
Edric tidak melanjutkan tidur setelah Dad Harry dan Mom Linn membawa Deandra pergi. Pria itu mendatangi kamar Ellea, penyebab semua kekacauan yang terjadi. Satu hal yang baru ia sadari, Ellea-lah dalang dari perginya Deandra.
Pria itu mendorong pintu kamar sang adik dengan kasar sampai menimbulkan dentuman yang membuat Ellea terpekik kaget.
Blaam
“Edric kau mengagetkanku!!” Teriak Ellea, beberapa detik kemudian langsung menciut saat Edric mendekatinya dengan sorot mata tajam yang diliputi kemarahan.
“Apa maumu hah!!” Edric mencengkram rahang Ellea dengan kasar. “Sudah puas membuat hidupku kacau, kau membawa Dea pergi dan sekarang membuat Mom dan Dad membawanya pergi dariku?”
“Sakit,” ringis Ellea. Tidak percaya Edric sampai memperlakukannya dengan kasar karena sudah membawa Deandra kabur.
“Rasa sakitmu ini tidak seberapa dengan semua kekacauan yang terjadi selama tiga hari ini. Jangan pernah datang mencariku lagi, carilah Kak Jo-mu itu kalau kau perlu apa-apa!!”
“Kau yang menyakitinya kenapa jadi menyalahkan aku. Kau yang membuatnya menangis. Baru tiga hari aku membawa istrimu tersayang itu kabur kau sudah menyakitiku, bagaimana kalau satu bulan.” Rengut Ellea seraya mengusap rahangnya yang terasa remuk saat Edric melepaskan cengkramannya.
“Siapa yang menyuruhmu ikut campur dalam masalah rumah tanggaku!!” Sentak Edric karena sang adik menjawab perkataannya dengan berani.
“Kau itu memang tidak punya perasaan, coba tanya hatimu ini. Siapa yang bertahta disini!” Teriak Ellea menunjuk dada Edric kesal, dia tidak takut pada pada kakaknya itu.
”Untuk apa kau mempertahankannya kalau hanya untuk menyakitinya. Kau itu egois EDRIC. KAU EGOIS!!” Ellea semakin berteriak dengan lantang, tidak memberikan Edric kesempatan untuk bicara.
__ADS_1
"Kau marah melihatnya dengan lelaki lain tapi kau sendiri ingin bersama wanita lain. Dimana hatimu, apa hatimu ini sudah mati karena rasa cintamu pada Alice!!" Ellea memukul dada bidang Edric, sedang si empunya hanya diam.
"Semua itu bullshit EDRIC, kau itu bodoh. Sangat bodoh, kau bahkan tidak tahu kalau perempuan itu bekerja sama dengan Azmi untuk menghancurkan kalian! Hanya dirayunya sedikit saja kau sudah meleleh. Kau sungguh pria terbodoh yang aku kenal!" Ellea meluapkan amarahnya. Dia marah bukan karena membela kakak iparnya. Ellea marah karena para pria yang ia sayangi dengan bodohnya memuja wanita seperti Alice.
"Tidakkah kau mengerti perasaanku. Kau tahu siapa wanita itu, tapi kau malah ingin menikahinya. Nikahilah dia kalau kau ingin wanita itu ku cekik lehernya!!" Ujar Ellea pelan karena lelah berteriak.
Edric yang tadinya marah malah sekarang dia yang terkena amukan Ellea. Pria itu menarik sang adik dalam pelukan.
"Kau tahu Edric, aku tidak akan rela kalau kau menikahinya. Dia sudah mengambil Kak Jo-ku," adu Ellea.
"Aku tahu," Edric menyelami netra sendu sang adik.
"Harusnya kau berterima kasih padaku, karena aku yang sudah membuatmu sadar. Kau itu terlalu bodoh," gadis itu dengan nyamannya menyandarkan kepala di bahu sang kakak.
"Terima kasih," ucap Edric datar.
"Aku tidak suka ucapan terima kasih. Kau hanya basa-basi mengatakannya."
"Lalu mau apa sayangku?" Tanya Edric sambil merapikan rambut Ellea.
"Jangan pernah dekati cacing kremi itu lagi, aku tidak suka dia menempel padamu."
__ADS_1
"Cacing kremi?" Edric mengerutkan kening, kenapa para wanita suka sekali menjadikan hewan sebagai sasaran. Padahal mereka tidak salah apa-apa.
"Alice, Edric. Kau ini tetap saja bodoh," rajuk Ellea.
"Ngomong yang benar, jangan suka menyamakan makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna dengan hewan," pria itu mengusap rahang Ellea yang memerah karena emosinya tadi dengan lembut. "Dan jangan berani mengatai aku bodoh lagi!"
"Kau belum berjanji padaku Edric!"
"Iya aku janji asal kau bisa membuat Mom membawa Dea pulang ke mansion," pria itu tersenyum kemenangan.
"Ck, kau memanfaatkanku!!" Ellea mendorong tubuh Edric menjauh darinya.
"Terserah kau mau atau tidak. Kalau tidak aku akan tetap pada tujuan awal," ucap Edric datar.
"Aku mau asal kau juga mau memaafkan Kak Jo," balas Ellea. Tahu Edric hanya menggertaknya, ia berani bertaruh kalau kakaknya itu akan lupa dengan Alice dan mengejar Deandra mati-matian.
"Kau masih saja membela Jovie brengsek itu," geram Edric. Mencubit pipi Ellea pelan, agar adiknya tidak kesakitan lagi.
"Kalau Kak Jo brengsek lalu apa bedanya dengan Alice!" Satu sudut bibir gadis itu melengkung setelah berhasil menyindir sang kakak.
"Oke, aku akan memaafkan Jovie kalau kau berhasil membawa Dea ke mansion." Edric menyanggupi keinginan Ellea. Karena tahu akan sulit untuknya menembus mansion Dad Tian kalau ayah mertuanya itu mengetahui masalah yang terjadi antara dia dan Deandra.
__ADS_1