Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 167


__ADS_3

Deandra menggelengkan kepala saat Mom Linn ingin menyuapinya kembali. Wanita hamil itu menutup mulut dengan kedua telapak tangan. Perutnya mual seperti diaduk-aduk di dalam sana.


“Edric cepat bawa Dea ke kamar mandi!” Seru Mom Linn saat menyadari menantu kesayangannya ingin muntah.


Belum sempat Edric membawanya, Deandra sudah mengeluarkan seluruh isi perut di tempat tidur. Pria yang baru pernah melihat istrinya muntah-muntah itu langsung cemas. Dari awal kehamilan, Deandra belum pernah mengalami muntah-muntah. Paling istrinya itu hanya mengeluh pusing dan tidak nafsu makan.


"Sayang," Edric membersihkan bekas muntah di mulut Deandra. Perutnya ikutan mual, tapi ditahannya sekuat tenaga. Demi calon buah hatinya ia harus bisa merawat Deandra.


"Mom buatkan minuman hangat dulu, kau bantu Dea ganti pakaian!" Perintah Mom Linn pada Edric, ia ikutan cemas. Padahal biasa saja kalau ibu hamil mengalami muntah-muntah.


"Yes Mom," sahut Edric. Menatap sendu istrinya yang terlihat pucat. "Ganti baju dulu Sayang," ujarnya lalu berlari ke bathroom karena tidak tahan lagi mencium aroma tidak sedap dari bekas muntah sang istri.


Kalau saja tubuhnya tidak lemas, Deandra ingin sekali menertawakan Edric yang jijik melihat bekas muntahnya.


Edric kembali setelah memuntahkan isi perutnya. Beruntung saat ia keluar sudah ada pelayan yang datang.


"Ayo kita bersih-bersih Sayang," calon ayah itu menuntun sang istri ke bathroom. Tubuhnya lemas jadi tidak bisa menggendong Deandra.

__ADS_1


"Dedek bikin Mommy sama Daddy muntah-muntah." Deandra tersenyum dengan bibir yang pucat sambil mengelus-ngelus perutnya berdiri di depan wastafel setelah selesai berganti pakaian. Punggungnya bersandar pada sang suami.


"Sehat-sehat dalam perut Mommy Sayang," Edric ikutan mengelus perut Deandra. "Mommy juga harus sehat ya," ujarnya memberikan kecupan di pipi wanita tersayangnya.


...🌹🌹🌹...


"Sayang," Edric terbangun kala terusik oleh istrinya yang tidur dengan gelisah. Netranya melirik jam di atas nakas, sekarang baru pukul dua malam.


Akhir-akhir ini ia mengawasi Deandra dengan sangat ekstra. Ibu hamilnya ini bertambah sensitif, bukan hanya perasaannya tapi juga penciumannya. Bahkan Edric sampai tidak diperbolehkan mandi hanya karena Deandra tidak suka mencium aroma sabun yang menempel di tubuhnya.


"Apa yang sakit Sweetheart?" Tanya Edric sambil mengelus-elus puncak kepala sang istri.


Apapun yang diminta Deandra Edric tidak pernah menolak lagi. Karena permintaan istrinya itu tidak ada apa-apanya kalau dibanding dengan perjuangannya di masa kehamilan. Walau Deandra marah-marah bagaimanapun Edric tidak pernah melawannya, hanya mendengarkan saja.


"Peluk," pinta Deandra yang segera dituruti Edric. Pria itu tidak bosan memandang istrinya yang menggemaskan, apalagi kalau sedang marah-marah. Kadar menggemaskannya jadi bertambah berkali-kali lipat.


"Sayang," ringis Edric saat tangan Deandra tidak bisa diam mengelus-elus di punggung. Yang otomatis membuat sang junior terbangun. Tangan yang memiliki energi listrik itu sangat meresahkan.

__ADS_1


Edric berusaha menahan diri agar tidak menerkam istrinya ini sekarang juga. Tapi semakin lama tangan itu tidak bisa diam.


"Sweetheart, kau membangunkannya." Bisik Edric dengan suara berat menggigit pelan cuping telinga Deandra.


"Euugh," Deandra melenguh saat tubuhnya seperti tersengat listrik. Melihat respon tubuh sang istri Edric tersenyum menempelkan bibirnya lalu menyesap lembut bibir mungil Deandra.


Perlahan netra Deandra terbuka karena perbuatan sang suami mengganggu tidurnya. Wanita hamil itu tidak menolak malah mengikuti permainan Edric.


"I love you Sweetheart," ungkap Edric sebelum mengajak Deandra mengarungi bahtera cinta.


"Aarghh!" Pekik Deandra memegangi perutnya yang tiba-tiba nyeri.


"Sayang," cemas Edric mengikuti arah gerak tangan Deandra yang mengelus perut. Mengabaikan juniornya yang merajuk memilih bersembunyi kembali.


"Sakit Edric!" Rengek wanita hamil itu membuat Edric kelimpungan.


"Jangan keluar sekarang Baby," batin Edric khawatir tapi tetap berusaha tenang agar bisa menenangkan Deandra.

__ADS_1


"Sayang tenang ya. Janji, Daddy gak ganggu dedek tidur lagi. Tapi jangan bikin Mommy kesakitan," bisik Edric di perut Deandra sambil menciuminya. Yang sejurus membuat sang istri tidak kesakitan lagi.


Calon ayah itu menghembuskan napas lega sekaligus mendesah berat. Belum lahir saja sudah cemburu padanya. Bagaimana nanti nasibnya setelah baby lahir, bisa-bisa tersingkirkan.


__ADS_2