
"Aunty," panggil Calla dengan wajah cemberut pada Ellea yang baru sampai di mansion.
"Hei kenapa bibirnya cemberut gini, terus ini kenapa bakpaonya menggelembung." Goda Ellea mencubit bibir Calla lalu beralih ke pipi. Mensejajarkan tubuh dengan sang keponakan. Ia rindu dengan celotehan putri kakaknya ini.
"Aunty ninggalin Calla lama lagi, ayo cepat bawa bajunya balik sini. Calla gak punya teman," adunya dengan wajah sendu.
Setelah menikah Ellea memang tinggal di apartemen Ron. Karena itulah Calla mengadu tidak punya teman dan kesepian.
"Tapi Aunty kan sering main kesini menemani Calla," Deandra yang menyahut dari arah kamar diikuti Edric.
"No! No!" Putri Edric itu menggoyangkan jari telunjuk di depan wajah. "Calla maunya setiap hari main sama Aunty," rengeknya.
"Coba bilang sama Uncle Ron, boleh gak Aunty tinggal disini bareng Calla." Ellea tersenyum mengusap rambut hitam Calla.
Bukannya mengikuti apa yang Ellea sarankan, Calla malah membuang muka. Tidak mau menatap Ron. Karena pria dewasa itu sudah merebut Aunty darinya.
"Daddy, bawain baju Aunty kesini please!" Paksanya pada Edric, "pindah. Pindah, Aunty harus pindah kesini lagi!" Amuk Calla.
"Kok dendam banget sama Uncle, kenapa hm." Ron terkekeh geli membawa paksa Calla dalam gendongan.
"Turunin! Uncle jahat ambil Aunty dari Calla. Uncle jahat!" Pekik Calla menangis karena kesal sambil memukul-mukul bahu Ron.
"Uncle gak ambil Aunty dari Calla, cuma minjam Sayang." Ron menyandarkan kepala Calla ke dada, menimang-nimangnya seperti bayi.
"Turunin Calla!" Putri Edric itu memberontak dalam gendongan Ron.
"Ron," tegur Edric dengan sorot mata tajam. Datang-datang membuat putrinya menangis saja.
"Senengnya yang dibelain Daddy terus, hm. Nanti kalau punya adek gak disayang Daddy lagi." Ron semakin menggoda, tidak mempedulikan Edric yang melotot tajam.
"Jangan racuni otak putriku, Ron!" Ucap Edric serius mengambil alih putrinya yang bertambah menangis kencang.
__ADS_1
"Daddy gak Sayang sama Calla?" Tanya Calla setelah berpindah ke gendongan Edric.
"Kata siapa? Daddy akan selalu sayang Calla." Suami Deandra itu mengusap air mata sang putri lalu menciumi kepalanya berkali-kali sampai suara isak tangisnya perlahan redup.
"Uncle bilang, Aunty juga bilang gitu. Daddy sama Mommy gak sayang Calla lagi kalau punya adek."
"Gak gitu Sayang, malah yang sayang Calla bertambah kalau ada adek. Uncle sama Aunty cuma godain Calla," jelas Edric menempelkan pipi sang putri pada pipinya. Wajah cemberut Calla membuatnya ingin tertawa.
"Calla gak mau punya adek!" Putus Calla.
"Sayang," Edric mendesah frustasi. Bagaimana ia menjelaskan kalau di perut sang mommy sedang ada dedek bayi.
"Daddy," tegur Deandra dengan gelengan kepala saat sang suami ingin memberitahu putri kecilnya. Biar seperti ini dulu, nanti perlahan dia akan memberikan pengertian pada Calla.
"Gara-gara kalian nih meracuni otak putriku!" Sengit Edric pada Ellea dan Ron.
"Kok aku Kak?" Ellea menunjuk dirinya tanpa dosa. Walau sebenarnya dia yang sering memprovokasi Calla agar tidak mau punya adek. Punya satu keponakan saja dia sudah dibuat pusing, apalagi kalau ditambah nanti.
"Matanya Edric!" Ron tidak terima Edric melotot pada sang istri.
"Daddy mau jajan," celoteh Calla setelah berhenti menangis.
"Jajan dimana Sayang, ini sudah malam."
"Calla mau naik lala yang putar-putar di atas itu. Terus mau mancing ikan, beli permen yang digulung-gulung itu juga." Sebut Calla yang membuat Edric pusing karena tidak mengerti maksudnya. Dia tidak pernah mengenalkan pada Calla tempat dan makanan yang disebutkan putrinya itu.
"Naik lala yang putar-putar itu apa Sayang?" Tanya Edric bingung, menoleh pada sang istri.
"Pasar malam Daddy, naik biang lala." Perjelas Deandra dengan bibir mengerucut tajam, begitu saja tidak mengerti.
"Calla pernah naik itu?" Tanya Edric yang langsung diangguki sang putri. "Siapa yang ngajak?"
__ADS_1
"Itu," tunjuk Calla pada Ellea dan Ron.
"Kalian!" Edric menggeram tertahan pada adik dan adik iparnya.
"Ayo Daddy cepat! Kata Uncle cuma ada malam hari, besok siang gak ada lagi."
"Bahaya naik itu Sayang, kita main dan jajan yang lain aja ya." Bujuk Edric, dia yang bisa jantungan kalau membiarkan Calla naik biang lala.
"Gak mau. Calla mau naik itu sama Mommy," katanya. Deandra langsung membelalakkan mata, begitu juga Edric. Tidak naik biang lala saja dia sudah muntah-muntah apalagi kalau naik itu.
"Mommy gak bisa menemani Sayang," tolak Deandra cepat.
"Pokoknya Calla mau naik lala sama Mommy, sama Daddy!!"
"Calla naik sama Uncle Ron dan Aunty aja ya," bujuk Edric yang langsung diangguki sang putri.
"Tidak bisa. Tidak bisa, kami mau pacaran!" Sergah Ron cepat. Enak saja mereka yang dijadikan babysitter.
"Kalian yang mengenalkan itu sama Calla, jadi harus tanggung jawab!" Seru Edric tidak bisa dibantah.
"Iya-iya. Sini sama Aunty kita naik biang lala Sayang." Ellea mengalah mengulurkan tangan pada Calla. Gadis kecil itu cepat berpindah pada Ellea.
"Sayang," rengek Ron tidak setuju dengan keputusan Ellea.
"Sebentar saja kita ke pasar malam dulu Sayang," ujar Ellea. Lebih mudah membujuk Ron daripada membujuk Calla.
Edric tersenyum penuh kemenangan pada Ron, dia bisa bebas berduaan dengan Deandra malam ini.
...🍃🍃🍃...
Udah ya jangan dimintain bonchap lagi 😅
__ADS_1
Tunggu cerita baru othor 😊