
"Aku kehilangan kekasihku, jadi kau yang harus bertanggung jawab atas semua ini!" Edric berucap tegas, tidak ingin dibantah.
"Aku yang harus bertanggung jawab?" Tanya Deandra tidak percaya.
"Tentu saja, siapa lagi kalau bukan kau yang bertanggung jawab membereskan kekacauan dalam hidupku!" Edric menyentil kening Deandra pelan.
"Aduuh, kau suka sekali menyiksaku." Deandra mengelus keningnya yang sama sekali tidak sakit.
"Jadi luka ini karena kau sedang patah hati dan sampai melukai kakiku," ledeknya. "Sekarang kau malah ingin menghukumku karena menganggap aku yang membuat Alice meninggalkanmu."
Deandra menghela napas berat, kenapa jadi dia yang harus bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak ia buat.
"Ya benar, karena kau yang sudah membuat hidupku kacau. Jadi kau tidak boleh bahagia dengan om itu. Enak saja kau berbahagia sedang aku menderita!" Seru Edric yang tidak sadar mengeluarkan isi hatinya.
"Kau itu egois!!" Rengut Deandra.
"Ya, aku memang egois!!" Jawab Edric, ia masih betah mengamati wajah cantik Deandra.
"Terserah kau saja, aku ini memang tidak pantas bahagia." Deandra tersenyum menepuk pipi Edric yang sudah selesai ia bersihkan.
"Andai kau mau mencintaiku mungkin aku akan belajar mencintaimu." Gumam Dea dalam hati, "tapi kau malah menjeratku disini hanya untuk menyiksaku."
Mendengar ungkapan itu membuat Edric merasa bersalah. Dia ingin memeluk Deandra kembali, tapi gengsinya lebih besar daripada rasa bersalahnya.
"Kau mandilah, aku siapkan pakaianmu!" Deandra keluar kamar meminta pakaian baru pada Dad Tian untuk Edric.
Seberapa keras pun menentang takdir ini tetap saja dia yang kalah. Jadi lebih baik dinikmati seperti sebelumnya.
__ADS_1
Edric yang melihat Deandra keluar kamar menghela napasnya dengan kasar lalu masuk ke bathroom.
Sampai Edric selesai mandi Deandra belum juga kembali. Kemana gadis itu mencari pakaian jadi lama sekali, gumamnya dalam hati.
Drt... drt...
Dering ponsel menyita perhatian Edric. "Bagus, kau sepertinya tahu kalau akan dihukum." Gerutunya saat melihat nama Ron yang muncul di layar.
"Masih berani kau menghubungiku setelah melakukan kesalahan!!"
"Ma-af Tuan, saya siap dihukum sebab tidak menjaga nyonya Dea dengan baik. Tapi tidak sekarang, karena Richland Group sedang dalam masalah." Ucap Ron hati-hati karena tahu suasana hati tuannya itu sedang tidak baik.
"Coba kau ulangi Ron, jangan bercanda dengan memberikan informasi palsu padaku. Kau ini kebanyakan menurut pada Dad Harry jadi membangkang denganku!!" Teriak Edric emosi.
Perusahaan yang baru dirintisnya diluar dari Hansel Group tidak mungkin mengalami masalah.
"Kau sudah menyelidiki siapa yang melakukannya Ron!!" Edric mengusap wajahnya dengan kasar. Ingin sekali membanting apapun yang ada di hadapannya, tapi ini bukan rumahnya. Dia bisa mendapat masalah baru.
"Kau kenapa?" Tanya Deandra yang mendengar suara teriakan Edric.
Edric yang masih mendengarkan penjelasan Ron tidak menjawab. Hanya menatap Deandra dengan datar. Setelah panggilan telepon selesai dia mendekati gadis itu.
"Mulutmu ini kenapa?" Edric mencubit pelan bibir Deandra dengan perasaan yang kacau.
Dia ingin marah pada gadis ini tapi sudah terlanjur berjanji pada Dad Tian untuk tidak menyakitinya lagi. Karena tidak bisa meluapkan amarahnya Edric memeluk Deandra untuk mencari ketenangan.
"Ada apa?" Ulang Deandra, membawa Edric duduk disisi tempat tidur. Sambil menahan handuk yang melilit di pinggang Edric agar tidak melorot. Khawatir matanya ini tercemar oleh benda yang halal untuk ia lihat.
__ADS_1
"Kau mendoakanku bangkrut dan diselingkuhi, sekarang keduanya kejadian." Ucap Edric lemas membenamkan wajahnya di ceruk leher Deandra. Dia lelah menghadapi masalah yang datang bersamaan menghampirinya.
Deandra mengusap-usap punggung polos Edric untuk menenangkan. Tidak ada lagi Mr. Arrogant-nya kalau sedang seperti ini. Jelas ia tahu siapa yang membuat perusahaan Edric luluh lantah dalam sekejap.
"Tanganmu menyetrum," ucap Edric berusaha melupakan apa yang terjadi padanya malam ini.
"Tanganku?" Deandra membolak-balikkan telapak tangan, "tidak ada aliran listriknya." Jawabnya polos.
"Bukan itu," Edric menarik tubuh Deandra sampai terjatuh diatas tubuhnya.
"Kau pasti tahu siapa yang sudah menghancurkan perusahaan yang baru aku rintis ini." Gumamnya meletakkan kedua tangan Deandra ke pipinya.
"Aku ingin marah padamu, tapi aku sudah berjanji pada Dad Tian untuk tidak menyakitimu." Curhat Edric dengan suara berat mengacuhkan miliknya yang sudah bangkit.
Deandra terdiam menikmati debaran di dadanya. Debaran yang lebih dahsyat dibanding saat dia bertemu Om Azmi.
"Bangunlah kita temui Daddy," Deandra berkata pelan. Untuk kali ini dia memang bersalah, karenanya Om Azmi jadi menghancurkan perusahaan Edric.
"Untuk apa? Temani aku sebentar disini." Pinta Edric menurunkan Deandra ke sampingnya lalu memakai pakaian yang dibawakan istrinya tadi.
Setelahnya Edric kembali berbaring di samping Deandra, "kau tidak ada niat ingin mandi?" Tanyanya.
"Kan kau yang meminta aku untuk menemanimu," Deandra memutar bola mata jengah. Kembali lagi Mr. Arrogantnya.
"Oh iya," Edric menarik Deandra dalam pelukan sambil tertawa kecil. "Kau tahu, malam itu aku melihat Alice bercinta dengan sahabatku di apartemennya." Curhat Edric sambil membenamkan wajah dalam pelukan Deandra.
Deandra hanya mendengarkan, ia tidak menyangka kalau sang Mr. Arrogant punya rasa sedih juga.
__ADS_1