
"Jelaskan pada Daddy bagaimana sampai putri dan menantu kesayangan Daddy kabur dari mansion!!" Harry menatap tajam putranya, sesungguhnya ia sudah tahu dimana putri dan menantunya itu berada.
Mereka kembali ke Indonesia hanya untuk mendamaikan dua kepala itu. Harry sangat yakin kalau Edric sudah mencintai Deandra. Buktinya selama beberapa hari ini Edric tidak lelah mencari keberadaan sang istri. Sampai-sampai melupakan dirinya sendiri.
"Entahlah Dad," jawab Edric malas. Ia masih terkejut melihat Dad Harry dan Mom Linn ada di mansion saat pulang dari kantor. Kedua orang tuanya itu tidak berkabar kalau akan pulang.
"Tidak mungkin mereka pergi tanpa sebab, dan Daddy bisa mengawasi semua yang terjadi di mansion ini termasuk kamarmu!" Ujar Harry dengan penekanan. Mereka belum tahu penyebab kepergian Deandra. Tidak mungkin hanya karena masalah sepele menantunya itu memilih ingin pergi dari Edric.
"Daddy memasang kamera tersembunyi di kamarku?" Edric membelalakkan mata.
"Tentu saja, jadi apa perlu kita lihat rekaman itu sama-sama atau kau cerita sendiri yang bercerita pada Daddy!!" Ucap Harry dengan ekspresi meyakinkan, padahal dia tidak memiliki rekaman apapun. Dan kamera tersembunyi itu tidaklah ada.
"Mari kita lihat sejauh mana kebodohanmu karena cinta!" Pria paruh baya itu menyeringai licik karena kali ini putranya yang arrogant akan kalah. Harry berani bertaruh kalau Edric tidak akan membiarkan wilayah privasi orang tersayangnya terlihat orang lain.
__ADS_1
Sungguh ini sebuah pelanggaran, mana bisa Edric membiarkan tubuh Deandra yang hanya terbuka di depannya dilihat orang lain. Suami Deandra itu mendesah berat, minta tolong pada Mom Linn tidak mungkin. Sedari tadi momnya tidak mau bersuara karena marah padanya.
"Aku minta ijin pada Dea untuk menikahi Alice. Jadi dia marah padaku," jujur Edric.
Plakk
Tamparan keras mendarat di pipi Edric dari Mom Linn. Dad Harry sampai menahan napas melihat kemarahan istrinya.
"Kau sudah sangat keterlaluan menyakitinya Edric! Apa masih kurang bukti Alice berkhianat padamu!!" Teriak Mom Linn, emosinya sudah sampai di puncak kepala dan meledak.
"Bodoh dipelihara, kau itu tidak bisa membedakan mana yang hanya bualan dan mana yang tulus dari hati. Selama ini mata dan hatimu itu digunakan untuk apa?" Murka Mom Linn karena Edric masih saja membela Alice.
"Bagus Dea pergi darimu dan kalaupun dia pulang Mom yang akan mengembalikannya pada keluarganya," putus Mom Linn. Ia tidak bisa membiarkan anak gadis orang disakiti putranya terus-terusan.
__ADS_1
"Mom, Dea istriku hanya aku yang berhak mengembalikannya!" Ucap Edric dengan lantang, Mom Linn tidak boleh mengembalikan Dea pada keluarganya. Ia bisa tidak tidur setiap malam kalau jauh dari wanitanya itu, sekarang saja Edric sudah sangat tersiksa.
"Kau masih merasa pantas menjadi suami setelah menyakitinya berulang kali. Apa kau pikir Mom tidak tahu apa saja yang kau lakukan pada Dea dan seberapa sering dia menangis karena perbuatanmu!!" Mom Linn tersenyum mengejek. Rasanya ia tidak pernah melahirkan anak sebodoh dan sebrengsek Edric. Entah kapan bermula putranya jadi tidak punya hati seperti ini.
Dad Harry hanya bisa menepuk-nepuk punggung tangan Mom Linn agar emosinya mereda.
"Kalian yang memaksaku menikahinya dan sekarang aku juga yang tertuduh sebagai penjahat disini!" Sinis Edric, sungguh tidak adil jika kesalahan hanya ditujukan padanya. Padahal dia hanyalah korban, kalau tidak dipaksa menikah semua tidak akan jadi serumit ini.
"Kalau begitu ceraikan dia dan semua selesai! Terserah kalau kau ingin menikahi wanita murahan itu, tapi jangan pernah kau berani muncul dihadapanku lagi." Sarkas Mom Linn yang benar-benar murka pada Edric.
"Dad, cari Dea dan kembalikan pada Tian." Pintanya pada sang suami, hatinya sangat marah mendengar pengakuan putranya. Istri mana yang rela suaminya menikah lagi terlebih dengan mantan kekasih.
"Hanya aku yang bisa menceraikan Dea. Dan kalian tidak berhak menjauhkannya dariku!" Edric berucap dengan tegas lalu meninggalkan ruang tengah. Tidak ada yang bisa membuatnya melepaskan wanita itu mau Dad Tian sekalipun.
__ADS_1
"Shiitt, pasti Ron yang melapor kalau Dea dan Ellea pergi. Awas saja kau Ron, selalu membuat hidupku susah karena mulutmu itu!"