka tidak bisa melepas putri mereka sepenuhnya tanpa pengawasan.
Deandra mengangguk setuju, "terima kasih Ayang."
"Kalau manis gini jadi pengen kumakan deh," Edric menggigit gemas hidung Deandra.
"Kasihannya cucuku dianggurin," Tian tiba-tiba masuk mendekati box bayi. Sengaja tidak memberi kabar kalaubingin datang ke rumah sakit.
Edric yang hampir saja mengulum bibir sang istri menghentikan aksinya saat kedatangan tamu tak diundang di sore hari.
"Kalian pacaran saja, bikinkan Buba cucu lagi. Cucu yang ini Buba bawa pulang," goda Ressa yang membuat Deandra melotot.
"Buba kalau mau bikin saja sendiri. Tuh Daddy masih kuat kan bikin adek," celetuknya asal.
"Honey, serius mau punya adek lagi yang seusia anakmu ini?" Tanya Tian yang sudah memindahkan sang cucu ke gendongannya dengan hati-hati. Karena tubuh bayi itu masih sangat gemulai.
"Mas," Ressa memukul bahu sang suami yang menanggapi ocehan asal Deandra.
"Kalau Dea mau punya adek lagi gak papa Sayang. Kita bisa buat adonannya setiap malam." Pria itu mengerling genit, yang membuat sang istri malu-malu kucing.
Deandra menghela napas jengah, Dad Tian itu masih saja seperti anak remaja kalau sedang menggoda Buba Ressa. Dan Buba juga, pipinya langsung bersemu merah seperti anak Abg baru jatuh cinta.
"Buat saja kamu sendiri Mas, jaga anak satu saja suka marah-marah mau nambah lagi." Seloroh Ressa untuk menyembunyikan rasa malunya. Membuat Edric dan Deandra tertawa gelak.
"Sstt, jangan ketawa keras-keras nanti cucuku bangun!" Tegur Tian.
__ADS_1
Deandra langsung menahan tawa dan membekap mulut sang suami agar berhenti tertawa.