
"De capek," rengek Edric menarik Deandra duduk disisi tempat tidur dan memeluknya. "Aku suka kau marah-marah daripada cosplay jadi patung bisu. Ayo marah, pukul aku biar hatimu lega."
"Sweetheart," Edric mendesah frustasi menangkup kedua pipi Deandra yang sedari tadi tidak mau bersuara lalu mengunyel-unyelnya dengan gemas.
Bugh... bugh... bugh
Deandra meninju perut sang suami berkali-kali saat Edric ingin menyosor bibirnya. Sebisa mungkin ia menahan diri agar tidak tertawa. Sangat jarang bisa melihat wajah Edric yang memelas.
"Aw sakit Sayang, mukulnya pelan-pelan." Pinta Edric diikuti kekehan, "maaf ketiduran Sweetheart. Aku mana mungkin membiarkan istriku yang cantik ini dalam bahaya. Tapi tadi beneran gak dengar suara telepon," jelasnya di samping telinga Deandra.
"Sayang, salahku apalagi kenapa kau masih diam." Edric melakukan pengakuan dosa dan mengingat-ingat kesalahannya yang lain.
"Oh iya, pagi tadi cuma bercanda. Aku gak mau tukar tambah istri kok, yang ini saja sudah cukup." Ucapnya sambil mengendus-endus pipi Deandra dan mengecup basah disana dengan tangan yang juga ikut bergerak membuat sang wanita kegelian.
"Si brengsek itu menyentuhmu dimana Sayang?" Tanyanya penuh penyesalan karena tidak bisa menjaga Deandra dengan baik.
__ADS_1
"De, jangan diam. Bilang si brengsek itu melakukan apa padamu. Maaf tidak menjagamu dengan baik," sesal Edric memeluk Deandra sangat kuat.
Deandra tidak menyahut walau sangat ingin mentertawakan Edric.
"Ayo kita bersihkan," Edric dengan sabar membawa Deandra yang masih diam ke bathroom. Ia sangat ingin menerkam wanitanya itu sekarang kalau tidak ingat Deandra masih marah padanya.
"Ayo kita mandi bayi besarku," ucap Edric sambil tertawa kecil menghibur dirinya sendiri karena tidak dihiraukan Deandra.
Deandra yang gemas mendengar Edric bicara sendiri tidak tahan juga terus mendiamkannya. Ia menarik tubuh Edric sampai ikut terjatuh di bathtub.
"De basah, aku ini sudah mandi!!" Decak Edric, dia tidak berniat mandi malah tercebur. Sesaat kemudian pria itu berseru senang, "kau sudah berhenti marah Sweetheart?"
"Aku dengan senang hati menerima hukuman kau Sweetheart," Edric menyembulkan senyum karena Deandra lebih dulu ingin menciumnya. Tapi seketika pria itu menjerit karena bibirnya digigit Deandra bukan dicium.
"Sakit De!" Pekik Edric spontan memegangi bibirnya. Dia pikir akan dapat ciuman eh malah dapat tanda cinta yang lain.
__ADS_1
"Itu karena bibirmu nakal dan ini," Deandra menggigit tangan Edric meluapkan kekesalannya. "Karena tanganmu tidak bisa diam."
"Dia juga nakal De, gak mau digigit sekalian?" Edric menunjuk ke arah adik kecilnya sambil meringis menahan tangannya yang masih digigit Deandra.
"Edric!!" Deandra memukul dada bidang sang suami dengan pipi bersemu merah. Otak mesumnya kembali teringat percintaan panas mereka tadi pagi.
"Aku rela sakit kau gigit disana Sweetheart," Edric menggoda.
"Si brengsek itu menyentuhmu disini?" Tanyanya menyentuh bagian terlarang wanitanya.
Deandra menggelengkan kepala, "hampir kalau Elle tidak datang." Jawabnya dengan pelan yang membuat Edric memeluk wanitanya kembali dengan.
"Maaf Sayang," Edric menciumi seluruh wajah Deandra. Sangat menyesal karena tidak bisa menjaga sang istri dengan baik.
"Bukan salah kau Sayang. Aku takut," Deandra membalas pelukan sang suami. "Aku takut dia melukaimu," lirihnya tanpa sadar sampai meneteskan air mata. Ia tidak bisa membayangkan kalau Om Azmi benar-benar menyakiti Edric.
__ADS_1
"Kau harus hati-hati, dia mengancamku ingin membunuhmu." Beritahu Deandra, Edric semakin menguatkan pelukannya.
"Jangan takut. Aku bisa menghadapinya Sayang," ujar Edric meyakinkan.