
"Sweetheart kau dimana, aku akan melakukan apapun agar kau tetap berada disisiku." Gumam Edric sambil memeluk guling. Sangat rindu memeluk wanitanya itu.
Tubuhnya ini sangat lelah tapi matanya enggan terpejam. Pencarian pemilik nomor yang Edric harapkan sebagai petunjuk menemukan Deandra juga zonk. Membayangkan Deandra tidur bersama manusia brengsek itu membuat hatinya panas.
Setelah berjam-jam terjaga suami Deandra itu akhirnya tertidur juga. Dalam tidurnya Edric merasakan wanitanya itu datang menemuinya dan memeluk dari belakang.
"Sweetheart," panggil Edric dengan gumaman menarik Deandra sampai wanitanya itu terjatuh di atas tubuhnya.
Deandra yang berniat memberikan salam perpisahan pada Edric karena Mom Linn akan mengembalikannya pada Dad Tian seketika menegang. Hatinya semakin sakit dengan kenyataan yang harus ia hadapi. Diusapnya lembut pipi Edric lalu dikecupnya lama. Mungkin ini terakhir kali Deandra bisa memeluk pria yang sudah berhasil membuatnya merindu.
Mereka dijemput paksa oleh pengawal Dad Harry dan dibawa pulang. Setelah sampai Mom Linn mengatakan ingin mengembalikannya pada Dad Tian. Deandra juga tidak membantah, mengingat Edric yang menginginkan wanita lain. Mungkin jalan yang dipilih Mom Linn ini terbaik untuknya agar berhenti tersakiti.
"Sweetheart kenapa menangis?" Edric membuka mata saat ada tetesan bening yang terjatuh di kelopak matanya. Ia dikejutkan dengan kehadiran wanita yang sangat dirindukannya. Ini bukan mimpi, Deandra nyata berada di atas tubuhnya.
"De ini bukan mimpi?" Pria itu mengeratkan pelukan, tidak ingin jauh dari istrinya lagi.
Deandra menggelengkan kepala lalu bangun dari atas tubuh Edric. "Aku pamit, jaga diri baik-baik. I love you," lirihnya di telinga Edric.
__ADS_1
Sebisa mungkin Deandra menahan tangisnya, karena semua ini sangat berat. Baru saja ia jatuh cinta pada suaminya sendiri dan sekarang harus belajar melupakan lagi.
"Kau mau kemana?" Edric ikut bangun dan menahan tangan Deandra.
"Aku akan pulang ke mansion Dad Tian," Deandra menjawab dengan senyuman.
"Tidak boleh, kau akan tetap bersamaku disini." Edric menarik Deandra sampai terduduk di pangkuannya. "Kau tidak boleh pergi Sweetheart," ucapnya seraya mengecup seluruh wajah wanita yang berhari-hari ini dirindukannya.
Deandra tidak menjawab dan bereaksi apa-apa. "Andai cintamu untukku, aku pasti akan bertahan disisimu. Tapi kau menginginkan Alice jadi biar aku yang pergi."
"De, kau mendengar aku." Edric menangkup pipi Deandra, "jangan pergi dan tetaplah bersamaku disini."
"Mom tidak bisa memisahkan aku dari Dea. Dia istriku, jadi akulah yang berhak membuat keputusan!" Edric memeluk Deandra dengan kuat menandakan wanita ini miliknya.
"Tidak ada yang memisahkan, semua karena perbuatanmu. Untuk apa kau menahan Dea disini kalau hanya untuk disakiti. Kau lupa ingin menikahi wanita lain!" Sindir Mom Linn pedas.
"Aku akan membatalkannya Mom," sahut Edric cepat. Sungguh dia tidak bisa terpisah dari Deandra. Siapa yang bisa jadi obat tidur untuknya kalau bukan wanitanya ini.
__ADS_1
"Apa kau pikir kalimat pembatalanmu itu bisa menghilangkan rasa sakit yang sudah menancap di hati Dea." Sinis Mom Linn yang berjalan mendekat ke arah tempat tidur.
"Mom, aku akan menebus kesalahanku!"
"Sudah tidak ada kesempatan untukmu. Mom selama ini berharap kau menghargai istrimu, tapi ternyata kau tidak bisa melakukannya. Jadi kesempatanmu sudah berakhir." Mom Linn mengulurkan tangan pada Deandra, "ayo Sayang."
Deandra mengangguk menerima uluran tangan Mom Linn, tangannya yang lain melepaskan pelukan Edric.
"Sekali tidak, tetap tidak Mom!" Bentak Edric menarik paksa Deandra kembali padanya.
"Jaga bicaramu Edric, siapa yang mengajarimu berteriak pada Mom!!" Tegur Dad Harry dengan tatapan membunuh.
"Aku tidak berniat berteriak, Mom yang membuatku terpaksa melakukannya." Ucap Edric menyesal karena sudah membentak mom tersayangnya.
"Kau menyakitinya!!" Dad Harry menarik lembut Deandra dari pelukan Edric.
Edric tidak membantah lagi, terpaksa melepaskan istrinya dengan berat hati. "Aku membiarkan Dad membawanya pergi, tapi aku tidak akan menceraikannya sampai kapanpun."
__ADS_1
"Dad tidak peduli!!" Jawab Dad Harry dingin.
"Kalau aku tidak bisa mendapatkannya dengan baik-baik. Maka aku akan menculik dan membawanya pergi jauh," tekad Edric dalam hati.