Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 78


__ADS_3

"Kau kemana saja tidak bisa menjaga istrimu dengan benar!!" Netra elang Tian beralih menatap menantunya dengan tajam.


Edric yang ditatap menelan salivanya. Bukan karena takut pada Dad Tian, tapi takut kalau dia melawan istrinya dibawa pulang.


"Dad, Edric kan bekerja mana mungkin ikut aku ke kampus." Deandra semakin meringis melihat Dad Tian yang garang pada suaminya. Mereka ini menikah karena perjodohan, tapi malah seperti menikah tanpa restu saja.


"Daddy bertanya pada Edric, bukan kamu Honey!" Cetus Tian yang langsung membuat Deandra menciut.


"Maaf aku terlalu sibuk Dad," jujur Edric. Akhir-akhir ini dia memang sangat sibuk mengatasi masalah Richland group yang diambang kehancuran.


"Kau bisa mendelegasikan pekerjaanmu pada orang lain, tapi kau tidak bisa mendelegasikan tanggung jawabmu sebagai suami. Kau harus selalu ada saat istrimu butuh," ceramah Tian.


"Dad," rengek Deandra tidak suka Dad Tian mendikte Edric seperti itu.


"Daddy belum mengijinkan kamu bicara, Honey." Tegas Tian pada Deandra, dia masih belum puas menceramahi menantunya.


"Tian cukup, ini rumah sakit." Tegur Denis, pria yang sejak tadi berdiam diri di samping Tian itu mendekati putri sambungnya.


"I miss you, Honey." Denis tersenyum merentangkan tangan, namun tidak berhasil meraih putrinya karena Deandra sudah ditarik Edric lebih dulu dalam pelukan. Si empunya mengerutkan kening bingung.


"No peluk-peluk, Dad. Hanya aku yang boleh memeluk Dea." Ujar Edric posesif, ia tidak rela tubuh Deandra yang sudah menyatu dengannya itu dipeluk lelaki lain, walau mertuanya sendiri.


"Hei aku ini Daddy-nya, pada mertuamu pun kau cemburu!" Kesal Denis karena tidak bisa memeluk putri yang sangat dirindukannya.

__ADS_1


"Cemburu atau tidak cemburu pokoknya tidak ada yang boleh memeluk istriku!" Tegas Edric.


"Aku juga tidak boleh?" Tanya Tian dengan alis mengernyit.


"Tidak boleh!" Jawab Edric pasti.


"Edric!" Deandra dibuat menganga atas penuturan pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Kepalanya jadi pusing, tadi Dad Tian marah-marah dan sekarang Edric sangat posesif padanya.


"Ternyata ada yang lebih posesif dibanding aku!" Pria berusia kepala empat itu menghela napas dengan kasar, begitu juga dengan Denis.


"Kak Jo," gumam Ellea.


Tian menoleh ke arah brankar yang ada di samping kanannya saat mendengar gumaman kecil.


Edric menoleh pada Ellea yang bergumam kecil menyebutkan nama Jovie. Ia melepaskan pelukannya dari Deandra. Kesempatan itu digunakan Denis untuk melepas rindu pada putrinya.


Edric mengumpat dalam hati saat melihat Dad Denis memeluk Deandra dengan mesra.


"Istrimu tidak akan lecet kalau kami peluk!" Sindir Tian, menantunya itu tidak melepaskan tatapan dari Deandra. "Sekarang keadaan adikmu yang lebih penting," ujarnya seraya memencet tombol nurse call.


Edric mengangguk, "Elle." Panggilnya sambil mengusap kepala sang adik, panas Ellea sudah turun.


"Ed," gumam mulut mungil Ellea saat matanya terbuka. "Aku ada dimana dan kenapa?" Tanyanya saat sadar sudah tidak berada dalam kamar. Terakhir kali dia merasa seperti berada dalam pelukan Jovie.

__ADS_1


"Ternyata aku hanya bermimpi," batinnya kecewa.


"Kau pingsan selama berjam-jam," beritahu Edric singkat. Tidak memberitahu kalau Jovie datang menemuinya.


"Uncle Tian kenapa disini?" Tanya Ellea bingung saat melihat pria yang menjadi mertua kakaknya itu. Tidak hanya Uncle Tian, tapi ada Uncle Denis juga yang sedang memeluk Deandra.


"Menemani Dea, apa yang sakit?" Tanya Tian dengan perhatian.


Ellea meletakkan telapak tangannya di dada sebelah kiri, "hati aku yang sakit." Bibir pucat itu menyunggingkan senyuman yang dipaksakan.


Edric bisa merasakan kepedihan yang adiknya itu rasakan. Apa dia keterlaluan kalau melarang Ellea mengejar cintanya. Andai bukan lelaki brengsek seperti Jovie yang Ellea cintai, dia pasti akan merestui.


"Hanya pria bodoh yang menyakiti gadis cantik sepertimu," hibur Tian.


"Kamu bisa menemukan pria yang lebih baik darinya. Buktikan kalau kamu bisa move on. Jangan membuatnya semakin berbesar hati karena keterpurukanmu." Tian tersenyum mengusap puncak kepala gadis seusia putrinya.


"Apa aku bisa?" Tanya Ellea ragu.


"Kamu pasti bisa," Tian memberikan semangat. Pria itu beralih mendekati putrinya saat dokter datang untuk memeriksa keadaan Ellea.


"Thanks Daddy," ungkap Ellea memeluk Dad Tian dengan erat. Ia rindu pelukan orang-orang tersayangnya.


"Untuk apa?" Tian menaikkan sebelah alis meminta jawaban.

__ADS_1


"Karena Daddy sudah memaksa Dea menikah dengan pria yang tidak Dea cintai," sebut Deandra pelan tapi masih bisa di dengar Edric. Pria itu memelototkan mata sampai hampir menyembul keluar.


__ADS_2