
"Dea mandi dulu ya Sayang, aku mau menemui Daddy sebentar." Ujar Edric membangunkan Deandra yang masih merengut dalam selimut. Wanita hamil itu menggelengkan kepala manja berlabuh dalam pelukan Edric.
Edric membiarkan saja istrinya bermanja-manja sambil mengelus-elus di punggung, "uhh manjanya Mommy dedek."
"Nanti saja ketemu Daddy-nya," pinta Deandra.
"Daddy sudah nungguin Sayang," Edric menggendong Deandra ke bathroom memasukkannya ke dalam bathtub tanpa persetujuan.
"Ayang aku belum mau mandi," rengek Deandra yang sudah tenggelam dalam busa sabun.
"Sudah terlanjur basah Sayang," Edric tertawa kecil menyabuni Deandra. Ia tidak melakukan apapun selain memandikan istrinya itu. Jangan ditanya apakah dia ingin menerkam atau tidak.
Jelas saja Edric sangat ingin menerkam kalau saja tidak ingat Deandra sedang hamil dan sekarang Dad Harry tengah menunggunya.
"Dingin Edric, dingiiinn!!" Deandra semakin merengek-rengek.
"Sebentar lagi Sweetheart." Edric memandikan Deandra kilat, takut dia yang khilaf kalau kelamaan. Setelah selesai pria itu menggulung tubuh sang istri dengan handuk lalu menggendongnya ke kamar.
Diperlakukan Edric seperti tuan putri, tentu saja membuat wanita hamil itu sangat bahagia.
__ADS_1
"Makasih Ayang," ucap Deandra dengan senyuman genit merentangkan tangan minta dipeluk lagi.
"Pakai bajunya Sayang, peluknya sebentar saja ya." Lagi-lagi Edric tidak bisa menolak pada permintaan sang istri. Mengecup kening Deandra lalu melepaskan pelukannya. "Aku tinggal sebentar saja ketemu Daddy."
"Jangan lama," ucap Deandra cemberut.
"Iya Sayang, sebentar saja." Edric meyakinkan dan langsung keluar kamar, kalau tidak begitu Deandra akan minta dipeluk lagi.
“Ada apa memanggilku Dad?” Ujar Edric to the point duduk di depan Dad Harry. Pasti ada hal serius kalau sampai sang daddy memanggilnya ke ruang kerja.
“Ini apa?” Pria setengah baya itu memberikan surat perjanjian kerjasama yang ditolak Edric. Padahal bekerja sama dengan perusahaan tersebut bisa membesarkan nama Richland Group.
“Kau serius menolak kerjasama dengan Wijaya Group hanya karena yang menjadi perwakilan perusahaan itu mantan kekasihmu. Kau belum bisa move on?” Tuduh Dad Harry.
"Oh, come on Daddy. Apa hubungannya aku menolak kerjasama ini dengan tidak bisa move on." Edric menggelengkan kepala dengan pikiran konyol sang daddy. Membuang waktunya saja membahas wanita itu.
"Siapa tahu kau takut cintamu itu bersemi kembali kalau terlalu sering bertemu," ledek Dad Harry.
"Menantu kesayangan Daddy sedang menungguku di kamar, sebaiknya aku kembali." Ujar Edric malas menanggapi ucapan Dad Harry.
__ADS_1
“Kalau bukan itu alasannya, Daddy yakin Dea pasti akan mengerti kalau ini hanya sebuah bisnis.” Lanjut Dad Harry sambil mengulum senyum melihat putranya yang gusar.
“Oh Tuhan, sejak kapan Daddy jadi menyebalkan seperti ini." Edric mengusap wajah diikuti helaan napas kasar.
"Cukup Daddy ingat, aku menolak kerjasama dengan Wijaya Group karena tidak ingin membuat hati istriku yang pencemburu itu tersakiti." Beritahu Edric yang membuat Dad Harry tersenyum bangga.
Tidak salah dia memaksa putranya menikah muda. Tujuannya sekarang sudah tercapai membuat Edric lebih bertanggung jawab dan tidak goyah dengan tawaran popularitas. Tinggal Ellea sekarang yang menjadi PR untuknya.
"Jaga cucu Daddy baik-baik. Daddy bangga padamu," calon kakek itu berdiri mendekati Edric lalu memeluknya.
"Terima kasih sudah membuatku bisa memiliki Dea," ungkap Edric sampai matanya memerah karena terharu bisa mengucapkan kalimat yang belum pernah ia katakan pada sang daddy. Padahal dalam hatinya sangat bersyukur atas perjodohan yang Dad Harry paksakan padanya.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Ucap Dad Harry menirukan salah satu firman Allah dalam Al-Qur'an.
"Dad, jangan ceramahi aku dengan bahasa yang terlalu dalam." Edric tersenyum kecil sambil mengusap air matanya.
"Jadilah Daddy yang baik dan membanggakan. Jangan ikuti ajaran Daddy yang kurang baik," pria paruh baya itu menepuk pundak putranya. Namun Edric malah kembali memeluk Dad Harry.
"Daddy adalah Daddy terbaik untukku," sebut Edric. Sejarah baru yang terjadi dalam Mansion Hansel, dua pria yang sama-sama keras kepala itu bicara dari hati ke hati. Hal yang selama ini tidak pernah terjadi.
__ADS_1