
Belum sempat Edric membujuk Deandra, wanitanya itu sudah tidak ada di kamar. Padahal dia tidak lama di kamar Ellea. Karena matanya yang sangat mengantuk Edric tidak menyusul sang istri. Hanya memerintahkan pengawal untuk menjaga Deandra.
Sementara Deandra menaiki taksi ke kampus. Dia ingin memberikan pelajaran pada buaya buntung itu. Baru saja Deandra keluar dari taksi langkahnya sudah dihadang Om Azmi. Wanita itu menoleh ke kanan dan kiri, setahunya tadi anak buah Edric mengikutinya.
"Dea nyari siapa?" Azmi bertanya dengan kekehan, tahu apa yang gadisnya itu cari. "Pengawal Dea sudah mereka lumpuhkan," tunjuknya pada beberapa orang yang sedang baku hantam.
"Om," Deandra membulatkan mata bersiap untuk kabur.
"Mau kemana, hm. Ikut Om," Azmi menahan tangan Deandra yang ingin melarikan diri.
"Gak mau, Dea gak mau Om. Dea sudah punya suami!" Deandra mencoba melepaskan cengkraman Om Azmi dari tangannya. Tapi pria dewasa itu malah menggotongnya seperti karung beras ke mobil.
"Om turunin Dea!!" Pekik Deandra menjerit.
"Dea harus menurut dengan Om kalau ingin suamimu tetap hidup!" Ancam Azmi, memasukkan paksa Deandra ke mobil. Istri Edric itu langsung terdiam. Tentu saja dia tidak ingin sang suami celaka. Deandra tidak mau jadi janda muda.
"Good girl," puji Azmi saat Deandra tidak memberontak lagi. Ia memasangkan seatbelt pada gadis kesayangannya.
"I miss you so much, Honey." Bisik Azmi yang membuat Deandra meremang. Bibirnya mendaratkan kecupan di bibir mungil gadisnya.
Lagi-lagi Deandra membeku, otaknya masih memikirkan cara untuk melarikan diri. Kalau salah langkah Edric yang akan menerima akibatnya.
Azmi yang sangat merindukan gadis kesayangannya melajukan mobil menuju apartemen.
Deandra tidak banyak bertanya kemana dia dibawa. Hatinya mencemaskan Edric. Walau bagaimanapun buaya buntung itu tetaplah suami yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Tanpa ia sadari mobil sudah terparkir sempurna.
__ADS_1
"Ayo Sayang," Azmi membukakan pintu mobil dan mengulurkan tangan yang segera Deandra sambut.
"Dea duduklah dulu Om buatkan minum," ujar Azmi setelah sampai di unit apartemennya.
Deandra hanya mengangguk lemas, ia harus hati-hati menghadapi pria dewasa yang sangat mengerikan ini. Saat pemilik apartemen itu hilang dari pandangannya Deandra bergegas menghubungi Edric namun tidak ada jawaban.
"Sial, dimana kau Edric!" Umpat Deandra, tidak tahu kalau suaminya itu tertidur karena kelelahan semalaman tidak tidur.
"Baby, sarapan dulu Sayang." Panggil Azmi, Deandra langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas kembali setelah mengirimkan pesan dan lokasi keberadaannya sekarang.
"Temani Om sarapan," Azmi mengulurkan tangan menyambut Deandra yang menyusulnya.
"Mau Dea suapin?" Tawar Deandra, ia harus menjinakkan Om Azmi sampai Edric menjemputnya.
"Tentu saja Baby," pria itu tersenyum lebar.
"Dea juga makan," Azmi menyuapi gadisnya lalu mengecup di bibir Deandra tiba-tiba. Deandra ingin memberontak tapi takut Om Azmi langsung memerintahkan anak buahnya untuk menyakiti Edric.
"Kenyang Baby," pria itu terburu-buru menggendong Deandra ke kamar. Dia sudah tidak bisa menahan diri. Hanya dengan melihat sang gadis tubuhnya sudah panas dingin seperti tersengat aliran listrik.
"Om mau apa?" Tanya Deandra dengan takut saat Azmi menurunkannya dengan lembut di tempat tidur.
"Om kangen Dea, Sayang." Azmi ikut naik ke tempat tidur seraya mengendus-endus pipi sang gadis.
Deandra menahan napas, sampai kapan dia harus menunggu Edric datang. Hatinya sekarang sangat takut. Bukan hanya takut Edric dalam bahaya, tapi ia juga takut kalau Om Azmi memaksanya.
__ADS_1
"Om hentikan," mohonnya ketika Om Azmi semakin turun menciumi lehernya. Itu membuat Deandra benar-benar kehabisan napas dan merinding.
"Tidak bisa Sayang, kamu selalu memabukkan." Goda Azmi semakin gencar menciumi gadis kesayangannya. Netranya menemukan tanda percintaan di leher Deandra yang membuat emosinya seketika mencuat.
"Apa yang sudah Dea lakukan, Om sudah bilang jaga diri Dea buat Om!!" Sentak Azmi yang membuat Deandra terkejut dan langsung ketakutan.
"Edric itu suami Dea," jawab Deandra pelan.
"Tidak bisa, kamu milik Om Honey!"
"Om jangan," Deandra menggeleng takut saat Azmi ingin membuka kemejanya.
"Dea diam atau Om bunuh Edric!!" Ucap Azmi serius, Deandra semakin ketakutan.
"Om jangan!" Mohon Deandra.
"Kamu milik Om, Honey." Tegas Azmi sekali lagi.
"Om please jangan buat Dea seperti ini, Dea takut." Lirih Deandra saat Om Azmi dengan brutal menarik paksa kemejanya.
"Jangan takut Sayang, Om akan menghapus semua jejak si brengsek ini. Dea diam kalau ingin Edric masih hidup!!" Azmi mengungkung tubuh Deandra yang sudah berada di bawahnya.
"Jangan sakiti Edric!!" Mohon Deandra dengan mata berkaca-kaca.
"Dea mencintainya?" Tanya Azmi dengan perasaan terluka dan emosi. Wanita itu cepat menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Dea hanya milik Om, hanya Om yang boleh Dea cintai!!" Azmi tidak peduli lagi dengan air mata dan ketakutan gadis kesayangannya. Hatinya benar-benar panas saat Deandra mengakui mencintai Edric. Dia bersumpah akan menghabisi pria itu.