Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 200


__ADS_3

Ron tidak peduli kalau pulang nanti diamuk kedua orang tuanya. Malam ini dia sangat bahagia karena bisa mendapatkan hati Ellea. Pria itu mengantarkan Ellea pulang sampai ke mansion.


"Ron kenapa ada disini, bukannya malam ini acara pertunanganmu?" Tanya Mom Linn bingung, belum sempat Ron menjawab perempuan setengah baya itu kembali mengoceh saat melihat sang putri berjalan dengan berjinjit. "Kakinya kenapa Sayang?"


"Habis lari-larian main petak umpet jadi kakinya luka-luka," Ron yang menjawab dengan cengiran.


"Kalian kenapa sih sukanya cara ekstrim. Kau juga Ron, selesaikan masalahmu dulu baru boleh menemui Lea." Mom Linn geleng-geleng kepala, dijodohkan baik-baik memilih berpisah. Giliran bertunangan sama orang lain malah ditinggal kabur bersama putrinya.


"Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapian Ron, jangan kembali kalau masalah keluarga dan calon tunanganmu belum beres." Potong Dad Harry tegas, tidak ingin putrinya yang jadi sasaran publik karena dianggap jadi perebut calon laki orang.


Ron meluruhkan kedua bahunya lemas, baru saja bahagia malah disuruh pulang. "Siap Tuan," jawabnya tidak bersemangat. Yang mendapat tinjuan di bahu dari Mom Linn.


"Tuan, tuan. Sana pulang," usir Mom Linn. Anak ini berkali-kali dikasih tahu jangan memanggil seperti majikan masih saja tidak menurut.


"Belum pamitan Aunty," Ron menyengir ingin merengkuh tubuh Ellea. Namun terhalang oleh calon ayah mertuanya.


"Tidak ada peluk-peluk, belum halal!" Seru Dad Harry yang membuat Ron kembali lemas.


"Ya sudah aku pamit," ucapnya nelangsa hanya bisa melambaikan tangan pada Ellea.


Ellea yang sejak sampai tadi diam terkekeh kecil melihat Ron yang dikerjain Mom Linn dan Dad Harry.

__ADS_1


Sepulangnya Ron, Dad Harry duduk di samping sang putri. Meminta Pak Man untuk mengambilkan kotak obat.


"Kalau mau drama lari-lari jangan pakai heels Sayang," ujar pria paruh baya itu mengangkat kedua kaki anak gadisnya ke pangkuan.


"Dad, aku tidak sedang syuting. Jadi tidak mempersiapkan properti," jawab Ellea dengan cemberut.


"Kalau hatinya sudah disiapkan?" Goda sang daddy yang mendapat jawaban gelengan kepala.


"Aku kalah Dad. Aku kalah dengan perasaanku sendiri," adu Ellea menyandarkan kepalanya ke bahu sang ayah. Tempat ternyaman yang takkan pernah bisa tergantikan.


"Putri Daddy hebat mau mengakui perasaannya. Tidak apa egois demi kebahagiaanmu sendiri Sayang."


"Aku malu," lirih Ellea.


"Daddy gak marah?"


"Coba katakan apa yang membuat Daddy harus marah? Jangan terlalu sering menengok ke belakang. Dan jangan khawatirkan yang belum terjadi. Daddy marah kalau Elle terus membohongi diri sendiri demi pura-pura bahagia."


"Saayaaang Daddy," ucap Ellea meniru suara keponakannya. Mom Linn yang tadi terharu menyimak pembicaraan ayah dan anak itu jadi terkekeh sendiri.


"Daddy sayang Elle kalau cepat ngasih cucu, hm." Ayah beranak dua itu kembali menggoda sang putri.


Ia bukan membenarkan Ellea merebut Ron dari calon tunangannya. Hanya saja Harry tahu, dua insan ini saling mencintai. Jadi tidak ada salahnya kalau dia egois mendukung sang putri untuk menemukan kebahagiaannya.

__ADS_1


"Daddy ish, ketemu jodohnya juga belum sudah diminta cucu duluan."


"Tadi jodohnya bukan?" Dad Harry memainkan alisnya turun naik.


"Daddy, tadi itu calon suami orang yang aku tikung." Jawab Ellea tertawa gelak, merasa konyol dengan hidupnya.


Disaat Ellea sudah bisa tertawa bahagia sementara Ron yang baru kembali ke hotel dengan pakaian berantakan mendapat amukan dari kedua orang tuanya. Karena calon besannya terus menanyakan dimana keberadaan sang putra.


"Aaron, berapa kali kau mau mempermalukan orang tua hah!!" Sentak perempuan paruh baya yang menarik tubuh Ron ke tempat yang agak sepi.


"Ibu tenang oke, aku bisa jelaskan." Ron menenangkan sang ibu yang memiliki riwayat hipertensi. Bahaya kalau ibunya terus mengomel.


"Bagaimana Ibu mau tenang Ron, dulu kau tiba-tiba membatalkan pernikahan disaat semuanya sudah siap. Dan sekarang kau menghilang begitu saja."


"Aku sudah katakan hanya ingin menikah dengan Ellea. Tapi Ibu yang memaksaku melakukan pertunangan ini," Ron membela diri.


"Ellea lagi, Ellea lagi. Sampai kapan kau ingin menunggu Ellea mencintaimu!!" Ucap sang ibu frustasi.


"Aku hanya perlu doa Ibu dan Ayah agar bisa menikahi Ellea. Aku perlu restu kalian dan batalkan pertunangan ini," mohon Ron dengan memelas.


"Apa kurang doa Ibu untukmu?" Tanya perempuan paruh baya itu yang mendapat gelengan dari Ron.


"Tidak ada yang kurang, doa Ibu hanya butuh waktu yang tepat saja." Jawab Ron seraya memeluk sang ibu, berharap wanita tercintanya ini luluh dan berpihak padanya.

__ADS_1


"Terserah kau saja, Ibu capek. Kalau kau ingin membatalkan pertunangan ini katakan saja sendiri." Ranjuknya melepaskan sang putra dari pelukan. Membuat Ron mendesah berat, "perempuan selalu rumit untuk diajak kerjasama."


__ADS_2