
"Elle," Jovie tidak peduli kalau harus bertengkar dengan Edric. Ia sangat khawatir saat mendapat kabar Ellea mengalami kecelakaan.
"Keluar!" Usir Edric, menghalangi langkah Jovie yang ingin mendekati Ellea.
"Kali ini ijinkan aku bicara dengan Elle," mohon Jovie.
"Tidak akan pernah!!"
"Edric," Deandra menggelengkan kepala menarik suaminya untuk duduk kembali.
"Sayang, dia tidak boleh bertemu Elle!" Kekeuh Edric, tidak sudi melihat wajah penghianat itu di dekat sang adik.
"Biarkan untuk kali ini Elle menggapai cintanya," mohon Deandra yang memiliki harapan Ellea kembali bersemangat dengan kehadiran Jovie.
"Tidak kalau orangnya dia!" Tegas Edric sampai membentak Deandra.
"Jovie masuklah!" Perintah Dad Harry, meskipun tidak setuju putrinya dekat dengan Jovie. Tapi ia tidak bisa melarang kalau pria itu yang menjadi kebahagiaan sang putri.
__ADS_1
"Dad!" Seru Edric tidak terima Dad Harry malah mengijinkan Jovie bertemu Ellea. "Daddy pilih aku atau dia?"
"Sayang," Mom Linn turun tangan mendekati sang putra yang mulai emosi. "Jangan buat adikmu tambah bersedih dengan pertengkaran kalian."
"Mommy lihat, Ron sekarang sedang berjuang untuk melanjutkan hidupnya. Dia yang selama ini selalu meratukan Elle dan sekarang kalian malah membiarkan bajingan ini masuk!" Sahut Edric emosi, sampai kelepasan menyebutkan nama Ron.
Mom Linn dan Dad Harry terdiam, apa yang dikatakan putranya memang benar. Mereka egois menginginkan Ellea sembuh tapi malah menyakiti Ron.
"Dimana Ron sekarang?" Tanya Ellea dengan teriakan membuat Edric yang sedang emosi ikut membisu.
"Katakan dimana Ron sekarang?" Teriak Ellea ulang, merasa seperti orang bodoh karena percaya saja kalau pria itu sedang tidur.
"Ron masih belum sadar di ruang ICU Sayang," jawab Dad Harry jujur. Ellea langsung terdiam, gadis itu tidak menangis. Tidak lama kemudian Ellea hilang kesadaran.
"Elle!" Teriak Jovie langsung memeluk sang gadis. "Baby bangun Sayang," lirih Jovie tidak tega melihat kondisi Ellea.
"Baby please listen me," ulang Jovie. Matanya sampai memerah menahan air mata yang mendesak ingin keluar.
__ADS_1
Deandra ikut mematung, untung Dad Harry menahan tubuhnya yang hampir limbung.
"Dea pulang Sayang, biar Dad dan Mom yang jaga adikmu." Ujar Dad Harry membawa Deandra duduk.
Wanita hamil itu menggelengkan kepala, dadanya sampai sesak merasakan kepedihan yang Ellea alami.
"I'm sorry Sweetheart," Edric memeluk tubuh Deandra dari samping. Ia tidak bermaksud membuat Ellea semakin parah. Dokter sedang memeriksa keadaan sang adik.
"Sekarang kau puas!" Ucap Deandra tanpa menoleh pada sang suami.
Edric menggelengkan kepala, "kalau memang Elle ingin bersama Jovie aku tidak akan melarangnya lagi." Ujarnya mengalah, tidak ingin memperpanjang masalah ini lagi. Walau dalam relung hatinya sangat merasa bersalah pada Ron yang selalu menjaga Ellea. Bahkan disaat dia marah pada adiknya itu, Ron lah yang selalu menjaga Ellea dari jauh.
"Semua sudah terlambat Edric. Kau tahu, aku yang paling merasa bersalah pada keadaan Elle sekarang. Kalau Elle kenapa-kenapa hidupku tidak akan bisa tenang." Ungkap Deandra dengan air mata yang kembali beruraian.
"Dan Ron..." wanita hamil itu sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Ia tidak bermaksud jahat pada Ron, tapi bagaimana jika pria yang Ellea inginkan dan bisa membuatnya bersemangat lagi adalah Jovie.
"Aku yang akan bicara pada Ron kalau dia sembuh," ujar Edric yang mengerti kerisauan hati sang istri.
__ADS_1