
Deg!!
Deandra membeku di tempat, tidak dapat berkata apa-apa lagi.
"Istirahatlah, nanti kau keguguran!!" Edric berucap layaknya Deandra sedang hamil. Mendudukkan wanita berusia sembilan belas tahun itu kembali ke tempat tidur.
"Aku tidak mau hamil Edr...."
"Sstt, tidak boleh bicara seperti itu. Nanti jadi doa, kamu tidak kasihan kalau anak kita lahir tidak diharapkan mom-nya." Potong Edric dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Deandra.
"Edric, aku ini tidak sedang hamil. Kau terlalu berlebihan, tidak hamil saja aku sudah dikurung seperti patung emas. Apalagi kalau hamil, huh!!" Ungkap Dendra kesal, selanjutnya ia menggigit jari telunjuk Edric dengan kuat.
"Lepas De!!" Pria itu menarik tangannya sambil dikibas-kibaskan, bekas gigi Deandra mengukir di jemarinya. "Gigimu ini seperti gigi paus saja!!"
"Bodo!!" Deandra melipat tangan di depan dada acuh, sudut bibirnya tertarik ke atas melihat Edric kesakitan.
__ADS_1
"Kalau hamil kau tidak boleh bertemu siapapun. Aku tidak ingin anakku nanti terkontaminasi dan malah meniru wajah orang lain saat lahir." Edric tetap melanjutkan pembahasannya masalah kehamilan.
Deandra membelalakkan mata, hidup bersama pria arrogant ini ternyata membuatnya benar-benar seperti di penjara.
"Kau gila Edric, mana mungkin aku tidak bertemu siapapun. Aku masih mau kuliah dan bertemu orang tuaku!!" Deandra yang tadi tersenyum kini wajahnya tertekuk masam.
"Tidak ada kuliah!! Kau itu hanya ingin main-main saja." Edric mengelus jemarinya yang masih membekas gigi Deandra. Kepalanya menggeleng pelan membayangkan kalau miliknya yang digigit seperti ini apa jadinya.
"Edric, aku tidak suka dikekang!!"
"Ish dilihat terus, sini aku gigit lagi." Deandra menarik jemari Edric untuk mengalihkan kekesalannya. Karena kalau melawan Edric berbicara dia tidak akan pernah menang.
"Jangan De, sakit. Kalau jarinya putus nanti tidak bisa membelaimu lagi." Edric berujar namun membiarkan saja Deandra menggigit jarinya kembali. Tubuhnya merinding saat jarinya masuk ke mulut Deandra. Sensasinya berbeda, tidak sakit sama sekali.
"Pelan-pelan gigitnya," pria itu tersenyum tipis tangan kirinya membelai pipi Deandra dengan hangat.
__ADS_1
Deandra yang berpikir Edric akan kesakitan malah meremang saat mendapatkan sentuhan di pipi. Padahal cuma di pipi, tapi ia seperti tersetrum aliran listrik yang konslet. Cepat Deandra melepaskan jemari Edric, takut otaknya berpikiran mesum. Tidak mungkin ia meminta lebih dulu pada Edric, dimana harga dirinya sebagai perempuan.
"Sudah puas gigit sosisnya?" Edric mengernyit melihat Deandra dengan ekspresi berbeda. Wanita itu mengangguk kaku.
"Nanti aku kasih sosis yang lebih besar," bisik Edric penuh arti. Dia harus kabur sekarang sebelum memangsa Deandra saat ini juga.
"Aku kembali ke kantor, mungkin akan pulang malam. Kalau perlu apa-apa panggil pelayan. Istirahatlah," pesan Edric panjang. Menepuk pipi Deandra dengan hangat kemudian mengecup di kening.
"Jangan tunggu aku, kalau sudah lapar makanlah duluan. Kalau mengantuk tidurlah," lanjutnya lalu beranjak meninggalkan Deandra.
Mulut wanita itu menganga, mengusap keningnya yang tadi dicium Edric. Padahal mereka sudah pernah melakukan lebih dari ini, tapi entah kenapa masih saja keningnya ini seperti kening gadis polos yang tidak pernah disentuh lelaki. Perasaannya membuncah bahagia dengan kupu-kupu berterbangan di perut.
"Kau itu susah ditebak Edric, kadang aku merasa kau sudah menerima kehadiranku. Tapi kadang aku merasa hanya seperti perempuan yang sayang dilewatkan selagi ada, huft." Deandra menarik napas dengan berat, dia takut Edric meninggalkan saat hatinya sudah terbuka untuk lelaki itu.
Seperginya Edric, Deandra mengamati perutnya yang membiru. Dengan Azmi dia mendapatkan penuh cinta, tapi orang disekitarnya terancam bahaya. Sedang dengan Edric perasaannya yang terancam bahaya. Ia takut Edric akan meninggalkannya kalau sudah menemukan perempuan lain atau malah kembali dengan Alice.
__ADS_1
"Tidak! Kau tidak boleh meninggalkanku Edric, apapun caranya aku akan membuatmu menjadi milikku selamanya!"