
Keesokan paginya
Edric dibuat menganga melihat apartemen yang tadi malam dia buat berantakan sekarang sudah rapi dan bersih kembali. Di meja makan juga sudah terhidang makanan, Edric melirik jam sekilas. Masih belum jam enam dan rencananya kali ini gagal.
“Jam berapa dia bangun jadi sudah bisa rapi begini,” ucap Edric tak percaya.
Sementara dalam kamarnya Deandra tersenyum puas berbicara dengan Dad Tian melalui video call. “Thanks Dad, mmmuuacch.”
“Your welcome Honey, sekarang mandi jangan sampai Edric curiga.”
Deandra mengangguk mematikan video callnya. Ya semua ini berkat bantuan Dad Tian yang mengirimkan lima pelayan untuk membantunya. Sedang dia bertugas meretas CCTV di apartemen Edric sambil dibimbing Dad Tian. Hingga akhirnya perfect.
Selesai mandi dan berpakaian rapi Deandra keluar kamar dengan menahan tawa melihat Edric yang menatapnya tajam.
“Jam berapa kau bangun membereskan ini semua!!” tanya Edric penuh kecurigaan.
“Kenapa kau tidak bangun jam tiga pagi dan awasi aku bekerja!!” Sahut Deandra ketus, “oh iya lupa. Mana mungkin kau bangun jam tiga pagi setelah mabuk-mabukan!!” Sindirnya dengan tatapan tak kalah tajam.
__ADS_1
“Kau jangan bicara asal, mana ada aku mabuk!” Saking penasarannya Edric sampai memeriksa CCTV dan benar saja Deandra bangun jam tiga pagi membersihkan apartemennya.
“Lalu kalau bukan mabuk apa namanya,” Deandra menunjuk botol bekas minuman yang sengaja tidak dia buang dari keranjang sampah. “Apa mau ku laporkan ke Dad Harry,” lanjutnya dengan seringaian licik.
“Berani kau mengancamku, hah?”
“Tentu saja, kenapa aku takut mengancammu. Kau itu masih makan nasi, bukan beling. Jadi tidak ada yang wah sama sekali!!”
“Rasanya aku ingin sekali menertawakan wajah tampan yang berubah masam itu. Sungguh sangat sayang mata indah itu selalu digunakan untuk menatapku dengan penuh kebencian.” Gumam Deandra dalam benaknya.
“Tunggu dulu!! Kenapa aku memujinya tampan dan memuji mata indah itu. Pasti ada yang salah dengan otakku.”
“Sial, dia balik mengancamku!!” umpat Deandra.
“Dan kau pikir aku takut? Sepertinya kau belum mengenal Deandra Adley!!” Ucap Dea angkuh, “sebelum kau melaporkan pun aku sudah bercerita pada Dad Tian.” Lanjutnya dalam hati.
“Oh ya, kalau begitu mari kita berkenalan.” Edric menyeringai licik mendekati wajah Deandra. Tubuh Deandra yang tinggi memudahkannya menyasar bibir gadis itu.
__ADS_1
Deandra mematung di tempat, jantungnya sudah berdetak tidak karuan. Dia sampai bisa merasakan hembusan napas Edric yang sangat dekat dengannya. Dan aroma maskulin pria itu menyapa indra penciumannya. Sungguh sangat menggoda dan sayang dilewatkan.
Plak
Tangan Deandra mendarat di pipi Edric sebelum lelaki itu membuatnya malu karena ingin mempermainkannya. Tentu saja ia tahu dengan trik yang ingin Edric mainkan.
“Hei, kau ini kasar sekali!!” Edric menoyor kening Deandra kesal. “Kau kira aku nafsu menciummu, hah!!” Edric mengusap pipinya yang terasa panas, gagal lagi dia mengerjai Deandra.
Deandra mengabaikan ocehan Edric, menuju meja makan. Hari ini dia bisa berleha-leha saat Edric tidak ada, karena tidak ada jadwal kuliah.
“Kau mau makan atau masih mau memarahiku?” tanya Deandra dan mengambil nasi untuk dirinya sendiri.
“Tentu saja aku mau makan, untuk apa aku susah-susah punya pelayan kalau tidak dimanfaatkan.” Edric menarik kursi lalu duduk tanpa rasa bersalah sudah menganggap Dea pelayan.
Gadis cantik itu tidak menanggapi. Tidak ingin acara makannya terganggu karena suara berisik suami angkuhnya.
Suasana meja makan hening saat keduanya saling menikmati makanan masing-masing. Setelah selesai makan Deandra langsung membereskan piring kotor dan masuk ke kamar.
__ADS_1
“Lihat, apa lagi yang ingin kau lakukan untuk membuatku tersiksa.”