
"Ron!!" Teriak Ellea yang terbangun dengan kondisi kepala dan kaki diperban. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Setelah Ron memintanya berhenti mencubiti ia tidak mengingat apa-apa lagi.
"Sayang, kau sudah bangun," Mom Linn mendekat dan memanggil dokter untuk memeriksa putrinya yang baru saja siuman setelah pingsan sejak tadi malam.
"Mom dimana Ron?" Tanya Ellea ingin bangun dari tidur tapi kakinya tidak bisa digerakkan.
"Ron ada, kau jangan banyak bergerak dulu. Mau apa biar Mom yang ambilkan," wanita paruh baya itu berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh melihat kondisi putri bungsunya saat ini.
"Aku ingin bertemu Ron. Aku ingin memastikan kalau dia baik-baik saja," pinta Ellea. Sekali lagi mencoba bangun tapi tidak bisa. "Mom, kakiku kenapa?" Teriaknya histeris karena kakinya tidak berasa saat digerakkan.
"Sayang kau tenang dulu," Mom Linn memeluk Ellea dengan air mata yang beruraian.
"Dokter kakiku kenapa?" Sentak Ellea pada dokter yang datang saat Mom Linn tidak menjawab pertanyaannya. Wanita tersayangnya itu malah menangis.
"Kaki anda mengalami kerusakan saraf motorik yang menyebabkan kelumpuhan," beritahu dokter yang membuat Ellea syok tak bersuara lagi.
"Sayang, Lea masih bisa sembuh." Mom Linn meyakinkan putri semata wayangnya. "Kita akan berobat sampai Lea sembuh." Ulang Mom Linn pada anak gadisnya yang menangis tanpa suara.
__ADS_1
Sementara di mansion Edric sedang menemani Deandra. Istrinya itu sampai pingsan saat mendapat kabar Ellea kecelakaan.
Deandra merasa sangat bersalah karena menjadi penyebab adik iparnya masuk rumah sakit. Kalau saja ia tidak terus-terusan mengerjai Ellea, mungkin sekarang iparnya itu baik-baik saja.
"Sweetheart, ayo sarapan dulu. Baby perlu asupan nutrisi Sayang," bujuk Edric.
Deandra merajuk karena tidak diijinkan menjenguk Ellea. Ia khawatir istrinya itu semakin menyalahkan diri sendiri kalau tahu keadaan Ellea dan Ron sekarang.
"Aku akan makan kalau kita ke rumah sakit!"
"Aku mau melihat Elle, Edric!" Rengek Deandra gusar. Hatinya tidak tenang sebelum melihat langsung keadaan Ellea. Edric tidak mau memberitahu keadaan adik iparnya itu.
"Elle baik-baik saja. Baby kita yang bisa kenapa-kenapa kalau kau tidak mau makan. Mom dan Dad nanti akan tambah sedih kalau melihat kau juga sakit." Edric dengan sabar membujuk Deandra agar mau makan.
"Aku cuma mau melihat Elle sekarang. Hatiku tidak tenang, mana bisa aku makan." Ungkap Deandra, sungguh hatinya sekarang sedang tidak tenang.
"Oke kita lihat Elle, tapi setelah kau makan." Edric terpaksa mengalah, cepat atau lambat Deandra pasti akan tahu kondisi Ellea.
__ADS_1
"Iya aku makan," Deandra membuka mulutnya lebar-lebar. Bersiap menerima suapan dari Edric.
Edric hanya bisa berdoa semoga istrinya ini masih tetap waras saat mengetahui kelumpuhan Ellea. Walau masih ada harapan untuk sembuh tetap saja butuh waktu yang tidak sebentar.
Selesai Deandra sarapan dengan ragu Edric membawa istrinya ke rumah sakit. Tidak hanya kondisi Deandra yang ia khawatirkan, tapi juga calon anaknya. Ia cemas kalau wanitanya ini stres yang bisa berimbas pada kesehatan janin dalam kandungannya.
"Elle!" Pekik Deandra saat melihat Ellea yang seperti mumi karena dipenuhi perban. Ia berlari kecil mendekati brankar.
"Hati-hati Sayang!" Cemas Edric melihat istrinya yang tengah mengandung itu berlari. Entah akan ada drama apalagi setelah ini. Semenjak Deandra hamil hidupnya dipenuhi dengan Drama.
"Mom, Dad, Elle kenapa?" Tanya Deandra dengan perasaan tidak menentu karena iparnya itu tidak mau berucap apapun.
Mom Linn dan Dad Harry saling pandang diikuti helaan napas berat, melirik Edric yang berdiri di belakang Deandra mengangguk pelan.
"Saat ini Elle belum bisa jalan Sayang," beritahu Dad Harry dengan sangat lembut dan hati-hati agar Deandra tidak syok lagi.
Deandra terdiam, berusaha mencerna ucapan Dad Harry. Ellea tidak bisa berjalan karena kakinya masih ada yang terluka atau, segala pikiran buruk ada dalam kepalanya. Apalagi melihat Ellea yang tidak memiliki semangat hidup lagi.
__ADS_1