
Malam ini Deandra tidak jadi menginap di mansion Dad Tian. Dad-nya itu tidak mau menampung dirinya disana. Jadi terpaksa ia pulang ke mansion Hansel.
"Pokoknya kau harus cari keberadaan Alice sampai ketemu!"
Saat membuka pintu kamar tanpa sengaja Deandra mendengar Edric memerintahkan orang untuk mencari wanita itu. "Pantas saja dia tidak melarangku menginap di mansion Dad Tian."
"Kau pulang?" Edric terkejut melihat Deandra ada di kamar.
"Dad Tian tidak mengijinkanku tidur disana? Boleh aku tidur disini, atau di kamar tamu saja?" Tanya Deandra seraya mengkondisikan hatinya yang entah rasa apa saat ini.
"Aku tidak melarangmu tidur disini," Edric jadi merasa bersalah sudah mengabaikan Deandra karena rasa bersalahnya pada Alice yang menghantuinya akhir-akhir ini.
"Aku cuma tidak mau mengganggumu, aku tidur di luar saja." Sahut Deandra dengan bibir tersenyum dan hati menangis.
"Disini saja, aku ingin bicara padamu." Edric menarik Deandra untuk duduk di sisi tempat tidur.
"Bicaralah," Deandra pasrah dengan apa yang ingin Edric katakan. Perasaannya tidak enak.
"Maaf," hanya satu kata yang Edric ucapkan kemudian membawa wanitanya dalam pelukan.
__ADS_1
"Boleh aku menikahi Alice?" Ijin pria itu yang membuat Deandra langsung menegang. Edric yang menyadari perubahan reaksi Deandra menguatkan pelukannya.
Wanita itu mengangguk pelan. Tidak menyangka pernikahannya akan berakhir seperti ini. Semua memory masa lalu pernikahan Dad Tian, Mom Aruna dan Buba Ressa berputar di kepalanya. Ia memiliki kenangan buruk dari pernikahan orang tuanya. Dan kenapa ia harus menghadapi kenyataan pahit seperti ini juga. Padahal pernikahannya baru seumur jagung.
"Boleh, tapi setelah kau ceraikan aku." Ucap Deandra, berusaha tetap tenang dalam kekalutan hatinya. Sakit sangat sakit, saat Edric mengatakan hal itu. Tapi apa mau dikata, untuk apa dia bertahan dalam luka.
"Aku tidak bisa menceraikanmu," Edric menciumi pipi Deandra agar istrinya itu rileks.
Deandra hanya bisa menabahkan hatinya. Edric ingin menikahi wanita lain tapi masih memperlakukannya seperti ini.
"Dan aku tidak ingin diduakan, lebih baik kita bercerai." Jawab Deandra, sekuat tenaga menahan air matanya yang mendesak ingin keluar.
"Aku punya alasan menikahi Alice, Sweetheart."
"Dengarkan alasan aku dulu," bujuk Edric.
"Apapun alasanmu aku tidak ingin tahu, aku melepaskanmu Edric Hansel. Aku tidak ingin menjadi penghalang cinta kalian," Deandra mengangkat wajahnya tersenyum. Tangannya mengusap pipi Edric, tanpa sadar air matanya berjatuhan.
Melihat air mata wanitanya, membuat Edric ikut merasakan sakit. Apa yang sudah dilakukannya? Menyakiti wanita yang dengan rela menyerahkan diri padanya walau belum mencintainya.
__ADS_1
"Jangan menangis Sweetheart," Edric menghapus air mata sialan itu. Ia mengecup kedua mata Deandra yang masih mengeluarkan air mata.
"Jangan pikirkan aku, bahagialah dengan pilihan hatimu." Deandra menepuk pipi pria yang ia pikir bisa ditaklukannya. Namun ternyata tidak.
"Dengarkan apa alasanku dulu," bujuk Edric lagi.
Deandra kekeuh menggelengkan kepala, ia tidak ingin mendengarkan hal yang lebih menyakitkan lagi. Sudah cukup hatinya ini merasakan sakit. Mungkin hidupnya memang ditakdirkan untuk selalu kalah.
"Sweetheart," lirih Edric.
"Berhenti memanggilku begitu," Deandra tersenyum getir ditengah air matanya. "Kita akhiri semua ini baik-baik, jangan ada benci diantara kita. I love you Mr. Arrogantku." Lanjutnya dalam hati.
"Aku tidak bisa!!" Ucap Edric tegas, ia tidak bisa melepaskan Deandra. Entah kenapa, tidak ada alasan yang bisa dia utarakan.
"Aku yang akan bicara pada Dad Harry dan Dad Tian. Kau tenang saja, tidak perlu memikirkan mereka. Mereka pasti akan setuju," Deandra melepaskan tangan Edric yang memeluknya.
"Mari kita rayakan malam kehancuran ini!!" Teriak Deandra dalam hati.
"Jangan pergi Sayang," Edric tetap tidak melepaskan istrinya. Menggenggam erat tangan Deandra yang ingin keluar kamar.
__ADS_1
"Satu tangan ini tidak bisa menggenggam benda yang sama besarnya Edric. Aku tidak akan memberatkan kau untuk melakukan itu. Kejarlah cintamu kembali," Deandra menepuk bahu Edric lalu keluar kamar dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.
Ia tidak peduli kalau ada orang yang melihatnya menangis. Saat ini hatinya benar-benar tengah hancur, seperti pesawat yang jatuh ke tengah lautan lepas dan puing-puingnya hancuk bak debu berterbangan. Deandra tidak memikirkan perihal statusnya nanti. Tapi hatinya memang sudah tertaut pada Edric, saat dia sudah bisa menerima pria itu dan mulai membuka hatinya. Takdir mempermainkannya seperti ini.