
"Jov, bujuk Edric." Rengek Alice pada partner ranjangnya. Dia sekarang sedang berada di apartemen Jovie.
Edric benar-benar mengusirnya dari apartemen. Dan dia kembali ke kost-an karena Jovie tidak mau menampungnya di apartemen.
"Aku tidak bisa. Edric juga sedang marah padaku Alice," sahut Jovie. Tubuhnya saja masih sakit bekas pukulan Edric, bagaimana dia bisa membujuk sahabatnya itu.
"Terus sampai kapan aku tinggal di kamar sempit itu!" Rajuk Alice dengan wajah cemberut karena sangat tahu kelemahan Jovie yang tidak bisa melihatnya bersedih.
"Bersabarlah, kau tahu aku sudah punya kekasih. Jadi tidak mungkin membawamu menginap di apartemenku ini." Alibi Jovie, padahal dia tidak ingin Edric semakin marah padanya dengan menampung Alice. Itu menyulitkannya untuk meminta maaf.
"Kau jahat!"
"Aku sudah menuruti semua keinginanmu, apalagi?" Jovie mengelus-elus tangan Alice agar tenang. Wanitanya ini hanya butuh sentuhan agar bisa anteng.
Jovie mencintai Alice jauh sebelum Edric. Tapi dia tidak pernah terlihat di mata Alice, hanya Edric yang selalu dipuja wanitanya ini. Sejak dulu dia selalu memanjakan Alice dan menuruti semua kemauannya sampai bermain di tempat tidur. Karena Alice tidak bisa mendapatkan kesenangan itu dari Edric. Katakanlah tidak ada kucing yang menolak ikan asin.
Ia memang mengaku sudah punya kekasih pada Edric dan Alice. Agar dua orang itu tidak ada yang curiga dengan perasaannya.
"Dekati Lea untukku. Dan minta dia membujuk Edric agar kembali padaku," rengek Alice.
"Oke, ini yang terakhir aku menuruti keinginan gilamu!!" Putus Jovie, wanitanya ini tidak akan berhenti merengek kalau tidak dituruti.
"Terima kasih," Alice langsung naik ke pangkuan Jovie dan memberikan sentuhan di leher pria itu.
__ADS_1
"Mau apa?" Jovie sangat tahu apa yang diinginkan wanitanya yang agresif ini.
"Sekali," pinta Alice yang sudah menggagahi tubuh Jovie. Jovie hanya bisa menikmati permainan Alice yang memanjakan miliknya.
...🌹🌹🌹...
Mansion Hansel
"Dad kembalikan Dea?" Edric berteriak di dalam mansion orang tuanya. Dia baru tahu kalau Deandra tidak ada di rumah.
Memang setelah mengantar Deandra pulang kemarin siang, ia langsung pergi dan tidak pulang ke rumah sampai tadi siang. Karena ada yang harus diurusnya.
"Kau ini kenapa datang-datang berteriak tidak tahu sopan santun sekali!!" Marah Harry sambil berkacak pinggang.
"Kembalikan? Untuk apa?" Harry tersenyum sinis pada putranya. "Mau kau siksa lagi, jangan kau pikir Daddy tidak mengetahui apa yang kau lakukan pada Dea selama ini!!"
"Dad, aku tidak ingin bertengkar dengan Daddy sekarang. Cepat kembalikan Dea!!" Edric tidak bisa meluapkan amarahnya kalau tidak ada Deandra.
"Tidak akan!!" Jawab Harry. Padahal dia juga tidak tau kemana menantunya pergi dan siapa yang membawanya. Harry hanya ingin melihat sejauh mana Edric mencari Dea.
"Dad jangan salahkan aku jika mengacak-acak mansion ini." Ucap Edric yang sudah tidak sabar untuk menemukan Deandra.
"Lakukanlah. Aku tahu walau ku larangpun kau akan tetap melakukannya," Harry tersenyum miring.
__ADS_1
"Please Dad kembalikan Dea," mohon Edric. Karena tidak ingin membuang waktu, saat ini tubuhnya sangat lelah.
"Dea tidak ada disini!" Jujur Harry.
"Dad, don't lie to me."
"I'm serious. Deandra not here!!" Harry berucap tegas.
Edric tahu Dad Harry tidak pernah berbohong. Lalu kemana Deandra tidak pulang sampai malam.
Ia memutuskan untuk mendatangi mansion Adley menanyakan keberadaan istrinya. Tapi Deandra tidak ada disana, di Mansion Dad Denis pun juga tidak ada. Membuat keluarga istrinya itu khawatir.
"Aku memintamu menjaga Dea tapi kenapa kau membiarkannya dibawa Azmi!!" Tian mengusap wajah kasar.
Setelah Denis melacak keberadaan Deandra ternyata putinya itu sedang berada di rumah Azmi.
Tian tidak tahu apa yang Azmi lakukan pada putrinya, karena ini sudah sangat terlambat. Belum lagi perjalanan menuju rumah Azmi perlu waktu dua jam.
"I'm sorry," Edric tidak tahu akan kejadian seperti ini. Padahal dia sudah mengirimkan pengawal untuk menjaga istrinya itu. Setelah ini dia harus menghukum Ron yang kerjanya tidak becus.
"Mas, ini bukan salah Edric." Ressa menggenggam tangan suaminya yang emosi. "Lebih baik kalian jemput Dea."
Tian mengangguk, "Denis, hubungi Jeri untuk menyiapkan penerbangan. Aku tidak ingin terlambat menjemput Dea."
__ADS_1
Keluarga Adley memiliki pesawat pribadi. Tapi selama ini sang sepupu yang lebih sering menggunakannya. Tian lebih suka menggunakan pesawat komersial kalau tidak sedang dalam keadaan terdesak seperti saat ini.