
"Dad jauhkan Rain dariku. Aku alergi melihat wajah tengilnya!" Seru Deandra dengan memasang wajah ingin muntah yang dibuat-buat.
"Sayang..."
"Kakak..."
Tegur Edric dan Dad Tian bersamaan, memang Deandra saja yang suka membuat masalah. Bocah kecil yang anteng duduk di samping daddy-nya sambil main game malah diganggu.
"Beneran aku gak suka lihat mukanya, kayak nyium bau bawang goreng. Pengen muntah," rengek wanita yang sedang hamil itu dengan wajah meyakinkan.
"Rain main di kamar Sayang," pinta sang ayah yang tentu saja langsung ditolak si bungsu.
"No Daddy, biar akak saja yang pergi kalau tidak mau melihat mukaku yang tampan dan gagah ini. Inikan rumahku," jawab Raindra nyelekit tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet.
"Akak... akak... aku bukan akakmu!" Pekik Deandra yang jadi kesal beneran.
"Sayang, sama kakak gak boleh bicara seperti itu." Beritahu Tian sambil mengacak-acak puncak kepala Raindra. "Dan kakak, Daddy gak suka ya kakak cari-cari masalah sama adek." Pria setengah baya itu menatap lembut putrinya.
"Edric kita pulang, ini bukan rumahku lagi!" Deandra menarik-narik tangan Edric dengan mata yang berkaca-kaca.
"Buba lagi masakin loh gak jadi makan masakan Buba," Edric membawa tubuh wanitanya dalam pelukan. Siapa yang bikin keributan, siapa yang menangis duluan. Hmm, perempuan.
__ADS_1
"Gak mau!"
"Honey, nanti saja ya pulangnya." Tian berpindah duduk ke samping sang putri dan mengusap-usap belakang kepalanya.
"Gak mau!"
"Maunya apa Sayang?" Tanya Edric sambil mengulum senyum. Ingin tertawa tapi takut dosa.
"Mau pulang Edric. Pulang kataku!!" Jerit Deandra kesal.
"Cengeng!!" Decak bocah yang sedari tadi dibuat kesal oleh sang kakak. Putra sulung Tian itu meninggalkan ruang tengah, muak dengan drama yang kakaknya buat.
"Aku gak salah ngapain aku minta maaf. Biarkan saja dia pulang, merepotkan saja disini!" Cetus Raindra dengan berani.
"Daddy bilang minta maaf sekarang!" Ucap Tian dengan penuh penekanan.
"No Daddy, sekali tidak tetap tidak!" Tegas Raindra melanjutkan langkahnya ke kamar.
Melihat betapa keras kepala adik iparnya itu membuat Edric memutuskan membawa Deandra pulang. Dua orang yang sama-sama keras tidak akan bisa disatukan, daripada dia yang pusing sendiri.
"Ayo kita pulang Sayang, pamitan dulu sama Buba." Ajak Edric yang langsung diangguki Deandra.
__ADS_1
"Tinggal sebentar lagi disini, Daddy masih kangen sama dedek bayi. Rainnya sudah pergi," bujuk Tian menghapus air mata yang berlinangan di pipi sang putri.
"Gak mau. Aku mau pulang gak mau kesini lagi," rajuk Deandra.
"Ini tetap rumah Dea Sayang. Kapanpun Dea bisa kesini," Tian berujar lembut.
"Bukan, ini bukan rumahku. Ini rumah Rain!" Seru Deandra kesal kala mengingat perkataan sang adik tadi.
"Ucapan Rain jangan diambil hati Honey."
"Edric cepat pulang!" Deandra semakin merengek tidak mau mendengarkan ucapan sang daddy lagi.
"Iya-iya ayo kita pulang, tapi nangisnya udahan dulu dong." Bujuk Edric membantu Deandra berdiri dari sofa.
"Loh-loh kok pulang sekarang, Buba sudah masakin banyak loh dan sebentar lagi matang." Seru Ressa berjalan cepat dari arah belakang.
Deandra diam saja, membuat Ressa menoleh pada sang suami dan mendapat jawaban dengan bahasa isyarat. Perempuan berusia kepala empat itu menghela napas berat, kapan mereka bisa akur tidak seperti tom and jerry lagi.
"Makan dulu, Buba gak mau masakin Dea lagi kalau gak mau makan." Ressa mengambil alih putrinya, wanita yang sedang hamil itu tidak menolak diajak ke ruang makan. "Jangan dengerin ucapan adikmu Sayang," ucapnya seraya menarikkan kursi dan mendudukkan Deandra.
Kenapa para lelaki tidak bisa mengatasi malasah seperti ini, gumamnya dalam hati. Lihatlah, putrinya ini anteng dan tidak berteriak-teriak lagi.
__ADS_1