Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 11


__ADS_3

Universitas Pancasila


Deandra turun dari taksi online dan netranya menemukan mobil Edric di kampus. Suaminya itu keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk seorang gadis yang ia ketahui sebagai senior di kampusnya.


Edric mengecup tangan Alice saat melihat Dea sedang menatap ke arahnya.


"Sial dia sudah punya kekasih. Bagaimana harga diriku kalau dia bermesraan di tempat terbuka seperti ini. Sedang semua orang tahu kabar pernikahanku dan Edric yang tersebar ke seantero jagat raya."


Deandra bergumam sendiri dan seolah tidak peduli melewati Edric yang sedang bermesraan. Dia bukan gadis lemah yang akan menangis melihat suaminya bersama perempuan lain.


"Oh Tuhan, kenapa nasibku sial sekali. Pernikahan ini memang terpaksa, tapi kalau ada orang ketiga rasanya sangat sulit untuk dijalani. Mengingat pasti dia akan makan hati."


Deandra bergelayut dengan pikirannya sendiri sampai tidak sadar ada yang menarik tangannya.


"Om!!" Pekik Deandra saat menyadari siapa yang menariknya.


"Baby, maafin Om." Azmi memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Sadar sudah membuat Deandra takut dan terluka.


"Kenapa Om lakuin semua ini sama Dea. Dea sayang sama Om, Dea selalu nunggu Om. Tapi kenapa Om jahat sama Dea." Deandra mengungkapkan segala isi hatinya dalam pelukan Azmi. Menumpahkan segala sakitnya dengan tangisan, dan itu semua didengar oleh Edric.


Kenapa ada rasa tidak rela saat melihat istri diatas kertasnya dipeluk oleh pria lain. Dan pria itu yang lagi-lagi bisa membuat Dea menangis.

__ADS_1


"Maaf Om tidak bisa mengendalikan diri karena sangat rindu dengan Dea." Azmi menghapus air mata gadis kecilnya lalu menciumi dengan lembut.


"Sekarang Dea masuk kelas, nanti pulangnya Om jemput. Kita jalan-jalan Sayang," setelah mengucapkannya Azmi mengecup kening Deandra lama.


Edric terus memperhatikan pria yang meninggalkan Dea. Setelah pria itu tidak terlihat lagi baru dia mendekati gadis yang berstatus sebagai istrinya. "Sudah puas berpelukannya?"


Deandra menoleh kearah suara sambil menghapus bekas air matanya. "Aku tidak mengurusi hidupmu kenapa kau mengurusi hidupku?"


"Tentu saja aku harus mengurusi hidupmu karena kau itu istriku." Jawab Edric dengan pongahnya.


"Istri?" Deandra tertawa gelak, "sekarang jamannya ya istri disuruh naik taksi dan suami sibuk memanjakan kekasihnya." Sindir Deandra kemudian berlalu pergi.


Tidak mengertikah manusia angkuh itu, kalau dia sedang tidak mood bertengkar. Hati dan pikirannya lelah sejak terjadinya perjodohan ini.


...🌹🌹🌹 ...


Karena sengaja ingin menghindari Azmi Deandra tidak ikut mata kuliah jam terakhir. Dia pulang lebih dulu. Pria dewasa itu pasti sudah mengetahui semua jadwalnya di kampus. Deandra hanya bisa menarik napas panjang, tidak tahu harus mengadu kemana.


Sampai di apartemen sang suami ia lebih memilih mengistirahatkan kepalanya yang lelah. Mumpung tidak ada si manusia angkuh.


Deandra tertidur sampai magrib dan itu membuat Edric kebingungan mencari keberadaannya.

__ADS_1


"Kemana kau belum pulang, menyusahkan saja." Gerutu Edric terus berusaha menghubungi Deandra.


Dia sudah mencari ke seluruh penjuru kampus, tapi istrinya tidak ada disana. Di mansion Adley juga tidak ada. Ditelpon tidak bisa tersambung. Edric takut om-om itu membawa Deandra pergi jauh.


"Hah, kenapa aku jadi mengkhawatirkannya!!"


"Kemana kau?" Edric sudah putus asa sampai mengacak-acak kamar Deandra.


Ceklek


Edric menoleh ke arah pintu di belakangnya yang terbuka. Deandra keluar dengan wajah bantal sambil menguap.


"Sial, kenapa aku tidak memeriksa kamar lain di apartemen ini." Edric menarik napas berat menatap tajam gadis yang berdiri di depan pintu tanpa dosa sudah menyusahkannya.


"Sudah puas tidurnya?"


"Sudah, rasanya lelahku beberapa hari ini sudah terbayar." Gumam Deandra tanpa sadar langsung menuju pantry karena kelaparan.


"Yah nasi goreng pagi tadi kenapa habis? Padahal aku sengaja memasak banyak biar tidak repot-repot memasak lagi." Gerutunya, karena malas terpaksa makan roti dan minum susu. Semua persediaan di kulkas ia beli dengan uangnya sendiri biar manusia angkuh itu tidak memarahinya lagi.


Lagi-lagi Edric hanya mengamati tingkah gadis itu dengan geleng-geleng kepala."Aku dianggap apa sebagai pemilik apartemen ini," umpatnya dalam hati.

__ADS_1


Tinggal satu atap bersama gadis itu membuatnya sering mengumpat. Lama-lama ia bisa darah tinggi dibuatnya.


__ADS_2