
"ELLEA HANSEL, CUKUP!!" Teriak Edric dengan nada tegas. Ia bahkan tidak yakin kedua wanita itu mau mendengarkannya.
Ellea mengambil ponselnya yang ternyata masih bernyawa, "kau ceraikan saja perempuan tidak tahu diri ini Edric!!"
Deandra yang mendengar ucapan Ellea mencoba menahan diri untuk tidak main fisik dengan adik iparnya.
"Berhenti bicara Ellea, jangan mengatur hidupku!!" Ucap Edric tegas kemudian memutus sambungan telepon. Ia menarik napas panjang sejenak, pagi-pagi sudah harus mengurus dua wanita yang sama keras kepalanya.
"Nona Ellea, anda diperintahkan Tuan Edric untuk keluar dari kamar ini." Pak Man kepala pelayan di mansion Hansel masuk ke kamar Tuan Edric.
"Jangan merasa bangga karena Edric membelamu. Awas saja kau!!" Seru Ellea geram karena belum sempat membalas perbuatan Deandra. Dan Edric malah memarahinya gara-gara wanita ini.
"Siapa takut!" Deandra tersenyum sinis pada Ellea yang meninggalkan kamarnya.
"Nyonya, Tuan Edric ingin bicara." Pak Man memberikan ponselnya yang sudah terhubung panggilan video dengan sang majikan.
__ADS_1
"Aku tidak mau bicara dengannya Pak Man, silahkan Pak Man keluar dari sini!" Tolak Deandra lebih lembut kemudian menunjuk ke arah pintu. Dia sedang marah sungguhan dengan Edric, tapi tidak akan melampiaskannya pada Pak tua ini.
"Ini perintah Nyonya, kalau anda menolak saya yang akan dipecat." Pria lanjut usia itu berucap sendu untuk menyempurnakan drama yang sedang ia mainkan seperti perintah Tuan Edric.
"Edric sialan!!" Umpat Deandra pelan, menjulurkan tangan meminta ponsel Pak Man. "Nanti kalau sudah selesai kukembalikan," ucapnya malas.
Pak Man mengangguk mengerti keluar dari kamar sang majikan dengan senyuman cerah karena berhasil melakukan misinya. Dan sebentar lagi akan mendapatkan bonus seperti yang Tuan Edric janjikan.
"De, kenapa marah?" Edric bisa bernapas lega karena semudah itu Deandra mau berbicara padanya saat mendengar Pak Man yang diancam akan dipecat.
"Hei kau itu marah kenapa. Apa salahku?" Tanya Edric seperti tidak melakukan kesalahan apa-apa. Ia dengan sabar menunggu Deandra selesai melakukan kegiatan yang pasti disengaja untuk menghindarinya.
"Kau tidak tahu apa salahmu?" Deandra kembali ke depan kamera. Wanita itu hanya menggunakan tank top berwarna hitam.
"Kau pikir aku bodoh tidak tahu kalau kau sudah kongkalikong dengan Pak Man!" Seru Deandra dalam hati, ia akan membalas perbuatan Edric dengan cara lain.
__ADS_1
Di seberang sana Edric meneguk saliva dengan kasar. Saat dia ada di rumah Deandra tidak pernah berpakaian terbuka, kecuali saat malam memabukkan itu. Hah! Edric jadi ingin cepat pulang dan mencumbu Deandra dengan penuh damba.
"Serius aku tidak tahu salah apa?" Jawab Edric, matanya berfokus pada lekukan tubuh indah Deandra.
"Salahmu itu karena menjadi suamiku!!" Deandra mengambil karet gelang. Dengan sengaja mengikat rambutnya tinggi, ia bisa menangkap gerak-gerik Edric yang tergoda melihat aksinya.
Gerakan yang biasa bagi wanita itu namun terlihat sangat sensual dan menggoda bagi Edric. Pria itu tidak berkedip mengamati setiap inci keindahan yang Deandra miliki.
"Apakah menjadi suamimu termasuk kejahatan?" Edric menyadarkan pikirannya. Ia yakin Deandra sengaja berbuat seperti ini untuk menyiksanya.
"Tentu saja, harusnya setelah menjadi suamiku kau tidak boleh bermain-main lagi. Tapi lihat apa yang kau lakukan saat ini?" Deandra tersenyum sinis menahan nyeri di dadanya. Apalagi saat Ellea meminta Edric untuk menceraikannya tadi. Cepat atau lambat Edric mungkin akan tetap menceraikannya.
"Memangnya apa yang aku lakukan saat ini? Dan dimana salahku?" Kali ini Edric benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Deandra.
"Bekas lipstik di lehermu Edric!!" Teriak Deandra kesal pada pria yang pura-pura bodoh setelah tertangkap basah.
__ADS_1
"Sial aku melupakannya!" Umpat Edric dalam hati.