
"Sayang," Edric mendekati tempat tidur dengan napas tersenggal-senggal. Ia berlari dari mobil sampai ke kamar.
Enteng kalau rumahnya hanya berukuran sepuluh meter persegi. Lah ini, mengelilingi mansion Hansel setara dengan jogging di lapangan bola.
Deandra terus menyebut namanya sambil mengerang kesakitan memegangi perut.
"Sweetheart," Edric naik ke atas tempat tidur. Bingung mau melakukan apa untuk mengurangi rasa sakit Deandra. Melihat obat yang tergeletak di atas nakas. Bisa dipastikan istrinya ini tidak mau meminumnya.
"Sayang," panggil Edric menepuk-nepuk pipi Deandra yang basah dengan air mata. "Sakit banget Sayang?" Tanyanya masih mengajak sang istri bicara.
"Edric," gumam Deandra membuka netranya. Tangannya memegang kuat tangan Edric saat perutnya terasa semakin nyeri.
"Ya Sayang, aku disini." Ditengah kebingungannya Edric menciumi perut Deandra, mengajak calon buah hatinya berkomunikasi. "Daddy disini Sayang. Tenang ya, jangan buat Mommy kesakitan." Pria itu menciumi perut sang istri sampai kontraksi yang Deandra alami mulai berkurang. Setelahnya Edric memeluk wanita tersayangnya.
"Maaf Sweetheart," lirih Edric sampai meneteskan air mata melihat sang istri kesakitan tanpa ada dirinya. Ia menyesal sudah meninggalkan Deandra malam ini yang membuatnya hampir terjebak bersama Alice.
"Ayang," kedua sudut bibir wanita itu melengkung ke atas. Memeluk Edric sangat erat, seakan tidak ingin berpisah jauh-jauh dari sang suami lagi. Melihat Edric ada di hadapannya dan baik-baik saja membuat hatinya lega.
"Maaf tidak menurut padamu Sayang," Edric membawa Deandra bangun dan menciumi seluruh wajahnya. Aksi itu disaksikan oleh kedua orang tuanya dan Jovie yang ada di sana. Ia berjanji akan selalu menurut pada istrinya tersayang ini, tidak akan membantah lagi.
"Ulat bulu nakal ya?" Tanya Deandra seperti bercanda yang diangguki Edric cepat. "Nanti aku cekik ulat bulu itu sampai perutnya mencret."
__ADS_1
Celotehan wanita hamil itu membuat Mom Linn dan Dad Harry yang tadi sangat mengkhawatirkan keadaannya jadi tertawa.
"Nanti aku tangkapin ulat bulunya buat kau cekik," Edric memeluk Deandra kembali. Bersyukur istrinya tidak mengamuk dan malah mengkhawatirkan keadaannya.
"I love you istriku sayang," bisik Edric sensual. Efek obat yang masih bereaksi dalam tubuhnya, membuat gairah Edric bangkit kembali saat memeluk dan mencium aroma tubuh Deandra.
"Edric jangan buat Dea kelelahan!!" Peringat Mom Linn mengajak sang suami dan Jovie untuk meninggalkan kamar pasangan itu. Membiarkan mereka saling melepas rindu. Padahal baru berpisah beberapa jam.
"Tidak bisa janji Mom," sahut Edric dengan cengiran tanpa melepaskan pelukannya.
Deandra meneliti seluruh wajah Edric sambil mengelus-elus rambutnya setelah semua orang pergi. Dan hanya tinggal mereka berdua di kamar. "Ulat bulu nempel disini?" Tanyanya saat meraba bibir sang suami.
Pria itu menggelengkan kepala, melabuhkan bibirnya pada sang istri. "Maaf Sayang," ucap Edric masih merasa bersalah. Entah tahu darimana istrinya ini kalau dia tadi bersama Alice, jadi selalu menyebutkan ulat bulu.
Membuat Edric speechless, malaikat apa yang sedang membisiki istrinya ini sampai tidak marah-marah dan cemburu lagi. Kalau biasanya hanya mendengar nama mantan nya saja sudah mengaum-ngaum. Apalagi tahu mereka saling bertemu.
"Aku tahu tanganmu ini kuat, kau bisa menghajar, meninju dan memukul orang. Tapi kau tetap akan kalah kalau orang menyerang kewarasanmu. Kau tahu, aku sangat mengkhawatirkanmu Edric. Aku khawatir kita tidak bisa melawan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga kecil kita." Ungkap Deandra, Edric terdiam mengelus-elus punggung sang istri yang sudah menangis lagi.
Entah dimana istrinya yang dulu angkuh, ketus dan judes. Semenjak hamil sudah tidak terlihat lagi Deandra yang arrogant. Wanitanya ini sudah mau menunjukkan dirinya tanpa berpura-pura kuat.
"Terimakasih sudah percaya dan mengkhawatirkan ku Sayang," Edric menangkup kedua pipi Deandra. Menghapus air mata yang masih berjatuhan.
__ADS_1
"Aku tidak suka melihat air matamu ini, tapi aku juga tidak suka kau memendam rasa sakit sendirian. Bahuku, pelukanku dan cintaku selalu ada untukmu saat kau membutuhkannya Sayang. Percayalah, hanya kau satu-satunya wanita yang ingin aku bahagiakan selain anak-anak kita."
"Love you Mr. Arrogant Ku," ucap Deandra sambil menyunggingkan senyum walau air matanya masih berceceran.
"Apa aku ini masih arrogant padamu, hem." Suami Deandra itu mengerutkan kening.
"Hei, kau tidak sadar." Gemas Deandra mencubit hidung Edric. "Kalau kau tidak arrogant akan menurut padaku. Sudah kubilang ulat bulu beracun dan tidak mempan dipawangi kau masih saja sok jagoan." Cerocosnya dengan bibir berkerut.
"Maafkan suamimu yang keras kepala ini Sayang, jangan diungkit-ungkit lagi." Kekeh Edric mengecup kening Deandra lama. Tapi sesaat kemudian tubuhnya mengalami tegangan tinggi.
Deandra dengan usil menyelipkan tangannya ke dalam pakaian Edric dan mengelus-elus di dada bidang sang suami.
"Sayang," rintih Edric yang sejak tadi sudah mencoba menahan diri. Dia ingin, tapi kondisi Deandra tidak memungkinkan karena baru saja mengalami kontraksi hebat.
"Ayo kita buang racun ulat bulunya," ajak Deandra dengan suka cita. Namun sang suami menolak dengan gelengan kepala.
"Nanti dedek protes lagi Sayang, aku tidak kuat melihat kau kesakitan." Edric lebih memilih menahan hasratnya daripada menyakiti dua orang yang sangat dicintainya ini.
"Tidak akan sakit Ayang, kan Daddy sudah ada disini." Wanita hamil itu tersenyum lalu melabuhkan bibirnya di bibir sang suami lebih dulu.
Tahu, Edric memerlukan itu karena baru saja digoda ulat bulu. Deandra tidak ingin Edric tersiksa dan malah melampiaskannya pada hal lain.
__ADS_1
"Terima kasih Sayang," ungkap Edric di sela-sela penyatuan bibirnya.
Di dunia ini tidak ada seorang istri yang sempurna. Begitu juga dirinya yang pasti memiliki banyak kekurangan di mata Deandra. Bagi Edric ketidaksempurnaan Deandra membuat hidupnya berwarna.