Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 45


__ADS_3

Deg!!


"Edrik tahu?" Batin Ellea cemas, berusaha sekuat mungkin menyembunyikan ketakutannya.


"Lalu kalau kau tahu pakaian itu milik siapa memangnya kenapa?" Ellea memberanikan diri membalas tatapan tajam Edric dengan angkuh.


"Kenapa kau bilang?" Pria itu mencengkram kuat rahang Ellea. Dengan amarah yang semakin memuncak. Atmosfer kamar mewah itu mengeluarkan hawa membakar.


Ellea baru pernah melihat Edric sampai marah seperti ini. Apa kesalahannya sangat besar sampai sang kakak menyakitinya.


"Aku tidak suka kau memiliki hubungan dengan si brengsek itu!!" Edric menghempaskan tangannya, rahang Ellea bisa remuk bila terus di cengkeramnya.


"Apa yang salah, hanya karena sahabatmu itu kau menyakitiku." Ucap Ellea pelan karena rahangnya sangat sakit.


"Dia bukan sahabatku!!" Edric mengusap wajahnya kasar dengan telapak tangan. Tangannya ini sudah menyakiti sang adik tersayang. Ia menarik napas berulang kali dan menghembuskannya dengan kasar sebelum membelai pipi Ellea lembut.

__ADS_1


"Jauhi Jovie, karena tidak ada sahabat yang mengambil milik sahabatnya sendiri. Dan tidak ada sahabat yang diam-diam ingin memangsa adik sahabatnya." Edric berkata lebih lembut setelah berhasil mengendalikan amarah. Dia akan menyelidiki sendiri apa yang terjadi dengan Ellea tadi malam.


Bagaimanapun Edric memaksa Ellea bicara, adiknya ini tidak akan buka suara akan hal yang menyangkut keamanan Jovie.


"Aku tidak mengerti maksudmu apa?" Ujar Ellea dengan pikiran berkecamuk. Jadi benar Jovie sering tidur dengan Alice seperti yang dikatakan mak lampir itu. Pantas saja tadi malam tidak takut takut saat ia ingin mengadukan pada Edric. Ternyata sang kakak sudah mengetahuinya.


Dan, apa yang terjadi dengannya tadi malam itu sudah direncanakan Jovie. Ellea memegangi dadanya yang terasa sakit.


"Kau pasti mengerti," Edric memeluk adiknya yang terlihat terluka. Walaupun Ellea tidak pernah mengatakan tapi dia tahu kalau adik kecilnya ini mencintai sang sahabat sedari dulu.


"Bukan aku yang harus kau khawatirkan. Tapi hatimu," Edric mengelus rambut pirang Ellea dengan sayang.


"Kenapa hatiku? Kak Jo bukanlah siapa-siapa aku. Lalu kenapa hatiku harus dikhawatirkan." Ellea tersenyum saat sudah bisa mengendalikan perasaannya.


Edric berdecak melepaskan pelukan Ellea, "kau ini selalu memanggil bajingan itu dengan sebutan kak. Denganku tidak pernah begitu," ketusnya.

__ADS_1


"Oh, jadi kakak tersayangku ini juga ingin di panggil kakak." Goda Ellea memeluk Edric dari belakang, mengabaikan perasaan yang semakin menikam jantungnya. Tidak ada yang boleh tahu kalau dia sangat mencintai Jovie.


"Ck, kau centil seperti ini juga pada Jovie tadi malam?"


"Kau ini, selalu menganggapku semurahan itu!!" Rajuk Ellea.


"Karena itu yang selalu kau lakukan, tapi tidak sadar diri." Edric menoyor kepala Ellea agar segera sadar. "Cuci otakmu pakai detergen biar bersih dan gunakan pelembab setelahnya agar lembut."


"Edric, aku bukan pakaian!!"


"Habisnya otakmu ini hanya digunakan buat pajangan seperti pakaian, jadinya berdebu." Sekali lagi Edric menoyor kepala Ellea yang berada di belakangnya dengan semangat empat lima.


"Otakku bukan pakaian berdebu Edric!! Kasihan pakaian kalau disamakan dengan otakku yang brilian ini!! Eh salah, otakku yang kasihan kalau disamakan dengan pakaian."


Edric mendengus pelan, berbeda dengannya yang mudah tersulut emosi. Ellea memang pandai mengendalikan diri, walau sikap angkuh Dad Harry tetap menurun padanya. Tapi dia tahu hati adik kecilnya ini sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Awas kau Jovie, aku tidak akan melepaskanmu!! Jangan berharap aku memaafkanmu!!"


__ADS_2