
"Honey," Jeri yang sudah menunggu kedatangan keponakannya merentangkan tangan.
"Are you okay?" Tanyanya. Deandra hanya menjawab dengan anggukan.
"Dad-mu sedang marah besar. Lunakkan hatinya," bisik Jeri. Ia bisa merasakan kalau sang sepupu itu sedang menahan amarahnya.
Lagi-lagi Deandra mengangguk lalu duduk diantara Dad Tian dan Dad Denis.
"Siapa yang mau menjelaskan lebih dulu?" Denis menatap dingin Edric dan Deandra secara bergantian. Dia butuh penjelasan kenapa putrinya berani mengatakan minta cerai.
"Aku ingin bercerai!"
"Aku tidak ingin bercerai!"
Ucap Deandra dan Edric bersamaan. Jeri yang berdiri di belakang Edric mengulum senyum sambil geleng-geleng kepala.
"Aku ingin bercerai Dad," ulang Deandra dengan suara pelan sambil menundukkan kepala. Sangat jarang dia melihat Dad Denis marah.
__ADS_1
"Deandra Adley, jelaskan!"
Deandra tidak menjawab, memilin ujung kemejanya mendengar suara rendah Dad Denis namun penuh penekanan.
Denis menghela napas berat. Menarik putrinya dalam pelukan, setelah berhasil meredam emosinya. "Dea kenapa ingin bercerai Sayang. Kalian baru satu bulan menikah," ucapnya lebih lembut.
"Dea tidak bisa hidup bersama orang yang tidak mencintai Dea, Daddy." Jawab Deandra pelan dengan menahan tangisnya.
"Bisa kau jelaskan Edric!!" Tian menatap tajam menantunya. Ia bukan tidak tahu kalau Edric memiliki wanita lain dan mengabaikan putrinya. Hanya saja dia tidak ingin ikut campur selama putrinya tidak bercerita.
"Dan bisa kau jelaskan kenapa Dea terluka?" Lanjutnya dengan menggenggam tangan kuat agar tidak menghajar wajah Edric yang sudah babak belur. Bisa-bisa menantunya itu berakhir di rumah sakit.
"Apa setelah semua yang kau lakukan ini masih merasa pantas untuk menjaga putriku!!" Tian tersenyum sinis melihat keangkuhan Edric.
"Ceraikan putriku sekarang!!" Tegas Tian yang kepalang emosi.
"Dad beri aku satu kali kesempatan," mohon Edric. Dia tidak bisa membiarkan Deandra bahagia bersama om-om itu. Itu sangatlah tidak adil untuknya.
__ADS_1
"Tian!" Tegur Denis. Aruna dan Ressa bisa mengamuk kalau tahu Tian ikut-ikutan memprovokasi putrinya bercerai.
"Aku beri kau satu kali kesempatan!!" Sahut jeri dari belakang dengan senyuman penuh arti.
"Jeri!!" Teriak Denis dan Tian bersamaan.
"Kau tidak punya untuk hak ikut campur!!" Ketus Tian, menatap tajam sepupunya.
"Dea tetap mau bercerai!!" Ucap Deandra, dia sudah tidak sanggup hidup bersama Edric.
Mr. Arrogant-nya itu pasti sedang merencanakan sesuatu. Karena tiba-tiba saja tidak mau bercerai darinya. "Kau pasti hanya ingin menyiksaku lebih lama." Gerutu Dea dalam hati.
"Dea mau Mom Aru dan Buba sedih melihat Dea bercerai?" Denis menatap lembut netra putrinya yang berkaca-kaca. Sebenarnya dia tidak tega seperti ini, memaksa putrinya bertahan dengan alasan dua orang perempuan yang paling disayanginya.
"Dea ke kamar," Deandra melepas pelukan Dad Denis.
Denis membiarkan putrinya pergi dengan helaan napas panjang.
__ADS_1
"Kenapa harus selalu aku yang menjaga perasaan mereka. Sedang mereka tidak mau mengerti dengan apa yang aku rasakan."
Tangisnya pecah saat masuk ke kamar. Ia hanya ingin hidup bahagia seperti Mom Aru dan Dad Tian yang bahagia memilih jalan perceraian. Walau sempat marah tapi Deandra tidak pernah menentang jalan yang mereka pilih.